
TELATEN: Yoga Pratama bersiap sebelum melakukan pemeriksaan sapi, Rabu (30/11), di tempat parkir sapi samping RPH Pegirian.
Sebenarnya ada tiga dokter hewan di Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian. Namun, sekarang tinggal Yoga Pratama yang bertahan. Jam kerja yang tidak normal dan lingkungan keras membuat kawan-kawannya mundur hanya dalam hitungan bulan.
TAUFIQURRAHMAN
YOGA harus selalu menajamkan penglihatannya sejak tengah malam hingga dini hari. Sebab, saat itulah sapi-sapi masuk ke RPH Pegirian.
Instingnya harus senantiasa terasah untuk mengendus sapi penyakitan atau produktif di antara puluhan ekor sapi. Sudah hampir dua tahun ini Yoga bekerja sendirian.
’’Semua bergantung insting, tidak mungkin kita periksa satu per satu sapi yang masuk,’’ kata Yoga, Rabu (30/11) siang. Yoga bertugas memeriksa sapi yang ditambatkan di lapangan luas di samping RPH Pegirian.
Tepatnya, di Jalan Arimbi, Sidotopo. Jam dinas Yoga sebenarnya malam hari. Tetapi, dia sengaja bergerak acak, baik dalam pemilihan sapi maupun jadwal pemeriksaan.
Tujuannya, agar tidak dikibuli jagal. Atribut Yoga hanya masker dan sarung tangan plastik. Begitu tiba di kandang, dia segera menuju ke salah satu sapi yang hendak diperiksa.
Lulusan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga itu sama sekali tidak risi memasukkan tangannya ke anus sapi. Bahkan, hampir separo lengannya amblas.
Pemeriksaan dengan cara tersebut dilakukan untuk mengetahui si sapi bunting atau tidak. Tangan seorang dokter hewan harus sampai pada rahim sapi untuk memastikannya.
Hanya dengan menyetuh rahim, dokter hewan bisa memastikan sapi tersebut bunting atau tidak. Agar tidak mengganggu, feses si sapi harus dikeluarkan dulu.
Yoga pun berkali-kali memasukkan tangannya dan mengeluarkan feses seperti menguras bak mandi. ’’Pemeriksaan intensif biasanya butuh 10–15 menit,’’ ucap Yoga sambil mengelap keringat.
Banyak tenaga yang harus dikeluarkan untuk pemeriksaan seperti itu. Saat satu tangan masuk, tangan lainnya harus memegang kuat-kuat sapi yang berontak.
Setiap hari Yoga berangkat dari rumahnya di Lidah Wetan sekitar pukul 23.30. Dia meluncur di jalanan lengang Surabaya menuju RPH Pegirian. Jaraknya mencapai belasan kilometer.
Dia bertugas mulai tengah malam hingga fajar. Saat azan Subuh berkumandang, dia baru meluncur pulang. ’’Kalau capek, cari masjid, lalu tidur,’’ tuturnya.
Tugas Yoga tidak hanya mengecek RPH Pegirian, tetapi juga mengawasi RPH Kedurus. Satu malam kadang dia pergi ke Pegirian, malam selanjutnya di RPH Kedurus.
Dua RPH itu sama-sama berjarak satu jam dari rumah Yoga. Tidak ada jadwal khusus. Pokoknya, jadwalnya acak agar para jagal tidak seenaknya.
Tentu saja, Yoga adalah satu-satunya pemegang ’’kunci’’ agar sapi yang dibeli jagal bisa masuk RPH. Setiap malam dia berdiri di gerbang tempat masuknya sapi.
Dia memandangi sapi-sapi yang masuk. Kalau ada yang mencurigakan, dia akan ’’menilang’’ dan membawa si sapi ke tempat khusus untuk diperiksa.
Banyak sapi yang gagal dipotong gara-gara disetop oleh Yoga. Bagi seorang jagal, batalnya pemotongan satu sapi saja merupakan kerugian besar.
Mereka sudah telanjur membeli, tetapi tidak bisa dijual, malah ketiban kewajiban untuk memelihara. Namun, aturan tetap aturan. Pria kelahiran 30 Januari 1991 tersebut berusaha tetap konsisten terhadap tugasnya.
Kalau tidak layak potong, badan sapi akan ditandai dengan cat khusus. Pokoknya, sapi itu tidak boleh masuk. Kadang Yoga juga mendapatkan resistensi dari para jagal.
Itu adalah bagian tersulit dari menjadi seorang dokter pengawas RPH. Yoga harus berani tegas. Dia pun mengaku berani saja membentak jagal yang memaksa memasukkan sapi tidak layak potong.
’’Itu sebenarnya idealisme kita, kalau tidak boleh ya harus berani tegas,’’ jelasnya. Untunglah, Yoga tidak sendirian. Ada personel dari Polsek Semampir bernama Mulyadi yang dengan sukarela menemani.
Selain mendapatkan tantangan berhadapan dengan para jagal, Yoga kadang digoda menggunakan cara halus. Misalnya, diminta memberikan izin sapi sebelum masuk RPH ataupun berupa sogokan uang.
Yoga dengan tegas menolak meski gajinya di bawah rata-rata upah minimum kota (UMK) Surabaya. ’’Saya berusaha profesional saja,’’ ungkapnya. (*/c20/oni/sep/JPG)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
