
TIGA SEGMEN: Penampilan tarian kolosal pada pembukaan PON XII Aceh-Sumut 2024 di Stadion Harapan Bangsa, Aceh, Senin (9/9). (ANGGER BONDAN/JAWA POS)
Pelaksanaan PON XXI Aceh-Sumut 2024 mendapat banyak sorotan. Baik negatif maupun positif. Salah satu yang mendapat pujian adalah pengisi acara pembukaan pada Senin (9/9) lalu. Sebanyak 873 penari sukses menampilkan performa terbaik.
RIZKA PERDANA PUTRA, Banda Aceh
---
APRIL lalu, Hartati mendapat ajakan dari Inet Leimena, creative performing, untuk menjadi koreografer pembukaan PON XXI Aceh-Sumut 2024.
Hartati yang berprofesi sebagai director of choreography lantas mengungkapkan satu keinginan, yakni yang mengerjakan koreografi haruslah anak-anak Aceh.
’’Saya yang mengerjakan konsep koreografi saja,” kata Hartati kepada Jawa Pos, Selasa (10/9). ’’Karena aku berpikir, kami harus memberikan kesempatan teman-teman di Aceh dan mereka pantas mendapatkan itu,” lanjutnya.
Keinginan itu disetujui, dia pun semakin mantap. Apalagi, dia akan berkolaborasi dengan sejumlah profesional lain. Misalnya, Jay Subyakto (direktur artistik), Andi Rianto (music director), Taba Sanchabakhtiar (visual director), Iwan Hutapea (lighting director), dan Inet Leimena.
Tidak memiliki waktu lama, Hartati pun membentuk tim yang mulai bekerja di Aceh. ’’Karena keinginan saya, bukan aku yang merealisasikan (koreografer, Red), melainkan teman-teman Aceh. Lalu, dibentuklah tim,” tuturnya.
Menurut dia, waktu sebulan cukup mepet. Idealnya para penari bergabung mulai Juni. Akan tetapi, mereka ternyata baru bisa berlatih sejak awal Agustus. Karena itu, Hartati berusaha memastikan konsep koreografi sudah rapi terlebih dahulu. ’’Paling tidak kami realisasikan (konsepnya, Red). Jadi, saya sudah menyiapkan satu per satu segmen itu. Kemudian diterjemahkan ke gerak dan konfigurasi,” kata sosok yang menjadi co-choreographer Asian Games Jakarta 2018 dan pembukaan PON Papua 2021 itu.
Dalam berkarya, Hartati dibantu empat asisten. Yaitu, Dudy Gunawan, Grace Alen, Sabri Gusmail, dan Asnawi. Hartati lalu menggandeng 5 koreografer asal Aceh dan 1 dari Jakarta. Plus, 18 pelatih dari Serambi Makkah. Mereka menangani total 873 penari yang mayoritas berasal dari Aceh.
’’Kami tidak datang ke Aceh untuk mendominasi, tapi tentu saja sambil belajar. Saya ingin melibatkan mereka,” kata sosok kelahiran 27 Februari 1966 itu.
Para koreografer asal Serambi Makkah tersebut akhirnya memegang peran masing-masing. Nina Marthavia, koreografer asal Aceh yang tinggal di Jakarta, bertugas pada segmen pertama yang berjudul Maharaya Tradisi Syedara dan Mahakarya Pesona Budaya. Dia membuat koreografi ketika Syair Seumapa dilantunkan.
Di segmen pertama ada juga Zulizar, seorang guru SD asal Bireuen. Dia adalah koreografer ketika rumah panggung di bawah ke tengah lapangan pertunjukan di Stadion Harapan Bangsa. Seluruh rangkaian segmen pertama itu merupakan penggambaran ucapan selamat datang. ’’Itu berarti bahwa kita ingin menyatakan kegembiraan, keterbukaan masyarakat Aceh menerima tamu, dan juga keramahtamahan,” bebernya.
HARTATI. (DOKUMENTASI PRIBADI)

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
