
TUNGGU BUKU KELIMA: Ida Ayu Pradwita Nashanti menunjukkan antologi cerpen dan komik yang ditulisnya sejak kelas III SD.
Baru duduk di bangku kelas VIII SMP sudah mempunyai lima antologi cerpen dan komik. Selain itu, Ida Ayu Pradwita Nashanti dikenal dari prestasinya di berbagai kompetisi matematika.
LINTANG ANIS BENA K, Jember
IDA Ayu Pradwita Nashanti mempunyai ide segudang. Ide itu ditulisnya menjadi cerpen dan novel, bahkan digambarkan menjadi komik oleh salah satu penerbit nasional.
Gadis kecil berkacamata itu ternyata sudah mempunyai lima buku. Nasha –sapaan karib Ida Ayu Pradwita Nashanti– yang kini duduk di kelas VIII SMPN 3 Jember sudah menerbitkan empat buku di toko-toko buku besar.
Sementara itu, buku kelimanya masih berada pada proses cetak. Bahkan, salah satu toko buku terbesar di Jember memampangkan standing banner peluncuran buku keempatnya yang berupa komik detektif.
Terjunnya Nasha di dunia tulis-menulis sudah tidak menjadi hal baru. Gadis kelahiran 23 April 2003 tersebut menulis fiksi sejak duduk di bangku sekolah dasar.
”Waktu itu, yang ditulis hanya kegiatan di sekolah, lalu ditempel di mading (majalah dinding),” kenang Nasha saat ditemui di rumahnya di daerah Mastrip.
Sejak kecil, bungsu dari dua bersaudara tersebut memang sangat suka membaca buku. Terutama novel dan cerpen anak-anak. Nasha juga sempat menjadi young journalist di majalah online.
Sejak kecil, dia dikenalkan dengan buku, meski belum bisa membaca. ”Yang dilihat gambarnya aja,” ungkapnya. Karena banyaknya cerpen yang dibuat Nasha, orang tuanya mengusulkan untuk membukukan tulisan itu menjadi sebuah kumpulan cerpen.
Dari sinilah, karir kepenulisan putri pasangan Dr I.B. Suryaningrat dan Yudanti Nugraheni tersebut dimulai. Buku pertamanya yang berjudul Kumpulan Cerpenku yang dicetak pada 2013 memang hanya dipasarkan di kawasan Jember.
Maklum, saat itu Nasha dan orang tuanya belum mengetahui banyak penerbit nasional. Namun, karya pertama inilah yang menjadi awal kesuksesan Nasha. Bahkan, kumpulan cerpen tersebut sempat dicetak dua kali saking banyaknya permintaan dari sekolahnya.
Alumnus SDN Jember Lor 3 Jember itu juga kerap diminta kepala sekolahnya untuk mampir sekadar berbagi pengalaman menulis kepada adik-adik kelasnya.
Meski sukses mempunyai lima buku, tak selamanya tulisan Nasha diterima penerbit. Penolakan tersebut sempat dialami ketika mengirim salah satu cerpen untuk diterbitkan dalam antologi cerpen. ”Ya, ada rasa kecewanya,” ujarnya.
Mengenai royalti, Nasha tampak malu-malu. Meski tak menyebut angka pasti, dia cukup bersyukur karena bisa merasakan manfaat dari bukunya. ”Yang penting bisa jalan-jalan dan nraktir teman-teman di sekolah,” katanya.
Selain jago menulis cerpen, Nasha termasuk salah seorang siswa berprestasi yang kerap dikirim mewakili Jember, bahkan Jawa Timur ke tingkat nasional.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
