Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Juli 2017 | 10.56 WIB

Kisah-Kisah di Balik Beroperasinya Command Center (CC) 112 Surabaya

MENUNGGU KONTAK: Dari kiri, Muhammad Ardiansyah Putra Panjaitan, Dimas Andrianto, dan Bambang Bastiawan sedang bekerja di ruang Command Center 112 gedung Siola. - Image

MENUNGGU KONTAK: Dari kiri, Muhammad Ardiansyah Putra Panjaitan, Dimas Andrianto, dan Bambang Bastiawan sedang bekerja di ruang Command Center 112 gedung Siola.


Layanan tanggap darurat Command Center (CC) 112 diresmikan Pemkot Surabaya pada 26 Juli 2016. Setelah setahun beroperasi, beragam cerita mengiringi. Mulai penyelamatan binatang, penelepon yang menggoda petugas, hingga warga yang memprotes karena paket internetnya tidak bisa dipakai.





SALMAN MUHIDDIN, Surabaya





KOORDINATOR Regu 1 CC 112 Muhammad Ardiansyah Putra Panjaitan bertugas sejak hari pertama CC 112 beroperasi. Dia bergabung di tim perlindungan masyarakat (linmas). Tugasnya adalah mengamati layar komputer sambil menunggu laporan masyarakat masuk. Headphone di telinganya tidak boleh terlepas saat bertugas. Sebab, sebagai petugas, dia harus senantiasa berjaga. Siapa tahu ada pengaduan darurat yang masuk. Agar tidak lengah, sesekali dia juga memandangi puluhan monitor yang menempel di dinding ruangan serbaputih itu. Layar tersebut menampilkan rekaman closed circuit television (CCTV) yang terpasang di berbagai titik jalanan Surabaya.



Ya, itulah gambaran suasana CC room. Letaknya di lantai 2 gedung Siola. Jawa Pos menemui Ardi pada Kamis (13/7). Selain linmas, ada petugas dishub, dinkes, PMK, DKP, satpol PP, PMI, basarnas, dan kepolisian yang ditugaskan di sana. Mereka tampak sibuk menerima aduan. ’’Sedang ada kebakaran alang-alang,” ujar pemuda 24 tahun tersebut.



Di ruangan itu, suara riuh petugas bersahut-sahutan. Maklum, penanganan kebakaran tidak semata merupakan tugas PMK. Petugas linmas di CC room pun menghubungi linmas yang ada di lapangan. Mereka harus bergerak cepat untuk menangani kebakaran. Jangan sampai penanganan terhambat kerumunan warga. Petugas PMI dan dinkes juga disiagakan. Siapa tahu ada korban dalam peristiwa itu.



Begitulah keseharian di CC room. Petugas menghadapi beragam pengaduan. Apa pun jenisnya. ”Saya pernah dikerjai bocah,” kata Ardi yang membuka perbincangan. Sambil bercerita, Ardi tetap memantau layar smartphone-nya. Cerita tentang bocah tersebut agak terputus. Sebab, sebagai koordinator regu, dia juga harus memantau situasi kebakaran. Sebentar kemudian, informasi masuk ke ponsel pintarnya. Kebakaran ternyata tidak terlalu besar. Dia melanjutkan cerita.



Menurut Ardi, peristiwa tersebut terjadi saat awal-awal CC room berdiri. Seorang bocah laki-laki meneleponnya. Ketika itu dia mengira ada situasi darurat. Dalam benaknya, bocah tersebut diculik atau ada kejadian darurat lainnya.



Namun, kekhawatiran itu hilang setelah bocah tersebut mengutarakan maksudnya. Dia menelepon hanya untuk meminta akun clash of clans (COC). Itu adalah game strategi yang bisa dimainkan di smartphone. Game tersebut bercerita tenang pertarungan antar-clan pada masa lalu. ”Pak minta akun COC ada nggak? Maaf adik, ini khusus layanan darurat. Jangan telepon lagi ya,” kata Ardi.



Telepon pun ditutup. Tak lama kemudian, ada panggilan masuk lagi. Ternyata bocah yang sama menelepon. Kendati begitu, petugas tetap tidak bisa menolaknya. Sebab, panggilan terangkat secara otomatis setelah tiga kali deringan.



Menurut Ardi, bocah tersebut menelepon lebih dari 10 kali. Pada kondisi itu, petugas CC 112 tidak boleh emosional. Harus sabar. Ardi hanya bisa mengelus dada. Si bocah masih ngeyel. Pokoknya, dia tetep menelepon sampai diberi akun COC.



Kesabaran Ardi akhirnya berhasil dijebol si bocah. Namun, kejengkelannya tidak bisa disalurkan lewat sambungan telepon CC 112. Dia mencatat nomor telepon anak tersebut, lalu menelepon balik dengan memakai ponsel pribadinya. Diangkat. ’’Dik, mamamu endi (mana, Red)?” ujarnya tanpa basa-basi.



Si bocah pun ketakutan. Ponsel tersebut akhirnya diberikan ke ibunya. Kepada petugas, ibu bocah tadi meminta maaf karena keusilan anaknya. Untung, hingga kini bocah itu tidak menghubungi 112 lagi.



Yang dewasa juga sama saja. Petugas CC sering digoda penelepon. Tujuan mereka hanya meminta kenalan. Penelepon menganggap bahwa layanan telepon 112 itu biro jodoh. Yang ini macam-macam orang. Ada yang masih remaja. Ada yang sudah beranak dua.



Ada pula yang curhat baru diputus pacar. Sama dengan bocah tadi, mereka tetap menelepon meski sambungan diputus. Yang seperti itu dianggap mengganggu. Kalau ditanggapi, bisa-bisa telepon yang benar-benar darurat tidak terlayani. Karena itu, petugas harus bersabar menanggapi orang-orang usil.



Ardi juga sering menerima telepon salah sambung. Tiba-tiba dia dimarahi. Kebanyakan penelepon mengomel karena pulsa dan paket internet yang dibeli tidak bisa dipakai. Bahkan, saking marahnya penelepon, sampai-sampai petugas CC 112 tidak bisa memotong pembicaraan. Mereka harus menunggu penelepon yang marah-marah itu berhenti mengomel. ”Maaf, Ibu. Ini layanan darurat Pemkot Surabaya. Bukan aduan provider,” jelasnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore