
Yeremias Aougust Pah
Membuat dan memainkan sasando bagi keluarga Yeremias Aougust Pah bukan sekadar urusan seni-budaya. Tapi, lebih dari itu, mempertahankan jati diri keluarga mereka yang sudah turun-temurun.
M. HILMI SETIAWAN, Kupang
Bolelebo ita nusa lelebo
Bolelebo ita nusa lelebo
Malole simalole ita nusa lemalole
Malole simalole ita nusa lemalole...
Petikan lagu Bolelebo menyambut kedatangan rombongan delegasi Festival Melanesia di kediaman Yeremias. Rumah dengan teras luas itu berada di Jalan Timor Raya km 22, Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.
Kanan dan kiri rumah berbahan kayu itu cukup tandus. Hanya daun kelapa dan pohon lontar yang menjadi pewarna halaman rumah Yeremias.
Setelah suguhan lagu Bolelebo, acara dilanjutkan dengan tarian foti dan tai benuk. Dua tarian itu memiliki semangat yang sama. Yaitu, menunjukkan rasa sukacita atas anugerah dari Tuhan Yang Mahakuasa. Dua tarian itu diikuti pukulan alat musik sejenis kenong yang terus bertalu-talu.
Setelah tarian sambutan selesai, Yeremias dengan ramah mengajak delegasi Festival Melanesia berkeliling rumahnya. Delegasi festival itu berasal dari Timor Leste, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Fiji, dan Kaledonia Baru. Sayang, delegasi dari negara Vanuatu absen dari festival budaya pengikat negara-negara Melanesia itu.
Teras rumah menjadi titik pertama Yeremias untuk mengenalkan sasando. Di sebuah rak bersusun empat, tertata rapi alat musik petik yang khas dengan bentuk melengkungnya itu. Di bagian atas, ada sasando sungguhan yang bisa digunakan untuk bermain musik. Sasando tersebut juga dijual dengan banderol Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta. Harga menyesuaikan ukuran.
Kemudian, di susunan rak bagian bawah, ada replika sasando untuk cenderamata. Harga sasando mainan itu bervariasi, mulai Rp 50 ribu hingga Rp 600 ribu. Sasando replika tersebut dibuat dari daun lontar dan ada kawat di bagian tengahnya. ''Tapi, yang replika ini tidak bisa digunakan untuk main musik,'' terang Yeremias.
Ketika ramai pengunjung, keluarga besar itu bisa mengantongi penghasilan hingga Rp 30 juta per bulan. Selain di rumah, sasando juga bisa dijual lintas daerah melalui pemesanan online atau via telepon. Mereka menjamin pengiriman aman, tidak sampai merusak fisik sasando.
Selain membuat sasando, pria kelahiran Rote, 20 Oktober 1939, itu membikin topi ti'i langga. Topi khas Kupang tersebut terbuat dari daun lontar, sama dengan sasando. Topi itu melengkung di kedua sisi. Lalu, di bagian atas, persis di atas kening, ada jambul. Yeremias menjelaskan, jambul di topi tersebut melambangkan bahwa manusia selalu ingat kepada Tuhan.
Bapak sepuluh anak itu lantas mengajak rombongan untuk melihat ''dapur'' usahanya membuat sasando. Lokasi pembuatan sasando menempel persis di sisi kiri rumah. Bengkel tersebut cukup sederhana. Dindingnya terbuat dari bambu dan lantainya masih berupa tanah. Ukurannya 3x5 meter. Aneka perkakas seperti gunting, obeng, dan tang tertata rapi di sebuah meja kayu yang berukuran 1x2 meter.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
