Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 November 2015 | 18.40 WIB

Mengunjungi Yeremias Aougust Pah, Maestro dan Perajin Sasando

Yeremias Aougust Pah - Image

Yeremias Aougust Pah

Membuat dan memainkan sasando bagi keluarga Yeremias Aougust Pah bukan sekadar urusan seni-budaya. Tapi, lebih dari itu, mempertahankan jati diri keluarga mereka yang sudah turun-temurun.



M. HILMI SETIAWAN, Kupang



Bolelebo ita nusa lelebo



Bolelebo ita nusa lelebo



Malole simalole ita nusa lemalole



Malole simalole ita nusa lemalole...



Petikan lagu Bolelebo menyambut kedatangan rombongan delegasi Festival Melanesia di kediaman Yeremias. Rumah dengan teras luas itu berada di Jalan Timor Raya km 22, Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.



Kanan dan kiri rumah berbahan kayu itu cukup tandus. Hanya daun kelapa dan pohon lontar yang menjadi pewarna halaman rumah Yeremias.



Setelah suguhan lagu Bolelebo, acara dilanjutkan dengan tarian foti dan tai benuk. Dua tarian itu memiliki semangat yang sama. Yaitu, menunjukkan rasa sukacita atas anugerah dari Tuhan Yang Mahakuasa. Dua tarian itu diikuti pukulan alat musik sejenis kenong yang terus bertalu-talu.



Setelah tarian sambutan selesai, Yeremias dengan ramah mengajak delegasi Festival Melanesia berkeliling rumahnya. Delegasi festival itu berasal dari Timor Leste, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Fiji, dan Kaledonia Baru. Sayang, delegasi dari negara Vanuatu absen dari festival budaya pengikat negara-negara Melanesia itu.



Teras rumah menjadi titik pertama Yeremias untuk mengenalkan sasando. Di sebuah rak bersusun empat, tertata rapi alat musik petik yang khas dengan bentuk melengkungnya itu. Di bagian atas, ada sasando sungguhan yang bisa digunakan untuk bermain musik. Sasando tersebut juga dijual dengan banderol Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta. Harga menyesuaikan ukuran.



Kemudian, di susunan rak bagian bawah, ada replika sasando untuk cenderamata. Harga sasando mainan itu bervariasi, mulai Rp 50 ribu hingga Rp 600 ribu. Sasando replika tersebut dibuat dari daun lontar dan ada kawat di bagian tengahnya. ''Tapi, yang replika ini tidak bisa digunakan untuk main musik,'' terang Yeremias.



Ketika ramai pengunjung, keluarga besar itu bisa mengantongi penghasilan hingga Rp 30 juta per bulan. Selain di rumah, sasando juga bisa dijual lintas daerah melalui pemesanan online atau via telepon. Mereka menjamin pengiriman aman, tidak sampai merusak fisik sasando.



Selain membuat sasando, pria kelahiran Rote, 20 Oktober 1939, itu membikin topi ti'i langga. Topi khas Kupang tersebut terbuat dari daun lontar, sama dengan sasando. Topi itu melengkung di kedua sisi. Lalu, di bagian atas, persis di atas kening, ada jambul. Yeremias menjelaskan, jambul di topi tersebut melambangkan bahwa manusia selalu ingat kepada Tuhan.



Bapak sepuluh anak itu lantas mengajak rombongan untuk melihat ''dapur'' usahanya membuat sasando. Lokasi pembuatan sasando menempel persis di sisi kiri rumah. Bengkel tersebut cukup sederhana. Dindingnya terbuat dari bambu dan lantainya masih berupa tanah. Ukurannya 3x5 meter. Aneka perkakas seperti gunting, obeng, dan tang tertata rapi di sebuah meja kayu yang berukuran 1x2 meter.

Editor: afni
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore