
PENGALAMAN PANJANG: Prof Yunita T. Winarto saat ditemui di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, Depok.
Prof Yunita T. Winarto dan Ketelatenan Mendampingi Petani Perubahan Iklim
Sejak 2008 di berbagai daerah, Prof Yunita T. Winarto mendampingi para petani yang ingin belajar manfaat penerapan agrometeorologi. Mereka meneliti curah hujan dan dampaknya bagi tanaman serta lahan, melindungi lahan dan tanaman dari hama, serta memilih komoditas dan varietas yang tepat.
SUGIH MULYONO, Jakarta
---
TELAH meneliti sejak 1990, Yunita T. Winarto tahu bahwa masih banyak petani yang hanya mengandalkan pancaindra untuk menentukan waktu tanam. Termasuk tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam tanah yang dikelola.
Tapi, seiring berjalannya waktu, itu tidak akan cukup. ”Apalagi perubahan iklim akan terus terjadi. Kalau ptani tidak siap, akhirnya akan banyak yang gagal panen,’’ tutur guru besar di Universitas Indonesia itu kepada Jawa Pos pada pertengahan Maret lalu.
Penelitian oleh profesor bernama lengkap Maria Atonia Yunita Triwardani Winarto tersebut awalnya dilakukan untuk memenuhi tugasnya meraih gelar doktor S-3 di Australia National University, Canberra. Saat itu, dia melakukan penelitian mengenai sekolah lapangan pengendalian hama terpadu.
”Selesai S-3, saya juga masih terus lanjut penelitian. Jadi, karena itu, saya paham betul dengan kehidupan petani,’’ kata profesor kelahiran Malang, Jawa Timur, pada 1950 tersebut.
Pada 2008, dia ditempatkan di Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai Akademi Profesor Indonesia bidang ilmu sosial dan humaniora. Akademi Profesor Indonesia itu dibentuk oleh dua akademi: Akademi Ilmu Pengetahuan Belanda dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Pada saat itu, pemerintah menyelenggarakan sekolah lapangan iklim di Gunungkidul, Jogjakarta. Tapi, hanya semusim dan setelah itu tidak berlanjut.
Yunita lalu menceritakan kondisi yang dihadapi masyarakat Gunungkidul tersebut kepada Food and Agriculture Organization (FAO/Organisasi PBB yang menangani pangan dan pertanian). Penuturannya ternyata direspons Kees Stigter (kini almarhum), seorang profesor di bidang agrometeorologi.
Agrometeorologi merupakan gabungan antara ilmu agronomi dan meteorologi. Penerapan ilmu tersebut berguna bagi petani untuk belajar menghadapi konsekuensi perubahan iklim. ”Jadi, beliau menawarkan petani belajar itu setelah berhenti dari sekolah lapangan iklim yang tidak lagi dilanjutkan,’’ jelasnya.
Stigter tertarik karena sebelumnya pernah mengunjungi sekolah lapangan iklim yang ada di Indramayu, Jawa Barat. Ternyata, tawarannya disambut hangat oleh para petani Gunungkidul.
Stigter lalu membuat desain pembelajaran agrometeorologi untuk petani. Sedangkan Yunita sebagai mitra bertugas mendampingi mereka yang mau belajar.
’’Jadi, para petani ini akhirnya belajar menjadi peneliti yang mengukur curah hujan, mengamati dampaknya pada tanaman dan lahan, serta lain-lainnya,’’ terangnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
