Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 November 2016 | 03.07 WIB

Listyo Yuwanto, Aktivis Sosial yang Tenangkan Pengungsi Anak lewat Komik

BERJIWA SOSIAL: Listyo Yuwanto membawa salah satu komik karyanya. - Image

BERJIWA SOSIAL: Listyo Yuwanto membawa salah satu komik karyanya.

Listyo Yuwanto punya keahlian berbeda dalam menenangkan pengungsi anak. Melalui komik wayang punakawan, dia mampu menghipnotis ratusan anak untuk melupakan kejadian mengerikan yang baru saja mereka lewati.





EDI SUSILO





LISTYO Yuwanto bergegas keluar dari ruang Pusat Konsultasi Layanan Psikologi (PKLP) Universitas Surabaya (Ubaya). Yang dituju adalah ruang asesmen. Tangannya tampak menenteng belasan komik.



Di ruang berisi aneka permainan anak itu, Listyo mengeluarkan satu per satu komik tersebut dari plastik yang membungkus. Model komik itu berbeda-beda. Mulai ukurannya, ketebalannya, warnanya, hingga bentuknya.



Ada yang sudah mirip komik siap jual dengan jahitan rapi. Ada yang masih berbentuk jilid spiral bak makalah.



”Meski berbeda, tampilan ini tak menghilangkan tujuan aslinya. Yakni, mengatasi trauma pada anak yang mengalami musibah,” ungkapnya kepada Jawa Pos, Selasa (1/11).



Ya, dua belas komik yang dibuat Listyo tersebut memang didedikasikan untuk menghilangkan trauma pada anak saat musibah. Idenya muncul pada 2010. Saat itu Gunung Merapi meletus.



Ribuan warga pun lari menuju tenda-tenda pengungsian. Termasuk anak-anak. Mengetahui kondisi itu, Listyo yang sejak SMA terlibat aktif dalam Palang Merah Remaja (PMR) langsung terpanggil untuk datang ke Merapi.



Dia siap memberikan bantuan tenaga dan mengevakuasi para korban. Setelah sampai, Listyo melihat bahwa kondisi tenda pengungsian sudah ’’cukup memadai’’.



Bantuan sudah banyak. Bahan makanan pokok dan pakaian untuk korban terbilang cukup. Pemerintah juga terasa sigap menghadapi bencana.



”Tetapi, ada yang kurang dari beragam bantuan itu. Yakni, perhatian pada anak-anak. Mereka (pemerintah, Red) masih menganggap anak-anak belum mengerti apa yang terjadi. Padahal, efek kekacauan tersebut bisa membuat mereka trauma,” ungkap dosen psikologi Ubaya tersebut.



Listyo mengungkapkan, sejak saat itu dirinya mulai mengupayakan rehabilitasi anak-anak dengan penanganan psikologi. Salah satunya dengan dongeng untuk anak. Itu dilakukan agar perhatian anak-anak tentang bencana bisa hilang.



Waktu itu, Listyo mengajak beberapa mahasiswa untuk membuat dongeng bermedia boneka. Tapi, cerita di panggung tersebut tidak langsung menarik perhatian anak-anak pengungsi. Mereka cuek dan tidak ingin mendengarkan cerita.



Bahkan, beberapa anak langsung ngacir menjauhi panggung dan asyik bermain wayang-wayangan. Melihat gelagat itu, Listyo langsung tanggap. Dia menilai, dongeng Putri Salju yang sedang dibawakan para relawan tersebut tidak dimengerti oleh anak.



Para pengungsi cilik itu sulit membayangkan tokoh dalam dongeng. Sejak itu, Listyo melirik wayang sebagai sarana pengalihan trauma. Dan, yang dipilih adalah para punakawan. Yakni, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Semuanya dituangkan dalam bentuk komik.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore