
PAKAR BAHASA: Luita Aribowo saat ditemui di ruang dosen sastra Indonesia FIB Universitas Airlangga Surabaya.
Ilmu linguistik harus berguna dan diterapkan untuk sesama. Begitu prinsip yang dipegang Luita Aribowo. Melalui pendekatan neurolinguistik, Luita membuktikan bahwa ilmu bahasa bukan sekadar kajian diskusi. Ia juga bisa diimplementasikan.
EDI SUSILO , Surabaya
DI ruang dosen Sastra Indonesia Universitas Airlangga (Unair), Luita Aribowo tampak asyik dengan laptopnya. Di meja berukuran 75 x 50 sentimeter itu, tumpukan berkas berupa makalah, esai, dan laporan mingguan terlihat berserakan.
”Maaf berantakan. Ini tugas mahasiswa yang belum sempat saya nilai dan sedang dikoreksi,” ungkap Luita.
Di antara tumpukan berkas tersebut, terlihat tiga karya akademik tebal. Sebentuk hard copy berukuran kertas A4. Dua karya berwarna merah, satu karya berwarna putih. Ketiganya merupakan karya Luita saat menempuh jenjang S-1 hingga S-3. Tiga karya tersebut membahas semua hal yang terkait dengan bidang konsentrasi yang digelutinya sejak 1995. Neurolinguistik. Cabang ilmu yang mengkaji hubungan antara otak manusia dan bahasa.
Lelaki kelahiran 8 Mei 1971 itu menuturkan, neurolinguistik memang jarang terdengar dalam kajian bahasa. Ia termasuk salah satu cabang ilmu yang sepi peminat. Meski begitu, peran neurolinguistik dalam terapi keberbahasaan cukup besar. Terutama bagi individu yang mengalami gangguan berbahasa pada otak.
Pembuktian manfaat ilmu neurolinguistik itu, salah satunya, diterapkannya dalam mengkaji gaya berbahasa penderita stroke. Penyakit yang disebabkan kerusakan sebagian saraf otak. Stroke membuat penderitanya sulit berkomunikasi dan memahami makna bahasa. ”Kesulitan berbahasa itu disebut afasia,” jelas penghobi masak itu.
Dalam disertasinya yang berjudul Gangguan Produksi Bunyi Penderita Afasia karena Stroke, Luita menyebutkan bahwa penderita stroke memang serbadilematis. Karena kondisi saraf pada otak mengalami gangguan, komunikasi penderita menjadi tidak lancar.
Ada dua jenis afasia (gangguan) bahasa yang sering dialami penderita stroke. Yakni, sulit mengucapkan kata atau afasia motorik dan sulit memahami bahasa atau afasia sensorik.
Kondisi itu kerap membuat penderita stroke dan keluarganya salah paham. Pada afasia motorik, misalnya. Sebagian tubuh penderita stroke sulit digerakkan. Mulut juga susah diajak berkomunikasi. Karena itu, keluarga sulit memahami maksud penderita stroke. Akibatnya, orang yang stroke sering marah-marah lantaran permintaannya tidak dituruti.
”Padahal, kalau mereka marah-marah, tensi bisa naik. Nah, orang stroke kan ndak boleh sampai tensi darahnya naik,” tutur pria kelahiran kota lumpia, Semarang, itu.
Melihat kondisi tersebut, putra pasangan Yohanes Rasul Sumadi-Sisilia Sumiyati itu merasa tergerak. Dengan pendekatan neurolinguistik, Luita mulai meneliti.
Dia terjun ke Departemen SMF Ilmu Penyakit Saraf RSUD dr Soetomo. Di rumah sakit tersebut, Luita berhasil meneliti 46 pasien stroke. ”Ini kelebihan memilih RSUD dr Soetomo. Pasiennya banyak dan berasal dari berbagai daerah,” jelasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
