
Penggagas Sekolah Adat Bayan Renadi
JawaPos.com - Banyaknya anak muda yang tidak peduli dengan budaya dan adat membuat Renadi gelisah. Dia pun menggagas Sekolah Adat Bayan. Namun, banyak kendala yang harus dihadapi. Mulai sedikitnya pengajar hingga tidak adanya buku yang menjadi rujukan. Kurikulum pun mulai disusun.
Oleh : KHAFIDLUL ULUM
Gapura dengan tiang cor kecil berdiri kokoh di pinggir jalan di Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di bagian atasnya tertulis 'welcome to Bayan Indigenous People'. Setelah melintasi gapura, setiap pengunjung harus melewati jalan menanjak. Usai menaiki tanjakan, terdapat tanah lapang. Berdiri di atasnya beberapa bangunan dari kayu.
Bangunan berdinding bambu dan beratap ilalang masih terlihat baru. Ukurannya tidak terlalu besar, sekitar 4 X 3 meter. Di dalamnya terdapat puluhan buku yang terjejer rapi di rak. Bangunan mungil itu dimanfaatkan untuk perpustakaan.
“Bukunya belum banyak,” ujar Penggagas Sekolah Adat Bayan Renadi, saat ditemui Jawa Pos Kamis (22/12) lalu.
Sekitar 20 meter dari situ terdapat bangunan yang lebih besar dengan lantai semen. Rangka bangunan menggunakan beton, sedangkan dindingnya menggunakan bambu. Gedung tersebut dipakai untuk balai pertemuan. Terdapat beberapa poster yang tertempel. Salah satunya gambar tentang penggunaan bambu sebagai bahan konstruksi. Ada juga miniatur bangunan.
Di belakang balai pertemuan, terdapat rumah panggung untuk penginapan. Karpet hijau terhampar dalam bangunan. Para pengunjung bisa menginap di tempat yang cukup sederhana itu. Satu lagi beruga sakanem, semacam gazebo panjang. Beberapa pemuda berpakaian adat berkumpul di beruga.
“Sedang ada begawe, acara pernikahan,” tuturnya. Mereka sedang membantu tetangga yang sedang mantu.
Renadi mengatakan, bangunan-bangunan itu diperuntukkan untuk Sekolah Adat Bayan. Sekolah yang belum lama dia rintis. Menurut dia, sekolah itu baru dibuka sekitar empat bulan lalu. Sekarang ada sekitar 27 siswa yang mengikuti pembelajaran yang diberikan. Karena masih baru, belum banyak materi yang diberikan kepada siswa. Pembelajaran juga tidak diberikan setiap hari.
“Hari ini tidak ada pembelajaran,” urai mantan kepala Dusun Dasan Baro itu.
Menurut ayah satu anak itu, ada dua pelajaran yang diberikan. Yaitu tari dan musik bambu. Pelajaran tari diberikan setiap Minggu. Ada 22 anak yang mengikuti latihan tari. Mereka dibimbing langsung oleh Komang Ayu Mas Ratna Dewi. Untuk saat ini, ada dua tari yang diajarkan, yaitu Tari Bala Anjani dan Inak Tegining.
Sedangkan pelajaran musik bambu diajarkan setiap Sabtu dan Selasa. Ada sekitar tujuh anak yang mengikuti latihan musik bambu. Alat yang digunakan menyerupai musik gamelan. Yang membedakan, alat itu menggunakan bambu. I Gede Budha Yasa ditunjuk sebagai guru musik bambu.
“Tari dan musik bambu diajarkan untuk mempertahankan seni dan budaya Bayan,” tutur suami dari D Ratnimes.
Para siswa yang mengikuti sekolah adat tidak dipungut biaya alias gratis. Dia mengatakan, kegiatan pembelajaran diadakan bukan untuk tujuan komersil, tapi untuk melestarikan dan menjaga budaya setempat.
Selain tari dan musik bambu, setiap minggu pihaknya juga menggelar diskusi tentang adat dan budaya. Puluhan anak muda mengikuti kegiatan tersebut. Mereka diajak membahas adat yang berlaku di Kecamatan Bayan. Pengurus lembaga adat menyampaikan dan menjelaskan kepada peserta yang hadir.

Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Resmi! Link Live Streaming Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di Gelora Bung Karno
Jadwal Clash of Legends Barcelona Legends vs DRX World Legends: Siaran Langsung, Live Streaming dan Daftar Skuad Kedua Tim!
Disiarkan di Televisi? Informasi Lengkap Clash of Legends Jakarta 2026! Patrick Kluivert Siap Comeback di GBK
Jadwal Clash of Legends Jakarta 2026! Duel Epik Barcelona Legends vs DRX World Legends di Gelora Bung Karno
Kick-off Sempat Dimajukan! Ini Jadwal Resmi Persib Bandung vs Arema FC di GBLA
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
Kecewa Berat! Francisco Rivera Ungkap Kondisi Ruang Ganti Persebaya Surabaya Usai Kalah dari Madura United
15 Tempat Kuliner di Jogja untuk Sarapan Pagi Paling Murah Meriah tapi Rasa Tetap Istimewa
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
