
Rio Zakarias Widyandaru, selaku Founder Social Impact Indonesia sekaligus alumni SDG Academy Indonesia angkatan keenam/(Dimas Choirul/Jawapos.com).
JawaPos.com - Dunia usaha tidak selalu berbicara soal bisnis, tapi juga harus menyeimbangkan tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR). Itu harus dilakukan secara kontinu dengan tujuan yang jelas, dan berdampak nyata untuk masyarakat.
Hal itulah yang menjadi pijakan Rio Zakarias Widyandaru, selaku Founder Social Impact Indonesia sekaligus alumni angkatan keenam SDG Academy Indonesia.
Dalam kesempatan wawancara dengan JawaPos.com, Rio bercerita, dirinya menekuni bidang CSR sejak 2013 saat menempuh Magister Manajemen CSR di Universitas Trisakti. Dari situ, fokusnya berkembang dari CSR menuju pendekatan yang lebih luas Environment Social Governance (ESG) dan pembangunan berkelanjutan.
Menurut Rio, esensi pembangunan berkelanjutan harus selalu diingat sebagai tujuan sekaligus jalan, yaitu pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang.
"Oleh sebab itu ini semakin memperkuat saya bahwa ketika saya mengambil bidang ini gitu ya, ada istilah dua gitu, selain kita fastabiqul khairat gitu ya, kita berlomba-lomba gitu ya di kebaikan, kita juga bagaimana membantu sesama," kata Rio, Senin (2/2).
Dalam perjalanannya, Rio mengakui masih banyak organisasi dan perusahaan di Indonesia yang belum mafhum merancang program pemberdayaan masyarakat, CSR maupun strategi ESG yang tepat sasaran.
"Mindset orang Indonesia terkait dengan CSR itu selalu donasi bagi-bagi sembako," ungkapnya.
Perkuat Pemahaman CSR di SDG Academy
Meski sudah memiliki dasar yang kuat di bidang CSR dan pemberdayaan, Rio memberanikan diri ikut SDGs Academy Indonesia, sekaligus memastikan apakah pemahamannya selama ini sudah selaras.
“Waktu itu saya lihat kalau SDG Academy buka nih, coba deh apa pemahaman saya, bener nggak ya,” ujar pria asal Surabaya, Jawa Timur tersebut.
Rio masuk angkatan keenam SDGs Academy Indonesia. Meski sebagian materi sudah ia kuasai sebagai peneliti dan konsultan, ia mengaku mendapat banyak ilmu tambahan, terutama dalam merumuskan strategi hingga detail implementasi SDGs di Indonesia.
Adapun momen paling berkesan baginya adalah saat menyusun praktik Social Business Model Canvas (SBMC) ke proyek percontohan. Praktik SBMC itu kemudian ia integrasikan ke dalam proyek pemberdayaan masyarakat yang dijalankan bersama para mitranya.
Selain itu, pendekatan pelaporan berbasis SDGs dan manajemen dampak juga semakin ia perkuat, termasuk melalui pembelajaran lanjutan seperti Impact Management for SDGs. Hasilnya, perencanaan program yang digarap kini lebih fokus pada kontribusi terhadap target dan indikator SDGs.
"Jadi program-program yang saya lakukan gitu ya bersama mitra kerja gitu ya, didekatkan dengan bagaimana seharusnya program itu menjawab terkait dengan kebutuhan sosial gitu ya, circular economy dan terkait dengan menjawab terkait dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs itu sendiri," akunya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
