LANGSUNG DIINFUS: Razzaq (kiri) bersama Muhammad Fathurrahman, perawat yang mendampingi, selama UTBK SNBT Minggu (5/5).
Empat hari sebelum ujian tulis berbasis komputer (UTBK) seleksi nasional berdasarkan tes (SNBT), Muhammad Aimanur Razzaq harus opname karena terkena demam berdarah dengue (DBD). Tapi, dia tetap menjalani tes tersebut meski diinfus dan didampingi perawat.
MARIYAMA DINA, Surabaya
RAZZAQ mendapatkan sesi siang untuk UTBK SNBT di Kampus Unesa Lidah Wetan pada Minggu (5/5). Infus pun masih terpasang di punggung tangan kirinya. Perawat terlihat sigap mendampinginya. Tepat sebelum masuk, infus yang sebelumnya terpasang itu dilepas. Dan, hanya meninggalkan jarum di tangannya.
”Dicopot (infusnya, Red). Nanti setelah ujian dipasang kembali. Ini aja masih demam,” katanya. Sejak Rabu (1/5), dia menjalani perawatan di RS Semen Gresik.
Meski kondisi tak sehat, Razzaq ngotot ikut ujian. Sebab, dia sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. ”Banyak orang yang selalu mendukung saya. Dari guru, teman, dan pastinya orang tua juga. Jadi, masih mau menyerah gitu aja? Jadi, saya coba tetap mengikuti tes dengan maksimal agar bisa diterima di prodi dan kampus pilihan saya,” ungkapnya.
Dalam kondisi begitu, Razzaq sebenarnya tidak diperbolehkan dokter untuk melakukan kegiatan berat. Termasuk mengikuti ujian. Untuk mengikuti UTBK SNBT, dia harus berangkat dari Gresik ke Surabaya. Namun, dia bersikukuh ingin mengikuti UTBK sehingga dokter pun mengizinkannya. Tapi dengan beberapa syarat. Salah satunya dengan pendampingan perawat.
Muhammad Fathurrahman, perawat yang bertugas mendampingi Razzaq, memastikan pasiennya tetap bisa mengikuti ujian dengan baik. Fathur mengatakan, pendampingan tersebut untuk memastikan pasien tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.
”Saya harus memastikan elektrolit pada pasien tetap terpenuhi. Karena itu, pasien tetap harus diinfus,” paparnya. ”Selain itu, saya berjaga-jaga kalau misal demam tingginya tiba-tiba muncul, bisa diturunkan dengan memberikan obat untuk menurunkan panas,” lanjutnya.
Razzaq bercerita bahwa gejala DBD dirasakan saat dirinya tengah berlatih soal UTBK. ”Pas latihan soal itu rasanya badan kok kayak panas. Akhirnya terpaksa berhenti latihan soal. Terus pas di rumah sakit dan cek lab ternyata kena DBD dan akhirnya harus dirawat di RS Semen Gresik,” terangnya.
Siswa SMAN 1 Gresik itu sempat bimbang. Mendadak dirawat intensif, padahal ujian sudah dekat. Sempat berpikir apakah dia harus fokus untuk penyembuhan dahulu saja, kemudian kembali ikut ujian. Tapi, setelah dipikirkan matang-matang, Razzaq mengaku tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut.
”Saya sudah persiapan lama. Mulai ikut bimbel hingga terus belajar latihan soal mandiri,” katanya. ”Jadi, sambil opname, saya coba untuk terus belajar juga. Biar waktu ujian bisa tetap maksimal mengerjakan,” tambahnya. (*/c19/ai)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
