Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 Januari 2017 | 04.09 WIB

Tiga Mahasiswa ITS Ciptakan LifePlus, Alat Bantu bagi Lansia

INOVASI: Dari kiri, Made Detya Dharma Yudha, Luthfi Fathurrahman, dan Natsir Hidayat Pratomo membuat alat LifePlus untuk membantu para lansia. - Image

INOVASI: Dari kiri, Made Detya Dharma Yudha, Luthfi Fathurrahman, dan Natsir Hidayat Pratomo membuat alat LifePlus untuk membantu para lansia.

Jatuh bangun. Frasa itu bukan kiasan belaka bagi tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini. Mereka benar-benar mengalami sendiri ketika berusaha menciptakan LifePlus. Yakni, teknologi yang memungkinkan lansia mendapatkan pertolongan secepatnya ketika jatuh.



ANTIN IRSANTI



BRUK! Bruk! Bruk! Tiga model jatuh ala manusia lanjut usia sudah diperagakan Natsir Hidayat Pratomo. Pinggangnya pun semakin sakit. Tapi, alat yang menempel di dadanya tidak kunjung mengeluarkan sinyal.


’’Cara jatuhmu salah, kali,’’ ujar Lutfi Faturrahman yang diikuti anggukan Made Detya Dharma Yudha. Natsir pun berpikir sejenak sambil menimbang-nimbang lagi kecepatan jatuh yang sesuai. ’’Oke, aku ulang ya,’’ ucapnya seraya bersiap memperagakan adegan kakek tua yang hendak terjatuh.


Bruk satu. Masih belum ada tanda-tanda alat bekerja. Bruk dua. Hasilnya sama. Bruk tiga. Sepertinya ada yang salah dengan alat bernama LifePlus itu. Natsir semakin tidak tahan. Pinggangnya cenut-cenut, sepertinya memar. Dilepasnya alat yang sejak tadi merekat kuat di kausnya tersebut. Dibolak-baliknya kemudian. ’’Yaelah, ternyata belum di-switch ke tombol on,’’ teriaknya sambil cengar-cengir kesakitan.


Hahaha. Tawa kedua kawannya pun membahana. Bukan hanya ekspresi kekesalan Natsir yang membuat lucu, tetapi juga ketidaktelitian mereka sehingga pada uji coba kali ini tak kesampaian hasilnya. ’’Ya sudah, istirahat dulu. Nanti dicoba lagi ya,’’ kata Lutfi, masih menahan tawa.


Hal itu tidak hanya sekali terjadi. Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut beberapa kali mengalaminya. Selain lupa membuka sakelar on, terkadang kegagalan uji coba disebabkan peranti terlepas. Atau, kehabisan daya baterai. Ujung-ujungnya, Natsir menjadi korban dan dua temannya mendapat hiburan.


Ya, Natsir memang satu-satunya pemeraga cara jatuh lansia. Sebab, kaus yang didesain untuk dipasangi alat LifePlus paling pas dengan ukuran tubuhnya. Dua temannya tidak mungkin cukup. Pakaian itu terlalu kecil di badan Lutfi dan kebesaran di badan Detya. ’’Nggak apa-apa, sudah profesional, kok,’’ kata Natsir, menghibur diri.


Dalam pengambilan data, Natsir harus memperagakan lima gerakan jatuh dari masing-masing posisi. Ada berdiri ke jatuh, duduk lalu jatuh, berdiri duduk, dan duduk ke tidur. Dengan begitu, total ada 20 cara jatuh yang dilakukan.


Tapi, pada kenyataannya, dia tidak hanya 20 kali jatuh. Bahkan berkali-kali sampai tak terhitung lagi. Sebab, pada prosesnya ada saja halangan yang menimpa sehingga tidak mulus sesuai aturan pengambilan data pada umumnya.


Namun, pengorbanan itu tidak sia-sia. LifePlus kini sudah bisa diaplikasikan. Bahkan, terus dikembangkan agar semakin sempurna. Bentuknya pun semakin kecil sehingga lebih mudah digunakan dan tidak mengganggu lansia yang memakainya. Sebab, alat harus dipasang di dada sebagai pusat keseimbangan. Kalau terlalu besar, tentu berat dan tidak nyaman.


Lutfi menceritakan awal mula mereka membuat alat LifePlus. Sebagai mahasiswa tingkat akhir di jurusan teknik fisika, dia ingin membuat satu alat yang bermanfaat sebelum pendidikan sarjananya berakhir. Karena itu, dia mengajak dua kawannya, yakni Natsir dan Detya, untuk menciptakan alat orisinal buatan mereka. ’’Itung-itung mengisi waktu luang juga biar nggak kuliah-pulang-kuliah-pulang saja,’’ ungkap laki-laki asal Semarang, Jawa Tengah, tersebut.


Awalnya mereka ingin membuat alat yang bisa menyimpan data kesehatan. Tapi, lama-lama ide itu semakin berkembang. Hingga akhirnya, tercetus pembuatan alat bernama LifePlus. Gunanya, mendeteksi lansia yang terjatuh dan memungkinkan perawat atau penjaganya tahu lebih cepat sehingga bisa segera tertolong.


Ide membuat LifePlus berasal dari pengalaman pribadi Natsir. Dia bercerita bahwa kakeknya merupakan orang yang giat bekerja meski usia semakin senja. Suatu ketika, kakeknya terjatuh dan tidak ada orang yang tahu hingga beberapa jam. Ketika ditemukan dan dibawa ke rumah sakit, sang kakek divonis dokter telah mengalami kelumpuhan. ’’Dan, ternyata setelah kami cek data di rumah sakit dan panti jompo, kasus serupa sering terjadi,’’ terangnya.


Karena itu, tiga mahasiswa tersebut mengajukan proposal dana bantuan program kreativitas mahasiswa (PKM) dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Ditjen Dikti November 2015. Rupanya, proposal mereka lolos dan berhasil mendapatkan dana penelitian Rp 7 juta.


Penelitian dan perakitan alat berlangsung pada Januari hingga Mei 2016. Mereka juga dibimbing Arief Abdurakhman, dosen jurusan teknik fisika. Awalnya mereka menggunakan sensor detak jantung dan sensor jatuh untuk menunjang alat. Rupanya, sensor detak jantung tidak terlalu berguna. Akhirnya pada prototipe kedua, mereka hanya berfokus pada sensor jatuh.


Pengolahan datanya menggunakan pengendali mikro single-board Arduino. Mereka memasukkan data-data kecepatan jatuh rata-rata lansia parsial. Yakni, para orang tua yang ditetapkan dokter memiliki kemungkinan jatuh antara 20–70 persen karena berbagai faktor. Kode-kode dimasukkan hingga alat bisa mendeteksi sesuai dengan yang mereka inginkan.


Cara kerjanya cukup mudah. Tiga mahasiswa tersebut membuat aplikasi berbasis Android untuk mengatur penggunaan alat. Di dalam aplikasi itu, dimasukkan nomor telepon genggam perawat atau penjaga sang lansia. Ketika lansia terjatuh, alat otomatis mengirimkan sinyal ke aplikasi Android. Selanjutnya, aplikasi tersebut mengirimkan pesan berbentuk SMS (short message service) ke nomor yang telah ditentukan tadi. ’’Alat kami sudah bisa mengirimkan lokasi tepatnya lansia jatuh, jadi bisa segera tertolong,’’ imbuh Detya.


Tidak hanya dicoba sendiri, alat itu juga diujicobakan kepada para penghuni UPTD Griya Wreda Rungkut. Kerja keras tersebut menghasilkan juara pertama dalam Public Health Competition 2016 di Universitas Negeri Jember. Juga, juara III dalam event nasional serupa di Universitas Airlangga.


Saat ini aplikasi dan alat LifePlus masih menggunakan bluetooth sebagai penghubung sehingga jaraknya hanya 10 meter. Ke depan, para mahasiswa itu mengembangkannya dengan wifi atau penghubung nirkabel lainnya agar jarak tempuhnya bisa mencapai kilometer.


Pengembangan lain yang sedang dilakukan adalah memasukkan artificial intelligence (kecerdasan buatan) pada alatnya. Dengan begitu, bukan hanya kecepatan jatuh lansia yang bisa terdeteksi, tetapi juga pasien rehab medik lain yang tidak selalu dari kalangan manula. ’’Karena kecepatan jatuh antara lansia, anak muda, dan dewasa berbeda-beda,’’ tutur Detya.



Tiga mahasiswa itu berharap alat mereka bisa diterapkan lebih lanjut. Setelah alat disempurnakan, mereka berencana menawarkannya kepada pemerintah atau instansi kesehatan untuk menjalin kerja sama. Apalagi, alat yang mereka buat cukup terjangkau. ’’Syukur-syukur bisa dilirik perusahaan IT dan kami diajak bekerja sama, hehehe,’’ harapnya. (*/c7/dos/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore