Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Desember 2016 | 02.04 WIB

Yoga Pratama, Satu-satunya Dokter Hewan yang Bertahan di RPH Pegirian

TELATEN: Yoga Pratama bersiap sebelum melakukan pemeriksaan sapi, Rabu (30/11), di tempat parkir sapi samping RPH Pegirian. - Image

TELATEN: Yoga Pratama bersiap sebelum melakukan pemeriksaan sapi, Rabu (30/11), di tempat parkir sapi samping RPH Pegirian.

Sebenarnya ada tiga dokter hewan di Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian. Namun, sekarang tinggal Yoga Pratama yang bertahan. Jam kerja yang tidak normal dan lingkungan keras membuat kawan-kawannya mundur hanya dalam hitungan bulan.





TAUFIQURRAHMAN





YOGA harus selalu menajamkan penglihatannya sejak tengah malam hingga dini hari. Sebab, saat itulah sapi-sapi masuk ke RPH Pegirian.



Instingnya harus senantiasa terasah untuk mengendus sapi penyakitan atau produktif di antara puluhan ekor sapi. Sudah hampir dua tahun ini Yoga bekerja sendirian.



’’Semua bergantung insting, tidak mungkin kita periksa satu per satu sapi yang masuk,’’ kata Yoga, Rabu (30/11) siang. Yoga bertugas memeriksa sapi yang ditambatkan di lapangan luas di samping RPH Pegirian.



Tepatnya, di Jalan Arimbi, Sidotopo. Jam dinas Yoga sebenarnya malam hari. Tetapi, dia sengaja bergerak acak, baik dalam pemilihan sapi maupun jadwal pemeriksaan.



Tujuannya, agar tidak dikibuli jagal. Atribut Yoga hanya masker dan sarung tangan plastik. Begitu tiba di kandang, dia segera menuju ke salah satu sapi yang hendak diperiksa.



Lulusan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga itu sama sekali tidak risi memasukkan tangannya ke anus sapi. Bahkan, hampir separo lengannya amblas.



Pemeriksaan dengan cara tersebut dilakukan untuk mengetahui si sapi bunting atau tidak. Tangan seorang dokter hewan harus sampai pada rahim sapi untuk memastikannya.



Hanya dengan menyetuh rahim, dokter hewan bisa memastikan sapi tersebut bunting atau tidak. Agar tidak mengganggu, feses si sapi harus dikeluarkan dulu.



Yoga pun berkali-kali memasukkan tangannya dan mengeluarkan feses seperti menguras bak mandi. ’’Pemeriksaan intensif biasanya butuh 10–15 menit,’’ ucap Yoga sambil mengelap keringat.



Banyak tenaga yang harus dikeluarkan untuk pemeriksaan seperti itu. Saat satu tangan masuk, tangan lainnya harus memegang kuat-kuat sapi yang berontak.



Setiap hari Yoga berangkat dari rumahnya di Lidah Wetan sekitar pukul 23.30. Dia meluncur di jalanan lengang Surabaya menuju RPH Pegirian. Jaraknya mencapai belasan kilometer.



Dia bertugas mulai tengah malam hingga fajar. Saat azan Subuh berkumandang, dia baru meluncur pulang. ’’Kalau capek, cari masjid, lalu tidur,’’ tuturnya.



Tugas Yoga tidak hanya mengecek RPH Pegirian, tetapi juga mengawasi RPH Kedurus. Satu malam kadang dia pergi ke Pegirian, malam selanjutnya di RPH Kedurus.



Dua RPH itu sama-sama berjarak satu jam dari rumah Yoga. Tidak ada jadwal khusus. Pokoknya, jadwalnya acak agar para jagal tidak seenaknya.



Tentu saja, Yoga adalah satu-satunya pemegang ’’kunci’’ agar sapi yang dibeli jagal bisa masuk RPH. Setiap malam dia berdiri di gerbang tempat masuknya sapi.



Dia memandangi sapi-sapi yang masuk. Kalau ada yang mencurigakan, dia akan ’’menilang’’ dan membawa si sapi ke tempat khusus untuk diperiksa.



Banyak sapi yang gagal dipotong gara-gara disetop oleh Yoga. Bagi seorang jagal, batalnya pemotongan satu sapi saja merupakan kerugian besar.



Mereka sudah telanjur membeli, tetapi tidak bisa dijual, malah ketiban kewajiban untuk memelihara. Namun, aturan tetap aturan. Pria kelahiran 30 Januari 1991 tersebut berusaha tetap konsisten terhadap tugasnya.



Kalau tidak layak potong, badan sapi akan ditandai dengan cat khusus. Pokoknya, sapi itu tidak boleh masuk. Kadang Yoga juga mendapatkan resistensi dari para jagal.



Itu adalah bagian tersulit dari menjadi seorang dokter pengawas RPH. Yoga harus berani tegas. Dia pun mengaku berani saja membentak jagal yang memaksa memasukkan sapi tidak layak potong.



’’Itu sebenarnya idealisme kita, kalau tidak boleh ya harus berani tegas,’’ jelasnya. Untunglah, Yoga tidak sendirian. Ada personel dari Polsek Semampir bernama Mulyadi yang dengan sukarela menemani.



Selain mendapatkan tantangan berhadapan dengan para jagal, Yoga kadang digoda menggunakan cara halus. Misalnya, diminta memberikan izin sapi sebelum masuk RPH ataupun berupa sogokan uang.



Yoga dengan tegas menolak meski gajinya di bawah rata-rata upah minimum kota (UMK) Surabaya. ’’Saya berusaha profesional saja,’’ ungkapnya. (*/c20/oni/sep/JPG)

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore