
JEJAK MASA SILAM: Wiharjo Hadisuwarno bersama buku telepon lama di depan Toko Alwani. Dulu, tempat itu bernama Toko Lalwani.
Wiharjo Hadisuwarno hobi mengunjungi bangunan-bangunan tua Surabaya. Tak sekadar jalan-jalan atau memotret, dia aktif mencatat. Modal yang dia miliki buku telepon dari era 40-an hingga 70-an.
SALMAN MUHIDDIN/JAWA POS
WIHARJO Hadisuwarno mengeluarkan lima buku telepon dari ranselnya. Buku itu dia dapat dari forum jual beli di Facebook setahun lalu. Masing-masing dihargai Rp 100 ribu.
Kitab-kitab itu disimpan di map plastik agar tak rusak atau terkena air. Maklum, buku itu sudah berusia lebih dari setengah abad. Warnanya pun tak putih lagi. Kecokelatan. Aromanya juga khas. Bau buku tua. Bau masa silam.
Tapi, Wijo –sapaannya– enggan disebut kolektor buku lawas. Mahasiswa kedokteran Universitas Airlangga (Unair) itu membeli buku tersebut untuk mencari tahu nama-nama gedung tua Surabaya.
Kini banyak gedung yang tak lagi diketahui namanya dahulu. Nah, buku telepon tersebut memuat data alamat plus nama gedung atau nama pemiliknya. Di buku itu juga ada nomor telepon gedung tersebut. Itu, bagi Wijo, adalah bonus.
Sebab, tentu nomor tersebut sudah tidak lagi aktif. Minggu (27/11) Wijo mengajak Jawa Pos menelusuri kawasan Jalan Tunjungan. Kami bertemu di Museum Surabaya di Siola. Sebelum memulai perjalanan, Wijo membuka iPad-nya.
Yang tampak adalah foto lawas Siola berwarna hitam-putih. ”Ngerti nggak kita lagi di mana? Kita sedang di Zangrandi. Iya. Toko es krim itu dulu ndik sini,” kata pemuda kelahiran 7 Maret 1993 itu.
Tapi, bangunan lawas Zangrandi di Jalan Tunjungan tersebut sudah tiada. Sudah dihancurkan. Digunakan untuk perluasan Siola. Anak kedua di antara tiga bersaudara itu lalu membuka buku telepon 1948 edisi ke-10.
Dibukanya secara perlahan. Yang dia cari adalah Jalan Tunjungan 12. Gedung Aurora. Gedung itu seharusnya ada di hadapan kami. Ternyata, gedung itu juga lenyap. Dibongkar sejak lama.
Bakal ada hotel di bekas gedung tersebut. Pada buku itu juga tertulis bahwa nomor telepon Aurora adalah Z3089. Setelah menunjukkan nomor telepon itu, Wijo menunjukkan bentuk bangunan tersebut dari iPad-nya.
”Nah, dari buku telepon ini kan jadi tahu kalau dulu ada gedung Aurora,” ujarnya. Kami melanjutkan perjalanan ke selatan. Beberapa bangunan hanya menyisakan wujud fasadnya. Bagian belakangnya sudah dibongkar.
Wijo juga kerap mengintip melalui celah-celah lubang dari pintu bangunan. Beberapa bangunan benar-benar hilang. Yang terlihat hanya semak belukar. Perjalanan terhenti di seberang jalan Kampung Ketandan.
Di situ ada empat toko yang wujudnya masih utuh. Yakni, Toko Lalwani, Teng Giok Tjiang, Janson, dan Grand Coiffeur. Jari telunjuk Wijo lalu mengarah ke Toko Lalwani. Sayangnya, yang tertulis Alwani. ”L-nya hilang.
Kalau di buku telepon ini, namanya Lalwani,” kata dia, lalu menunjuk salah satu iklan Lalwani. Tampak nomor telepon Lalwani adalah S735. S berarti south atau selatan. Ya, kala itu nomor telepon memang dibagi tiap wilayah.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
