PENUH PERJUANGAN: Ketua tim otopsi paus balin atau paus bungkuk yang terdampar di perairan Kejawan Putih Tambak drh Bilqisthi Ari Putra (dua dari kanan) mengambil sampel dari bangkai paus balin.
Tim peneliti Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) telah melalui perjalanan panjang untuk bisa mengotopsi bangkai paus yang terdampar di Kejawan Putih Tambak. Saat bertugas, mereka harus menghadapi medan yang berat, bangkai paus masih terendam air, hingga kapal kandas.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya
KAPAL yang ditumpangi tim peneliti FKH Unair kandas karena air surut saat proses otopsi paus di bibir Pantai Kejawan Putih Tambak Selasa (16/5). Situasi semakin menegangkan karena hari semakin gelap.
Cuaca dingin menusuk tulang. Ditambah, setengah tubuh delapan personel tim tersebut terendam lumpur kurang lebih sembilan jam sejak proses otopsi dilakukan. Tidak ada stok makanan yang tersisa untuk mengisi tenaga selama terdampar.
Mereka hanya berupaya saling menyemangati agar tidak panik. Hari semakin gelap. Tidak hanya dingin yang dirasakan, serbuan nyamuk juga mengganggu mereka.
Satu-satunya harapan mereka adalah menunggu pertolongan dari tim Basarnas dan Polairud serta tim gabungan lain untuk mengevakuasi mereka hingga ke daratan.
’’Pasti ada paniknya. Apalagi, saya bertanggung jawab atas keselamatan mahasiswa saya,” kata Ketua Tim Medik FKH Unair drh Bilqisthi Ari Putra MSi kepada Jawa Pos saat ditemui di Laboratorium Patologi FKH Unair Kamis (18/5).
Bilqisthi mengatakan, kendala paling berat saat otopsi paus kali ini adalah medan. Selain itu, bangkai paus masih terendam air. Saat melakukan otopsi, petugas juga terombang-ambing ombak cukup lama. Kondisi air tersebut membuat mobilitas untuk melakukan otopsi jadi sangat berat.
Sekitar pukul 16.30, kapal bantuan dari Basarnas dan Polairud sudah terlihat. Namun, air masih surut sehingga tidak bisa mendekat ke kapal milik tim yang kandas. Yang dibutuhkan hanya makanan karena sudah tidak memiliki tenaga dan dehidrasi.
Hingga akhirnya, proses evakuasi dapat dilakukan sekitar pukul 18.30. Itu pun kejar-kejaran dengan waktu karena takut air kembali surut. Meski mengalami kejadian yang menegangkan saat proses otopsi, seluruh anggota tim FKH Unair tetap semangat dan tidak trauma untuk bertugas lagi.
’’Kami justru semangat. Dan antusias kalau ada otopsi seperti ini lagi. Menjadi pengalaman tidak terlupakan,” kata Nabila Azzah Danitry, mahasiswa FKH Unair. (*/c7/aph)

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
