
ANAK-ANAK INOVATIF: Dari kiri, Bima Dwi Putra, Muhammad Muhaimin, dan M. Surya Ramadhan pada Rabu (8/2) menunjukkan piala, piagam, dan karya tulis mereka.
Banyaknya stok lumpur yang mengendap di rawa-rawa Sidoarjo membuat Muhammad Muhaimin, Bima Dwi Putra, dan M. Surya Ramadhan tergerak untuk menggali potensinya. Dari penelitian yang dilakukan, lahirlah karya tulis ilmiah. Karya perdana itu langsung menjadi juara tingkat Jatim.
FIRMA ZUHDI AL FAUZI
DI depan laboratorium farmasi SMK Plus NU Sidoarjo Rabu (7/2), Muhammad Muhaimin, Bima Dwi Putra, dan M. Surya Ramadhan menunjukkan laporan penelitiannya kepada Jawa Pos. Laporan bersampul hijau daun itulah yang mengantarkan ketiganya menjadi juara I dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat SMK/SMA/MA sederajat se-Jawa Timur yang diselenggarakan Universitas Trunojoyo, Madura, pada 23 Oktober 2016. Tema lomba adalah Peran Sains dan Teknologi dalam Meningkatkan Intelektual dan Prestasi Bangsa.
Sembari membuka lembar demi lembar laporan penelitian tadi, tiga siswa yang tergabung dalam kelompok ilmiah remaja (KIR) SMK Plus NU Sidoarjo itu menunjukkan poin-poin penting dalam penelitian mereka. Pada halaman pertama, mereka menunjukkan judul berhuruf besar yang ditulis tebal. Tertulis Inovasi Energi Alternatif Ramah Lingkungan, Inovasi Sumber Energi Alternatif Lumpur Rawa Secara Rangkaian Seri Sistem Microbial Fuel Cell.
’’Maksudnya, kami memanfaatkan lumpur rawa menjadi sumber energi listrik,’’ ujar Muhammad Muhaimin, sang ketua tim. Mereka memilih menggunakan lumpur rawa dengan alasan banyak rawa di Sidoarjo. Juga tambak. Namun, rawa tersebut selama ini hanya dimanfaatkan untuk pertanian dan perikanan.
Padahal, sepengetahuan mereka, lumpur di rawa-rawa Sidoarjo banyak mengandung mikroba jenis geobacter. Dengan pengolahan yang tepat, mikroba itu bisa menghasilkan energi listrik.’’Bukan lumpurnya yang berperan penting, tapi mikroba pada lumpur tersebut,’’ terang Muhaimin.
Mikroba tadi biasanya banyak tersimpan pada lumpur rawa bagian paling bawah. Bagian endapan lumpur yang umumnya berwarna hitam. Lumpur di permukaan yang cenderung berwarna keabu-abuan lebih sering hanya mengandung sedikit mikroba. ’’Yang bagian endapan itu lumpurnya padat seperti tanah, tidak lembek kayak yang di permukaan,’’ jelas remaja kelahiran Sidoarjo, 9 Mei 1999, tersebut.
Karena teksturnya lebih padat, cara mengambilnya tidak sulit. Hanya, butuh tenaga ekstra karena harus mengangkatnya dari dalam air. ’’Gampang kok, tinggal angkat pakai sekop, lalu dimasukkan ke wadah. Asyik juga sambil nyebur mainan air,’’ ungkap pelajar kelas XI Farmasi 1 itu.
Untuk mengubahnya menjadi tenaga listrik, mereka membuat alat yang disebut reaktor jembatan garam. Mirip reaktor pembangkit listrik bernama proton exchange membrane (PEM). Bedanya, alat buatan mereka lebih sederhana dan murah. Reaktor jembatan garam mereka buat dengan cara menyiapkan dua toples plastik bekas sosis. Satu toples diisi lumpur, satunya diisi cairan aquades. Lalu, bagian samping dua toples tadi dilubangi.
Fungsi lubang pada dua toples tersebut untuk memasukkan selang penghubung antar kedua toples. Selang penghubung tadi diisi dengan sumbu kompor yang direbus dengan air garam sampai mengkristal.’’Toples tadi ditutup. Lalu, tutupnya dilubangi untuk memasukkan kabel ke masing-masing toples yang berfungsi menyalurkan listrik,’’ terang Bima Dwi Putra.
Dengan demikian, ada dua kabel dari dua toples. Satunya sebagai kutub minus dan satunya plus. ’’Satu toples itu menghasilkan listrik 0,45 volt. Namun, kalau lumpurnya ditambahkan air gula, listrik yang dihasilkan bisa 0,6 volt,’’ jelasnya.
Mereka mendapatkan ide tersebut lantaran kerap menemukan informasi bahwa air jeruk nipis bisa menghasilkan listrik karena keasamannya. Dari situ, mereka berpikir selain jeruk pasti ada benda lain yang bisa menghasilkan listrik. ’’Karena di Sidoarjo banyak rawa, kami coba melihat kandungan di lumpur. Ternyata bisa digunakan untuk listrik,’’ terang siswa kelas X Farmasi 1 itu.
’’Kalau jeruk kan pasti boros karena bisa dibuat masakan. Harganya cenderung lebih mahal,’’ jelas Bima. Di sisi lain, selama ini belum ada yang memanfaatkan lumpur. Jumlahnya juga banyak. Terutama, di tambak wilayah timur Sidoarjo. ’’Konsep yang kami usung kan energi alternatif dari lingkungan sekitar yang jarang dilirik orang,’’ ujarnya.
Untuk membuat karya itu, mereka menghabiskan waktu sekitar sebulan. Mulai mengambil lumpur, merancang alat, uji coba, hingga latihan presentasi hasil karya mereka. ’’Setelah itu, sempat bingung presentasinya harus bagaimana. Sebab, itu penelitian pertama kami,’’ ucap remaja kelahiran Lumajang, 9 Mei 2001, tersebut.
Hampir setiap hari mereka belajar presentasi. Biasanya, mereka berlatih di kelas sepulang sekolah. Teman-teman mereka diajak untuk menjadi audiens yang melihat dan mendengarkan presentasi. Kadang, teman-teman mereka juga membantu mengevaluasi presentasi jika dirasa kurang menarik. ’’Kadang yang nonton ramai, kadang sepi,’’ ucapnya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
