
PELAKU SEJARAH: Frank Palmos (kanan) menceritakan awal mula dirinya menjadi Indonesianis.
Pertempuran Surabaya, 10 November 1945, menjadi tonggak bersejarah bagi bangsa ini. Francis Palmos, sejarawan Australia, merekam sudut-sudut penting pertempuran itu lewat buku terbarunya, Surabaya 1945: Sakral Tanahku. Kemarin (10/11) buku itu ’’di-launching’’ di tengah upacara peringatan Hari Pahlawan di Surabaya.
TAUFIQURRAHMAN, Surabaya
KEPIAWAIAN Francis (Frank) Palmos dalam menggambarkan suasana pertempuran memang bukan hal baru. Sejak 1968 dia terjun ke pedalaman Vietnam sebagai jurnalis. Merekam salah satu perang paling brutal dalam sejarah militer Amerika Serikat tersebut. Dia bertugas melaporkan langsung dari lokasi pertempuran.
Namun, sebelum itu, Palmos sudah cukup lama menjalin hubungan dengan Indonesia. Palmos muda kali pertama menginjakkan kaki di Indonesia pada 1961. Saat itu dia masih berumur 21 tahun. Dia datang sebagai jurnalis yang mendapat beasiswa dari Yayasan Siswa di bawah naungan Deplu RI untuk belajar sastra, bahasa, sejarah, serta kebudayaan Indonesia.
’’Saya cuma bawa uang 400 dolar, enam bulan langsung habis,’’ tutur Palmos saat bercerita tentang pengalamannya kali pertama di Indonesia di ruang redaksi Jawa Pos, Sabtu (5/11).
Awalnya, Palmos belajar di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung pada 1961. Kemudian berlanjut ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) pada 1962. Departemen Luar Negeri (Deplu) RI kala itu memang gencar mempromosikan republik yang baru lahir ke dunia internasional.
’’Saya ingat, tugas pertama saya menerjemahkan novel Siti Nurbaya,’’ ujarnya
Dalam sekejap, Palmos mengaku bisa langsung akrab dengan kehidupan di Indonesia. Dia mencontohkan, dirinya pernah menginap sebulan penuh saat Ramadan di rumah keluarga Indonesia di Tasikmalaya, Jawa Barat. Bahkan, Palmos ikut menjalankan ibadah puasa.
’’Waktu puasa, waduh rasanya lapar sekali, mau mati,’’ ungkap penyandang gelar doktor bidang sejarah tersebut, lantas tersenyum.
Selepas menyelesaikan studi, Palmos kembali ke Indonesia pada 1964 dalam kapasitas sebagai wartawan surat kabar Herald Sun, Australia. Pada akhir 1964, dia membuka perwakilan kantor berita asing pertama di Indonesia. Dia pun diangkat menjadi kepala biro Indonesia. Saat itu, Palmos sudah dikenal sebagai ahli sejarah Indonesia sebelum pada 1968 ditugaskan untuk meliput perang Vietnam.
Berkat ketekunannya belajar bahasa dan sejarah Indonesia, Palmos sempat mendapat kehormatan menjadi penerjemah lepas untuk Presiden Soekarno. Bahkan untuk pemimpin kekuatan-kekuatan politik besar saat itu seperti NU, PNI, dan PKI ketika menerima diplomat dan wartawan asing.
Inisiatif untuk menulis sejarah Indonesia, terutama sekitar 1945, baru muncul saat dia bertemu Menteri Penerangan RI Roeslan Abdulgani pada 1965. Saat itu, Roeslan Abdulgani tengah memberikan indoktrinasi UUD 1945 di hadapan dua ribu mahasiswa di Jakarta. ’’Saya satu-satunya wartawan asing yang meliput acara itu,’’ tutur Palmos.
Tertarik kepada Palmos, Roeslan kemudian mengajaknya untuk mengikuti kunjungan ke Makassar dengan menggunakan pesawat Douglas DC-3 milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Sebuah akomodasi yang sangat mewah saat itu. ’’Of course saya mau. Yang penting bisa pelesir,’’ kata Palmos menjawab tawaran Roeslan itu.
Palmos pun tiba di bandara pada hari yang ditentukan. Sebuah tiket diberikan ajudan Roeslan sesaat sebelum memasuki ruang tunggu bandara. Ada yang aneh di tiket itu. ’’Saya baca namanya Nyonya Abdulgani,’’ kenang Palmos, lantas tertawa.
Dia pun menyodorkan tiket tersebut kepada petugas bandara. Tapi, ternyata si petugas tak mempermasalahkan. ’’Katanya sudah biasa istri Pak Menteri jarang diajak,’’ lanjut dia.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
