
GURU BERDEDIKASI: Anik Prabowo menunjukkan karya siswa berupa kumpulan puisi dan cerpen.
Program rumah karya SMP Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Indonesia (YPPI) 1 Surabaya berjalan sesuai harapan. Penulis muda berhasil dilahirkan. Semua karya dicetak dan dipublikasikan secara umum.
SEPTIAN NUR HADI, Surabaya
RUMAH karya baru berjalan setahun terakhir. Semua itu berawal dari bakat para siswa. Bait-bait puisi serta cerita pendek kerap membanjiri akun media sosial (medsos) para siswa.
Menurut Anik Prabowo, guru kesenian di SMP YPPI, bakat tersebut harus dikembangkan. Apalagi, bakat siswa juga sejalan dengan hobinya di dunia sastra dan kesenian.
Dia kerap terlibat di pertunjukan teater. Namun, Bowo bukan sebagai pemain. Tapi, lebih berada di balik layar sebagai penulis cerita. Kini Bowo merasa bahwa apa yang disenanginya itu perlu ditularkan kepada para siswa.
’’Walaupun baru puisi-puisi sederhana, itu bakat luar biasa. Apalagi mereka masih berusia muda. Jadi, harus dikembangkan,’’ kata pria berusia 26 tahun tersebut.
Melalui rumah karya, dia mempunyai ide memamerkan semua karya tulis siswa. Mulai kumpulan puisi, cerita pendek, hingga novel.
Gagasan itu pun mendapatkan respons positif dari pihak sekolah. Bahkan, di luar prediksi sebelumnya. Bukan lagi sekadar ekstrakurikuler, tetapi pihak sekolah juga meminta rumah karya dimasukkan dalam pembelajaran wajib siswa di kelas. Sejak tahun ajaran baru 2021, setiap minggu para siswa belajar membuat karya tulis.
Puluhan bibit penulis muda pun dilahirkan. Mereka mulai menghasilkan karya. Selain kumpulan puisi dan cerita pendek (cerpen), novel pun berhasil dibuat. Salah satunya, novel berjudul The Secret Diamond Academy.
Novel setebal 300 halaman itu ditulis oleh Tiara Mulan Dewi, siswa kelas VIII di sekolah tersebut. Bekerja sama dengan pihak percetakan lokal, novel berjudul The Secret Diamond Academy telah diterbitkan. Dan, dalam waktu dekat akan dipublikasikan secara umum.
Sampai saat ini sudah ada enam buku yang diterbitkan. Meski terbilang sedikit, itu dinilai capaian yang luar biasa. Meski demikian, ada juga tantangannya. Rasa jenuh dan stres kerap menghampiri siswa.
Mulai dikejar deadline hingga buntu akan ide sering mendorong mereka memilih jalan pintas. Yaitu, dengan cara copy paste di internet. Pada awalnya, sebagian besar siswa melakukan praktik plagiat. Mereka mencomot puisi atau cerpen milik orang lain dalam tugas karya tulisnya.
Beruntung, praktik semacam itu cepat diketahuinya. ’’Plagiat merupakan larangan terberat dalam penulisan. Jika dibiarkan, akan merugikan diri sendiri. Mereka jadi malas berinovasi dan berimajinasi,’’ ucapnya.
Program rumah karya juga menyasar pada aktivitas kesenian lainnya. Mulai pembuatan naskah teater, presenter podcast, kreator konten, hingga membentuk karakter siswa untuk bijak dalam bermedia sosial. Misalnya, menjaring informasi akurat dan menolak berita hoax.
Melalui rumah karya, Bowo menjelaskan bahwa para siswa berlomba-lomba untuk unjuk kreativitas. (*/c6/git)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
