JawaPos Radar

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak di Gunung Rinjani (2-Habis)

Pasrah, Berdoa, karena Merasa Tak Akan Selama

02/08/2018, 12:30 WIB | Editor: Ilham Safutra
Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak di Gunung Rinjani (2-Habis)
Pendaki yang terjebak di Gunung Rinjani, Lombok, ketika belum dievakuasi. (Istimewa)
Share this image

Untuk mengalihkan kepanikan dua pendaki yang dikawalnya setelah gempa dan longsor terjadi, Anca berinisiatif mengupas nanas. Rentetan gempa susulan juga membuat mereka yang terjebak sulit memutuskan: nekat turun atau bertahan di tempat.

SAHRUL YUNIZAR, Lombok Timur

---

TEBING berjatuhan. Debu gelap beterbangan. Longsoran bebatuan menutupi jalur pulang menuju Senaru.

Masih ditambah rentetan gempa susulan Juga, kabar-kabar mencemaskan yang berseliweran. Dari jembatan putus sampai jalur yang retak.

Semuanya susul-menyusul menghampiri Muhammad Ashar dan siapa saja yang berada di Danau Segara, Gunung Rinjani, pada Minggu pagi itu (29/7). Setelah lindu 6,4 skala Richter menghajar Lombok.

Kepanikan otomatis menyeruak. Termasuk kepada dua pendaki asal Jakarta yang dikawal Ashar: Ayu dan Ano.

Di tengah kegentingan itu, tiba-tiba saja porter 23 tahun tersebut teringat nanas. Buah tersebut dia bawa sebagai bekal tiap kali mengantar pendaki menaiki Rinjani.

"Saya inisiatif mengupas nanas biar kedua tamu saya merasa tenang. Untuk netralkan suasana saja," imbuh pemuda yang akrab disapa Anca itu kepada Jawa Pos.

Tapi, sampai habis nanas yang jadi bekal, gempa susulan masih terasa beberapa kali. Disertai guguran bebatuan dari atas tebing.

Jalur pulang ke Senaru tertutup longsoran. Jembatan penghubung menuju ke Plawangan Sembalun juga putus.

Pada Minggu pagi itu, Anca dan ratusan orang di Danau Segara Anak tahu, mereka terperangkap.

---

Semua seperti berjalan sesuai rencana yang disusun Ayu dan Ano bersama porter mereka, Anca. Kamis pagi berangkat dari Jalur Bawak Nao, Sembalun. Dan, setelah malamnya summit attack, pada Minggu pagi mereka sudah bisa bersantai di Danau Segara Anak.

Rata-rata memang demikianlah jalur pendakian di gunung setinggi 3.726 meter itu. Berangkat dari Sembalun, menginap di Plawangan Sembalun, ke puncak, turun ke Danau Segara Anak, lalu pulang melewati Plawangan Senaru menuju Senaru.

Porter adalah para warga di sekitar Sembalun. Mereka tak hanya bertugas membawakan barang. Tapi, juga penunjuk jalan.

Berkemah di Segara Anak jadi semacam momen relaksasi bagi para pendaki. Setelah berjuang menggapai puncak. Di antaranya melewati "Bukit Penyiksaan". Dan, sebelum pulang ke Senaru yang jalurnya banyak bebatuan.

Tapi, gempa pada Minggu pagi lalu itu mengacaukan semua rencana. Saat tiga titik tebing longsor, Anca, Ayu, Ano, dan para pendaki lain hanya bisa bertahan di tenda. Yang berdiri di tepian danau. Jauh dari titik longsor.

Menginjak Minggu siang, kabar yang kian membuat cemas itu datang: ada seorang pendaki asal Makassar meninggal dunia di Cemara Tunggal. Tempat itu berada di antara Plawangan Sembalun dan Segara Anak.

Muhammad Ainul Muksin meninggal karena terjatuh saat berlari dengan panik ketika gempa terjadi. Kepalanya membentur bebatuan. Darah mengucur tidak hanya dari kepala. Dari telinga pun demikian. Tapi, dia masih bernapas. "Sampai sekitar jam delapan," ungkap Anca.

Anca tahu itu lantaran jadi salah seorang porter yang pertama melihat jenazah Ainul. Oleh petugas Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), pada Senin pagi (30/7) dia bersama empat rekan seprofesi lain ditugasi menyisir jalur dari Danau Segara Anak menuju Sembalun.

Sekaligus mengecek jembatan yang putus. "Kami semua yang di Segara Anak khawatir, penasaran, dan gelisah," tutur Anca.

Benar saja, bukan cuma jembatan putus, dia juga mendapati jalur yang retak parah. Retakan akibat gempa itu membelah jalan yang biasa dilalui pendaki. Setelah mengganti jembatan yang putus dengan tali sepanjang 5-6 meter, dia dan empat porter lain ke Cemara Tunggal.

Di sana dia menemukan jenazah Ainul. Terbujur kaku di dalam tenda. Hanya dibungkus sleeping bag.

Teman-temannya telah turun ke Sembalun. Dalam perjalanan turun itu, mereka mengabarkan kepada petugas TNGR di Sembalun tentang kondisi rekan mereka. Di jalur dari Segara Anak ke Sembalun sinyal operator seluler tertentu masih bisa berfungsi.

Si petugas di Sembalun lalu mengontak rekannya yang berjaga di Segara Anak. Dari sanalah kabar kematian Ainul tersebar.

"Pertama kali lihat orang meninggal di gunung," ungkapnya.

---

Anca dan empat porter juga tidak bisa berbuat banyak. Selesai memastikan posisi jenazah Ainul, dua orang kembali ke Danau Segara Anak. Tiga lainnya kembali ke jembatan yang sudah diperbaiki.

Pelan-pelan Anca bersama dua tamunya bergerak meninggalkan Danau Segara Anak. Harus ekstrahati-hati. Sebab, harus lewat jalur yang retak parah. Juga tetap waspada karena gempa susulan masih terasa walau hanya sesekali. Sampai dengan Senin sore lalu itu, memang masih terjadi 276 gempa susulan.

Bagi Anca, merasakan gempa hebat saat mendaki Rinjani merupakan pengalaman yang sangat berharga. Pelajaran yang dia petik, kondisi darurat harus dihadapi dengan tenang. Tidak grusa-grusu. "Jangan malah panik," imbuhnya.

Apalagi porter seperti dirinya. Yang membawa serta pendaki. Jika panik, sudah pasti pendaki yang didampingi ikut panik. Itu sangat berbahaya. Itu pula yang mungkin terjadi pada almarhum Ainul.

---

Dari tepian Segara Anak, Bayu Avian melihat dengan ngeri bagaimana batu-batu berjatuhan dari tebing. Diiringi pekik keterkejutan para pendaki karena guncangan gempa yang begitu kuat.

Pemandangan sesudahnya pun langsung gelap gulita karena kepulan debu. Dan, jalanan setapak jadi retak-retak.

Rinjani, gunung yang sudah beberapa kali dia kunjungi, jadi seperti tempat yang tak dia kenali. Bayu pun cuma bisa pasrah. "Hanya mampu meminta perlindungan Yang Maha Kuasa. Sebab, sudah merasa tidak akan selamat," kata pria 28 tahun itu.

Rentetan gempa susulan pula yang membuat dia bersama pendaki lain sulit untuk mengambil keputusan. Segera berjalan ke Sembalun atau menunggu sampai berhenti total.

Sudah ada yang coba langsung mengevakuasi diri. Namun, lantas kembali begitu gempa susulan terjadi. Mereka takut karena gempa susulan selalu disertai longsor. Alhasil, menunggu sampai kondisi benar-benar aman menjadi pilihan.

Itu pula yang dilakukan Bayu. Menunggu dan turun gunung bersama pendaki lainnya. "Jalan yang biasa kami lalui retak semua," ucapnya sambil mengingat kembali pendakian Rinjani yang beberapa hari lalu dia lakoni.

Dari pendakian terakhir itu pula, Bayu sadar, mendaki gunung harus benar-benar siap berhadapan dengan situasi paling buruk. Termasuk yang berpotensi mengancam keselamatan.

Bahwa mendaki gunung bukan hanya perkara berhasil sampai puncak. Tapi, bisa kembali ke rumah dengan selamat. Juga tidak merusak alam. "Karena alam bisa marah juga," ungkap dia. 

(*/c10/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up