alexametrics
Hidup dan Perjalanan Didi Kempot (9)

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar”

Hadiah Kejutan yang Turut Angkat Pamor Pantai
15 Mei 2020, 13:40:16 WIB

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang untuk mendatangi tempat yang dimaksud.

SUGENG D.N., PacitanLATIFUL H., NgawiIRAWAN W., Solo, Jawa Pos

LAGUNYA buat hadiah, Pak In,” kata Didi Kempot sembari menyerahkan sebuah flash disk kepada Bupati Pacitan Indartato.

Pada suatu hari di 2016 itu, mereka bertemu di Madiun, Jawa Timur.

Indartato tentu kaget bercampur senang atas hadiah kejutan tersebut.

”Mas Didi berpesan minta lagunya dikoreksi,” kata Indartato kepada Jawa Pos Radar Pacitan.

Maka, sepulang ke Pacitan, Indartato dan beberapa tokoh setempat langsung menyimak saban bait lagu itu. Isinya bercerita tentang Pantai Klayar, salah satu destinasi wisata andalan kabupaten di ujung selatan Jawa Timur yang berbatasan dengan Jawa Tengah tersebut.

Hadiah kejutan itu ternyata berefek sangat positif bagi Pacitan. Begitu dirilis, lagu tersebut langsung booming. Nama pantai di Desa Sendang, Donorojo, itu otomatis ikut terkerek.

Menurut Indartato, warga dari luar Pacitan pun berbondong-bondong berwisata ke kabupaten yang dipimpinnya lantaran penasaran seusai mendengar lagu tersebut. ”Bisa menaikkan pamor Pantai Klayar, pengunjungnya banyak, disukai orang, dan saya ikut kondang karena tampil di video clip-nya hehehe,’’ terang Indartato yang memang diminta Didi untuk turut membintangi klip tersebut.

”Pantai Klayar” adalah episode lanjutan kesuksesan Didi dalam platform penulisan lagu yang dimulai di pengujung 1990-an lewat ”Stasiun Balapan”. Penggunaan nama-nama tempat publik, baik destinasi wisata maupun fasilitas umum, sebagai judul atau disisipkan di dalam lirik yang dipadukan dengan kisah romansa.

”Terminal Tirtonadi, ”Dalan Anyar”, ”Banyu Langit”, ”Tanjung Mas Ninggal Janji”, dan ”Jembatan Suramadu” adalah sebagian lainnya. Lirik-lirik itu ditulis dengan jujur, tanpa ada titipan pesan atau slogan dari pemerintah setempat. Itulah yang membuat karya-karya tersebut gampang nyantol dan bikin penasaran orang untuk menziarahi tempat yang dimaksud.

Didi bersama Bupati Pacitan Indartato di sela syuting “Pantai Klanyar”. (JAWA POS RADAR PACITAN)

”Birune segara kutha Pacitan, nyimpen janjimu seprene ra bisa ilang.

Birune segara kutha Pacitan, Pantai Klayar sing nyimpen sewu kenangan.”

(Birunya lautan Kota Pacitan, menyimpan janjimu sampai sekarang tak bisa hilang.

Birunya lautan Kota Pacitan, Pantai Klayar. Yang menyimpan sejuta kenangan).

Jika dibandingkan, refrain dari ”Pantai Klayar” itu punya kemiripan pola dengan ”Stasiun Balapan”.

”Pamitmu naliko semono

Ning Stasiun Balapan Solo”

(Janjimu ketika itu

Di Stasiun Balapan Solo)

Ada tempat, sepasang kekasih yang terpisah, atau cinta yang dikhianati. Pola yang kurang lebih sama juga dipakai Didi di lagu-lagu lain yang mengambil judul atau berlatar sebuah tempat tertentu.

Ngawi juga termasuk yang merasakan dampak positif lagu-lagu Didi yang ber-setting kabupaten di ujung barat Jawa Timur itu. Kebetulan di Ngawi pula maestro campursari tersebut menghabiskan masa kecil hingga remaja. Juga, tempat dia dimakamkan.

Siapa penggemar Didi yang tak hafal refrain itu meski mungkin seumur hidup belum pernah berkunjung atau melintasi Ngawi.

Neng dalan anyar kowe karo sopo

Aku ngerti dhewe neng ngarepe moto

”Dalan Anyar” bertutur soal kisah cinta dengan latar sebuah jalan alternatif yang menghubungkan ujung timur dengan ujung barat wilayah Ngawi kota.

”Saya melihat ini bentuk kebanggaan Mas Didi dengan menceritakan identitas daerah ke dalam karyanya,” kata Bupati Ngawi Budi ”Kanang” Sulistyono kepada Jawa Pos Radar Ngawi.

Dalam ”Benteng Pendem”, Kanang turut tampil dalam video clip-nya. Klip mengambil latar di benteng yang jadi judul lagu tersebut yang juga destinasi andalan Ngawi.

Didi dan Bupati Ngawi Budi “Kanang” Sulistyono. (LATIFUL HABIBI/JAWA POS RADAR NGAWI)

Kepedulian Didi itulah yang sangat dikagumi Kanang. Komunikasi terakhirnya dengan penyanyi kelahiran Solo tersebut dilakukan saat membahas konser yang ditujukan untuk mengampanyekan agar tidak mudik.

Solo, kota tempat Didi berproses, tentu saja juga banyak diceritakan penyanyi berjuluk Lord Didi itu dalam karyanya. ”Stasiun Balapan” melejitkan Didi, sekaligus juga memopulerkan stasiun di Solo itu hingga PT Kereta Api Indonesia menunjuknya jadi duta. ”Terminal Tirtonadi”, nama terminal di Kota Bengawan itu, contoh lainnya.

Itulah yang membuat Pemkot Solo berencana membangun monumen untuk mengenang dan menghargai jasa Didi Kempot. Seperti dilaporkan Jawa Pos Radar Solo, rencananya monumen tersebut dibangun di Stasiun Solo Balapan atau Terminal Tirtonadi.

Pemkot Solo juga akan berkirim surat kepada menteri sosial agar The Godfather of Broken Heart itu mendapat anugerah dari negara. Pemkot merasa penghargaan tersebut pantas diberikan kepada penyanyi berkelas internasional yang berpulang 5 Mei lalu itu.

”Nanti kami bicarakan dengan tokoh-tokoh seniman dan budayawan sebaiknya (monumen Didi Kempot) di mana,” kata Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo yang turut tampil dalam video terakhir yang dirilis Didi, ”Ojo Mudik”.

Di mana pun monumen tersebut nanti berdiri, orang juga bisa menemui Didi saat berwisata ke Pantai Klayar. Juga, saat mengunjungi Pelabuhan Tanjung Mas, melintasi dalan anyar di Ngawi, atau tempat-tempat lain yang dia abadikan dalam lagu-lagunya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/ttg



Close Ads