
KARYA INOVATIF: Dari kiri, Mamak Kurniawan, Tony Susanto, dan Ahmad Syaifudin Azhar menciptakan aplikasi The Profit Game untuk belajar bisnis.
Berada di puncak kesuksesan setelah 19 tahun berbisnis, rupanya, belum membuat Tony Susanto berpuas diri. Bukan karena caranya mengembangkan usaha hingga mencapai profit lebih besar. Namun, kewajibannya untuk membantu sesama yang menurutnya belum terpenuhi. Dari situlah dia mendapatkan ide membuat The Profit Game.
ANTIN IRSANTI
SENIN pagi itu (6/2), ditemani laptop dan beberapa minuman kemasan gelas, Tony Susanto menyambut Jawa Pos di kantornya yang unik. Ruangan di lantai 2 sebuah showroom mobil di Jalan Gayungsari Barat tersebut cukup minimalis. Namun, coretan di dinding dan penataan ruangan menunjukkan bahwa penghuninya adalah orang-orang yang kreatif. TS Corp terpampang di salah satu sisinya.
Begitu pula para karyawannya. Tidak ada yang terikat mengenakan seragam resmi dan celana kain. Pakaian yang dipakai mengekspresikan karakter masing-masing. Begitu juga Tony. Pagi itu dia mengenakan kaus putih berkerah dipadu celana jins biru. Santai tapi rapi. ’’Hai, selamat pagi,’’ sapanya dengan ramah.
Setelah memberikan salam hangat, dia langsung membuka laptop di mejanya. Sebentar mengutak-atik mencari sesuatu. Tidak sampai lima menit. ’’Nah, ini lho yang namanya The Profit Game,’’ ujar pria asli Sidoarjo itu sambil membalikkan layar laptopnya.
Di layar laptop berukuran 14 inci tersebut, tampak sebuah tampilan permainan mirip monopoli digital. Ada bangunan gedung-gedung, orang, dan kendaraan yang berlalu-lalang, serta beberapa area yang masih kosong. Di baris bawah, terdapat simbol-simbol yang menunjukkan perkembangan permainan yang telah dilakukan Tony. Di antaranya, jumlah konsumen, tingkat keberhasilan, jumlah pemasukan, jumlah pengeluaran, hingga laba kotor dan bersih.
Sangat berbau bisnis, ya? Tentu saja. Sebab, game tersebut merupakan simulasi bisnis dunia nyata. Namun, tidak seperti permainan simulasi biasa, user yang memainkan game itu bisa memperoleh modul terkait dengan cara-cara mencari peluang mengembangkan usaha. Admin memberikan panduan secara jelas dalam game. Selain itu, ada tambahan informasi melalui e-mail. ’’Kalau pakai business coach keluar uang jutaan rupiah, di sini kami kasih gratis,’’ kata Tony.
Ada tiga paket permainan yang bisa dipilih user. Mulai harga Rp 23 ribu, Rp 137 ribu, hingga Rp 249 ribu. Semua berisi modul-modul lengkap tentang panduan berbisnis. Harga hanya membedakan waktu pengiriman modul.
Saat ini baru ada 21 modul yang bisa diunduh pengguna The Profit Game. Ke depan, Tony menambah buku-buku panduan lainnya yang bisa diakses para penggunanya. Jika ada update terbaru, bakal diberikan.
Modul yang diberikan sebagai bonus game tersebut bukan modul sembarangan. Itulah panduan yang biasa diberikan seorang business coach kepada pebisnis yang menyewanya. Harga untuk satu modul tidak sebanding dengan uang yang dibayarkan user ketika memilih paket permainan. Di game tersebut, semua modul diberikan secara gratis.
Tony menjelaskan, sumber dana yang masuk nanti dikumpulkan. Kemudian, user yang membutuhkan suntikan modal bisa mengajukan melalui web yang telah disediakan dalam game.User hanya perlu memasukkan data-data yang diminta dan mengirimkan video tentang bisnis yang telah atau akan dijalankannya. Seluruh proposal yang masuk bakal diseleksi untuk mendapatkan dana bantuan.
Menurut Tony, besaran bantuan yang diberikan memang tidak banyak. Sebab, mereka menarget para pengusaha muda, UMKM, dan start-up yang modalnya kecil. Diharapkan, dia bisa membantu banyak orang dengan sumber dana tersebut. ’’Mirip crowdfunding, tapi ini dari user untuk user juga,’’ jelas pria kelahiran 27 April 1978 tersebut. Setelah cukup mampu, user bisa mengembalikan dana pinjaman sesuai dengan yang diberikan tanpa bunga.
Suami Yustina Nurinda itu mengungkapkan, dulu banyak orang datang yang mengeluh. Salah satunya tentang bisnis yang tidak kunjung balik modal. Padahal, dana operasional makin membengkak. Bahkan, beberapa hampir gulung tikar.
Melihat fenomena tersebut, muncul rasa iba dalam diri Tony. Dia prihatin terhadap nasib pebisnis kecil di Indonesia. Orang-orang yang seharusnya bisa merajai bisnis dalam negeri itu malah makin tergilas dengan kerasnya persaingan pasar.
’’Kalau saya kasih uang, itu tidak menyelesaikan masalah. Kalau saya kasih saran saja, itu juga belum cukup. Dari situ saya langsung putar otak mencari cara membantu mereka supaya bisa bangkit sendiri,’’ papar pria 39 tahun tersebut.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
