
KENANGAN KAMPUNg HALAMAN: Bambang Tjahjadi dan salah satu lukisannya.
Jika ditekuni, hal apa pun yang dilakukan bisa membuahkan hasil. Termasuk kepuasan pada diri. Itulah yang dilakukan Prof Bambang Tjahjadi saat melukis. Selain mengisi waktu, melukis juga menjadi pereda stres.
PUJI TYASARI, Surabaya
LUKISAN yang dipajang di Aula Fadjar Notonagoro, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga itu belum cukup kering. Cat minyak yang digoreskan pada kanvas berukuran 30 x 30 cm tersebut masih basah. Lukisan itu juga belum sepenuhnya tuntas. Masih ada bagian kanvas yang berwarna putih di bagian sudut kanan bawah yang butuh dipoles cat minyak.
Prof Bambang Tjahjadi lalu menuntaskannya. Dengan cekatan, dia mencelupkan ujung sebuah lidi pada mulut botol cat minyak. Sebentar dia mencelupkan lidi pada cat minyak berwarna kuning. Setelah cukup puas, laki-laki yang konsisten berjarit batik itu lalu mencelupkan lidi warna hijau. Dengan telaten, laki-laki tersebut mewarnai bagian yang masih kosong.
Ya, akhir-akhir ini, Bambang sedang asyik dengan hobinya melukis dengan menggunakan lidi. Sebenarnya, sudah lama dia suka melukis. Awalnya, dia suka menggambar saat duduk di bangku mahasiswa. Kebiasaan itu ternyata masih berlanjut hingga saat ini. Namun, tidak lagi menggambar, melainkan melukis. ”Mahasiswa banyak waktu luang, saya belajar menggambar,” katanya saat dijumpai beberapa waktu lalu.
Di dunia seni lukis, ada dua tokoh yang dikagumi. Yakni, maestro Affandi dan Basuki Abdullah. Di mata Bambang, lukisan Affandi sangat unik. ”Lukisannya bertekstur dan abstrak,” katanya. Penikmat seni tidak hanya melihat lukisan Affandi sebagai lukisan dengan gaya ekspresionis dan romantis. Tapi, terasa bentuk kekuatan tekanan dan goresan lukisan tersebut. ”Bukan sekadar corat-coret,” katanya.
Sedangkan maestro Basuki Abdullah, kata Bambang, adalah pelukis aliran naturalis dan realis yang sangat disegani. ”Lukisannya nyaris seperti orang beneran, bahkan yang terlihat malah lebih ngganteng,” tuturnya. Terinspirasi dari dua maestro itu, Bambang lantas berupaya memadukan kedua aliran dari dua maestro tersebut. ”Naturalis tapi sekaligus ada teksturnya,” jelasnya.
Metode pun tercipta. Untuk memunculkan hasil lukisan yang diinginkan, Bambang mencoba berinovasi. Jika menggunakan kuas saja, hasilnya terlalu halus. Karena itu, dia mencoba sesuatu yang lain. Lidi pun tebersit dalam benaknya. ”Dengan lidi, hasilnya bisa kombinasi, halus dan kasar,” katanya.
Koordinator Program Studi S-3 Ilmu Akuntansi Unair itu sudah lama suka melukis. Hanya, baru 2016 dia lebih produktif. Setidaknya, dalam dua pekan sekali ada karya lukis yang dihasilkannya. Kini sudah terkumpul 15 karya lukis. ”Paling tidak ada 30 karya, penginnya bisa membuat pameran tunggal,” tuturnya.
Objek lukisannya pun beragam. Salah satu lukisannya adalah kapal di tengah lautan yang sedang bergelombang hebat. Laki-laki asal Probolinggo itu memang terinspirasi dari lautan di daerah asalnya. Ada juga lukisan tentang bunga. Kaligrafi menjadi tema baru yang sudah dicobanya. Lukisan bertema kaligrafis itulah yang coba diselesaikannya di Aula Fadjar Notonagoro.
Lukisan dengan kata Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) dalam bahasa Arab itu didedikasikan untuk charity anak-anak penderita kanker di RSUD dr Soetomo. Menurut dia, anak-anak harus tetap semangat. Sakit yang diderita jangan dianggap sebagai hukuman. Melainkan bentuk kasih sayang Tuhan.
Bambang mengungkapkan, dirinya juga pernah menderita kanker. Tepatnya, kanker kolon atau kanker usus besar. Itu dialaminya sekitar 2011. ”Setahun lebih, berat sekali. Saya menyadari karena saya mengalami,” katanya.
Menurut dia, ketika dihadapkan pada cobaan, salah satu jalan penyembuhan adalah harus ikhlas menerima cobaan atas sakit yang diderita. Jiwa harus sabar, tawakal, dan ikhlas. Jika jiwanya sudah ditata dengan berbaik sangka kepada Tuhan, kata dia, kondisi itu bisa memengaruhi pikiran. Tidak perlu marah-marah. Tidak perlu mempertanyakan kenapa diri yang harus mendapat cobaan itu. ”Karena bisa membuat kondisi drop,” jelasnya.
Jiwa yang ditata dengan berbaik sangka itulah yang bisa membuat pikiran jernih. Pikiran positif itu pun berdampak pada daya tahan tubuh saat berperang melawan penyakit. ”Dengan kemo, itu termasuk jihad. Bodinya harus kuat,” tuturnya.
Setiap orang, imbuh dia, punya bibit sel kanker dalam tubuh. Sewaktu-waktu bisa tumbuh. Tinggal gaya hidup yang harus dijaga agar tidak memicu tumbuhnya sel kanker dalam tubuh. Melihat ratusan antrean orang yang berobat di RSUD dr Soetomo membuatnya trenyuh. Karena itulah, gaya hidup harus dijaga demi menjaga tubuh yang sehat. ”Butuh soul and mind yang sehat,” jelasnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
