Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Februari 2017 | 15.35 WIB

Meyakini Makam Tan Malaka dari Sejarah, Tes DNA, dan Mimpi

RITUAL ADAT: Para niniak mamak dari Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, menuruni tangga sambil membawa tanah kubur Sutan Ibrahim alias Tan Malaka di lereng Gunung Wilis, Selopanggung, Kabupaten Kediri, Selasa (21/2). - Image

RITUAL ADAT: Para niniak mamak dari Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, menuruni tangga sambil membawa tanah kubur Sutan Ibrahim alias Tan Malaka di lereng Gunung Wilis, Selopanggung, Kabupaten Kediri, Selasa (21/2).



Ferizal menyebutkan, upacara itu bertajuk menjemput gelar pusaka pucuk adat Bunga Setangkai Kelaraan Suliki Wilayah Adat Rajo di Ranah Limapuluh Kota. Karena itulah, yang ikut dalam rombongan bukan hanya pejabat pemerintah daerah, tetapi juga 142 niniak mamak bersama masyarakat kaum Kabupaten Limapuluh Kota. ”Seratus persen mereka hadir di sini,” ujarnya saat memberikan sambutan. 



Rombongan dari Limapuluh Kota ke makam Selopanggung membawa baju kebesaran adat dan peti milik Tan Malaka yang disimpan ibunya. Sampai di pusara, dilakukan pembacaan doa oleh sesepuh adat. Kemudian, penobatan kepada keturunan ke-7 dilakukan dengan membuka baju kebesaran warna kuning yang lalu dikenakan kepada Hengky Novaron Asril, keponakan Tan Malaka. Baju itu melambangkan bahwa pemakainya seorang raja. Sebelum mengenakan baju kebesaran adat, Hengky mendoakan Sutan Ibrahim di dekat pusaranya. 



Setelah prosesi penobatan, beberapa perwakilan keluarga mengambil tanah di sekitar makam Tan Malaka, lalu memasukkannya ke peti berukuran 50 x 50 x 45 cm. Tanah tersebut selanjutnya dibawa ke tanah kelahiran Tan Malaka di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar. 



Dengan berakhirnya prosesi itu, gelar Sutan Ibrahim alias Tan Malaka sebagai raja ke-6 telah berpindah kepada Hengky Novaron Asril sebagai pemegang gelar raja ke-7. Dalam pertalian darah keluarga, Hengky adalah keponakan Tan Malaka. Dia berasal dari garis keturunan ibu Tan Malaka.



Ferizal menjelaskan, upacara penjemputan gelar Datuk Tan Malaka itu murni swadaya masyarakat. ”Pemkab Limapuluh Kota tidak menganggarkan sama sekali,” ucapnya. 



Pemindahan gelar Datuk Tan Malaka tersebut tidak dilakukan begitu saja. Ferizal merunut sejarah, setelah Tan Malaka dinyatakan meninggal, keluarga besar sudah berupaya mencari lokasi jasadnya. Upaya lain juga dilakukan dengan cara gaib melalui mimpi. Lalu, keyakinan jasad Tan Malaka di Desa Selopanggung juga tak terlepas dari peran sejarawan Belanda Harry A. Poeze. ”Dan yang terakhir adalah penggalian makam pada 2009 untuk dilakukan tes DNA,” ujarnya. 



Sejak ditetapkan lokasi jasad Tan Malaka di Selopanggung, hingga kini tidak ada yang menggugatnya. Hal itulah yang membuat Ferizal mewakili keluarga merasa yakin yang dimakamkan di sana adalah jasad Tan Malaka. ”Beberapa hari lalu kami sudah bertemu dengan dokter yang menguji tes DNA. Dia akan mengumumkan hasilnya secara resmi,” terangnya. 



Pihak keluarga juga sudah mendatangi makam Selopanggung pada 2007. Kemudian, pada 2009 makam dibongkar. Jenazah di dalamnya dites DNA. ”Berlanjut pada 2015, pusaranya direnovasi,” ucap Ferizal. 



Upaya keluarga dan pegiat Tan Malaka Institute (TMI) itu dia nilai sudah cukup kuat untuk memastikan bahwa jasad di makam tersebut adalah Sutan Ibrahim (Tan Malaka).



Ferizal juga mengungkapkan, hasil DNA 2009 menyebutkan, di antara 14 item yang diteliti, 9 item dianggap cocok dengan DNA keluarga Tan Malaka. Dia pun menganalogikan dengan nilai ujian. ”Kalau ada soal 14 yang benar 9, sudah pasti lolos dan naik tingkat,” katanya. 



Setelah penjemputan gelar secara adat, malamnya keluarga Tan Malaka juga mengadakan prosesi pengiriman doa di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. ”Mereka ini kan tamu. Mereka datang dan meminta bantuan untuk dilakukan haul bagi Tan Malaka di Ponpes Lirboyo,” terang O’ing Abdul Muid, pengasuh Ponpes Lirboyo. 



Lebih lanjut, Gus Muid –sapaannya– menjelaskan bahwa proses kirim doa dilaksanakan di makam pengasuh Ponpes Lirboyo, dipimpin Kiai Anwar Mansyur. Harapannya, dengan adanya kirim doa tersebut, Tan Malaka mendapatkan pahala dari doa-doa yang dikirimkan itu. ”Ya, seperti tahlil pada umumnya,” ujar Muid.



Haul dilaksanakan sekitar pukul 20.00 sampai 21.30. Doa bersama diikuti para santri ponpes dan rombongan dari Limapuluh Kota serta keluarga Tan Malaka. ”Meski Tan Malaka sudah dipindahkan, harapannya silaturahmi dengan Kabupaten Limapuluh Kota setelah ini tetap terjalin,” tuturnya. (ndr/*/ari)

Editor: Thomas Kukuh
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore