Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Oktober 2020 | 19.08 WIB

Batu-Batu Besar yang Dibawa Burung Pipit dari Papua Nugini ke Sentani

SITUS MEGALITIK: Dominggus Kawai (kanan) saat menunjukkan batu pipih yang beridiri di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Senin (5/10). (ROBERT MBOIK/CEPOS) - Image

SITUS MEGALITIK: Dominggus Kawai (kanan) saat menunjukkan batu pipih yang beridiri di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Senin (5/10). (ROBERT MBOIK/CEPOS)

Susutnya air Danau Sentani menyebabkan banyak peninggalan zaman batu besar jadi bisa terlihat. Tapi, masyarakat sekitar meyakini, bukan airnya yang berkurang, melainkan batu-batu itulah yang ’’tumbuh”.

ROBERT MBOIK-ROBERTHUS YEWEN, Kab Jayapura, Jawa Pos

---

MATA pria itu menatap batu pipih yang tertancap ke dalam dasar danau. ’’Kami percaya dia tumbuh,” katanya.

Telunjuknya kemudian ganti mengarah ke dalam air. Ada sejumlah batu kecil di sana. ’’Kami juga percaya dia bertambah,” katanya kepada Cenderawasih Pos Senin lau (5/10).

Lukas Marweri, pria tersebut, salah seorang ahli waris batu-batu yang berada nun di tengah Danau Sentani itu. Persisnya di Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, yang didiami suku Marweri.

Peninggalan zaman megalitikum itu belakangan ramai menjadi perbincangan setelah jelas terlihat seiring dengan menyusutnya permukaan Sentani. Danau terbesar di Papua itu berada di ketinggian 75 mdpl, terbentang antara Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura.

Sentani yang berarti ’’di sini kami tinggal dengan damai” itu diabadikan pula untuk nama bandara yang berada di Kabupaten Jayapura. Jika turun di bandara tersebut dan hendak menuju Kota Jayapura, ibu kota Papua, Anda akan menyisiri sebagian tepian danau seluas 9.360 hektare itu.

Selain ’’batu-batu yang tumbuh” tadi, tak jauh dari sana, masih di kampung yang sama, ada dua batu lonjong. Panjang keduanya masing-masing 1 dan 3 meter dengan diameter 40–50 cm.

Keduanya diberi nama Awake Deng Bere I Pa Bere yang berarti perahu dan dayung.

’’Dua buah bongkahan batu itu simbol perahu dan dayung yang digunakan leluhur kami untuk menyeberang danau,” kata Lukas.

Batu pipih setinggi sekitar 5 meter tadi juga diyakini sebagai seorang perempuan yang menjadi ibu keturunan suku Marweri. Sedangkan batu-batu kecil yang berserakan di dalam air dekat batu pipih tersebut adalah anak-anaknya.

Suku Marweri meyakini batu-batu itu dibawa dari wilayah Papua Nugini dengan cara diterbangkan burung pipit. Kemudian ditancapkan di Danau Sentani.

Photo

SEPASANG: "Awake Deng Bere I Pa Bere", dua batu yang diyakini merupakan perahu dan dayung leluhur. (ROBERT MBOIK/CEPOS)

Jadi, Lukas tak main-main saat bilang dia hendak meluruskan informasi yang menyebut batu-batu itu terlihat karena air danau susut. ’’Bukan air danaunya yang susut, melainkan mereka yang tumbuh,” katanya sekali lagi.

Peneliti Balai Arkeologi Papua Hari Suroto menyebutkan, ada berbagai bentuk bebatuan yang ditemukan di perairan Danau Sentani. Misalnya, batu menhir atau batu tegak yang berisi ukiran di Kampung Asei, Distrik Sentani Timur.

Selain itu, ada batu beranak di Kampung Kwadeware tadi. Serta, batu rezeki yang berada di Pulau Mantai yang masih masuk wilayah Kampung Kwadeware.

’’Ada pula papan batu di pinggiran perairan Danau Sentani, persisnya di Tanjung Warakho, Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu,” katanya kepada Cenderawasih Pos saat ditemui di ruang kerjanya Senin lalu (5/10).

Megalitikum adalah zaman batu besar yang digunakan untuk membangun struktur atau monumen. Mengutip Wikipedia, batu yang digunakan dapat berupa satu batu tunggal (monolit), tumpukan batu besar maupun kecil, atau susunan batu yang diatur dalam bentuk tertentu.

Menurut Hari, peninggalan megalitik di Danau Sentani itu merupakan media pemujaan.

’’Media penghubung dengan roh nenek moyang dahulu kala,” katanya.

Memperkirakan umur batu-batu itu harus berdasar analisis laboratorium. ’’Untuk di Sentani kami baru mengambil satu sampel di situs Yomokho di sebelah Khalkote, Distrik Sentani Timur. Kami gali di situ dan dapat arangnya,” kata Hari.

Photo

POTENSI WISATA: Bongkahan batu megalitik. Batu serupa banyak ditemukan di kawasan Danau Sentani. (ROBERT MBOIK/CEPOS)

Setelah dibawa ke laboratorium, diketahui perkiraan usianya 2.590 tahun yang lalu. ’’Ini orang bilang, 500 tahun yang lalu sebelum Yesus lahir, orang sudah ada di Danau Sentani,” ujarnya.

Hari memberikan contoh batu menhir atau batu tegak dengan ukiran di Kampung Asei merupakan salah satu benda yang dihasilkan masyarakat yang sudah menetap. Tidak mungkin oleh masyarakat yang berburu dengan pola berpindah-pindah. Apalagi berburu selalu mengikuti pergerakan hewan.

Menurut Kepala Distrik Waibu Dominggus Kawai, keberadaan batu-batu itu sejatinya punya potensi wisata yang besar. Apalagi, Danau Sentani tak jauh dari Bandara Sentani. Dari Dermaga Patouw di tepian Sentani, cukup 5 menit saja untuk bisa sampai di lokasi batu-batu yang ’’dibawa dari Papua Nugini” itu.

’’Semoga ini menjadi jalan untuk perubahan bagi masyarakat yang ada di sini,’’ ujar Dominggus.

Asal dikelola dengan benar, Hari pun meyakini besarnya daya tarik wisata keberadaan peninggalan megalitik di tengah Danau Sentani tersebut.

Karena itu, Hari merasa lega begitu selepas banjir bandang di Sentani tahun lalu, posisi batu tersebut tak bergeser. Dan, itu bisa jelas terlihat setelah air surut di Danau Sentani seperti sekarang ini.

Tapi, jangan katakan itu kepada Lukas. Dia teguh mengimani bahwa batu pipih yang menancap maupun yang ada di dalam air bisa terlihat karena mereka tumbuh.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=g_GuJ8O-Txc&ab_channel=jawapostvofficial

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore