Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 Mei 2023 | 22.10 WIB

Perlu Tahu soal La Nina dan El Nino agar Tak Gagal Panen

PENGALAMAN PANJANG: Prof Yunita T. Winarto saat ditemui di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, Depok. - Image

PENGALAMAN PANJANG: Prof Yunita T. Winarto saat ditemui di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, Depok.

Prof Yunita T. Winarto dan Ketelatenan Mendampingi Petani Perubahan Iklim

Sejak 2008 di berbagai daerah, Prof Yunita T. Winarto mendampingi para petani yang ingin belajar manfaat penerapan agrometeorologi. Mereka meneliti curah hujan dan dampaknya bagi tanaman serta lahan, melindungi lahan dan tanaman dari hama, serta memilih komoditas dan varietas yang tepat.

SUGIH MULYONO, Jakarta

---

TELAH meneliti sejak 1990, Yunita T. Winarto tahu bahwa masih banyak petani yang hanya mengandalkan pancaindra untuk menentukan waktu tanam. Termasuk tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam tanah yang dikelola.

Tapi, seiring berjalannya waktu, itu tidak akan cukup. ”Apalagi perubahan iklim akan terus terjadi. Kalau ptani tidak siap, akhirnya akan banyak yang gagal panen,’’ tutur guru besar di Universitas Indonesia itu kepada Jawa Pos pada pertengahan Maret lalu.

Penelitian oleh profesor bernama lengkap Maria Atonia Yunita Triwardani Winarto tersebut awalnya dilakukan untuk memenuhi tugasnya meraih gelar doktor S-3 di Australia National University, Canberra. Saat itu, dia melakukan penelitian mengenai sekolah lapangan pengendalian hama terpadu.

”Selesai S-3, saya juga masih terus lanjut penelitian. Jadi, karena itu, saya paham betul dengan kehidupan petani,’’ kata profesor kelahiran Malang, Jawa Timur, pada 1950 tersebut.

Pada 2008, dia ditempatkan di Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai Akademi Profesor Indonesia bidang ilmu sosial dan humaniora. Akademi Profesor Indonesia itu dibentuk oleh dua akademi: Akademi Ilmu Pengetahuan Belanda dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Pada saat itu, pemerintah menyelenggarakan sekolah lapangan iklim di Gunungkidul, Jogjakarta. Tapi, hanya semusim dan setelah itu tidak berlanjut.

Yunita lalu menceritakan kondisi yang dihadapi masyarakat Gunungkidul tersebut kepada Food and Agriculture Organization (FAO/Organisasi PBB yang menangani pangan dan pertanian). Penuturannya ternyata direspons Kees Stigter (kini almarhum), seorang profesor di bidang agrometeorologi.

Agrometeorologi merupakan gabungan antara ilmu agronomi dan meteorologi. Penerapan ilmu tersebut berguna bagi petani untuk belajar menghadapi konsekuensi perubahan iklim. ”Jadi, beliau menawarkan petani belajar itu setelah berhenti dari sekolah lapangan iklim yang tidak lagi dilanjutkan,’’ jelasnya.

Stigter tertarik karena sebelumnya pernah mengunjungi sekolah lapangan iklim yang ada di Indramayu, Jawa Barat. Ternyata, tawarannya disambut hangat oleh para petani Gunungkidul.

Stigter lalu membuat desain pembelajaran agrometeorologi untuk petani. Sedangkan Yunita sebagai mitra bertugas mendampingi mereka yang mau belajar.

’’Jadi, para petani ini akhirnya belajar menjadi peneliti yang mengukur curah hujan, mengamati dampaknya pada tanaman dan lahan, serta lain-lainnya,’’ terangnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore