
KOMUNIKATIF: Denok Marty Astuti (berdiri kiri) saat mencoba menggali komentar siswa SDN Mangkubumen Kidul 16 Surakarta tentang pengolahan sampah.
Punya posisi di pabrik motor terbesar di tanah air tidak membuat Denok Marty Astuti puas. Bermodal kecintaan pada dunia pengolahan sampah, dia memutuskan untuk resign. Demi berfokus mengurus sampah di kampung halamannya di Solo.
A NDRA NUR OKTAVIANI, Solo
DUDUK di posisi kepala subdepartemen salah satu perusahaan multinasional tentu bukan pencapaian yang mudah. Denok setidaknya membutuhkan waktu 10 tahun untuk sampai di posisi tersebut.
Karena itu, sangat banyak yang menyayangkan keputusannya untuk mundur dari perusahaan. Apalagi profesi selanjutnya adalah bergelut dengan sampah.
’’Saya mengajukan pengunduran diri sampai empat kali. Yang terakhir saya jelaskan bahwa di sini semua orang sudah pintar. Sekarang saya ingin membuat orang di luar sini pintar,’’ cerita Denok kepada Jawa Pos saat ditemui di rumahnya di kawasan Purwosari, Solo, Jumat (3/1).
Denok berkisah, keinginannya untuk mundur dari perusahaan setelah 12 tahun bekerja semakin kuat saat mendapat beasiswa ke Jepang pada 2013. Di Negeri Sakura itu, dia belajar banyak tentang pengolahan sampah.
Dia pun semakin ingin menerapkan ilmu yang baru didapatnya itu di tanah air. Namun, hal tersebut tidak mungkin terlaksana jika dikerjakan setengah hati.
’’Kalau hanya Sabtu-Minggu pas libur, tidak akan berhasil. Jadi, saya putuskan untuk keluar. Per Desember 2014, saya mundur,’’ ungkap perempuan kelahiran 4 April 1978 itu.
Setelah resign, Denok memilih untuk pulang kampung. Ekonomi menjadi alasan utamanya. Menurut dia, hidup di Jakarta tanpa pekerjaan bukanlah hal mudah. Sedangkan di Solo, Denok bisa berhemat. Di Solo, kata dia, Rp 3.000 saja sudah bisa dapat sebungkus nasi. Untuk tempat tinggal, dia juga tidak khawatir karena sudah punya rumah di kawasan Colomadu.
’’Nah, di Jakarta juga sudah banyak sekali pegiat lingkungan hidup. Tinggal percepatan warganya, sedangkan di Solo belum ada. Karena itu, saya pilih untuk pulang,’’ kata alumnus Universitas Indonesia itu.
Sesampai di Solo, Denok sempat bingung harus memulai dari mana. Penjara menjadi hal pertama yang terlintas dalam benak Denok. Dia melihat potensi sampah yang begitu besar di penjara. Dia membayangkan 600 narapidana akan menghasilkan banyak sampah dalam sehari.
Berdasar informasi yang didapat Denok, dalam sehari, rutan itu menghasilkan tiga pikap sampah. Sementara itu, mereka hanya memiliki sebuah pikap untuk mengangkut sampah-sampah tersebut ke TPA Putri Cempo.
’’Sisa makan mereka itu berapa banyak? Sehari mereka makan tiga kali. Sisanya yang jadi sampah pasti banyak sekali. Itulah pertimbangan pertama saya pilih penjara,’’ ungkapnya.
Tidak butuh waktu lama, tiga hari setelah pulang ke Solo, Denok langsung mendatangi Rutan Kelas I Solo. Tanpa ragu, dia menemui Karutan dan menjelaskan sampah yang dihasilkan rutan tersebut dalam sehari. Dia juga menjelaskan potensi sampah-sampah tersebut jika diolah menjadi pupuk. Mendengar penjelasan Denok, Karutan tertarik dan akhirnya membuat kontrak tertulis dengan Denok tepat pada Februari 2015.
’’Waktu itu, saya memang mengajukan sendiri. Tetapi, tetap harus melalui proses seleksi dan pengecekan sampai rumah. Jangan-jangan, saya bandar narkoba lagi,’’ tutur perempuan 38 tahun itu.

Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Analisis Prediksi Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Kans Besar Three Lions Lolos ke Semifinal!
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Tak Singgung Pengunduran Diri, Ini 6 Poin Pernyataan Jampidsus Febrie Adriansyah Usai Rumahnya Digeledah Polisi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: Tembok Tebal La Roja Bakal Sulitkan Setan Merah!
Rekor 12 Pertemuan Norwegia vs Inggris: Three Lions Superior, Mampukah Erling Haaland Cs Mematahkan Dominasi?
Sepak Bola Indonesia Berduka, Tokoh Suporter Persebaya Surabaya Andie Peci Meninggal Dunia
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
