
Petugas Angkasa Pura 1 Bandara Ahmad Yani Semarang menutup pesawat dari bahaya tebaran abu vulkanik merapi.
Lebih lanjut Priyo menceritakan, letusan Merapi kali ini terasa berbeda jika dibandingkan dengan sebelumnya. Kali ini diikuti getaran selama sekitar lima detik. Hingga akhirnya asap tebal membubung tinggi. Warga desa yang hanya berjarak 4 kilometer dari puncak Merapi itu juga merasakan bau seperti belerang yang diduga berasal dari letusan tersebut.
"Saat turun ke bawah tadi, baunya masih begitu menyengat. Karena khawatir terkena wedhus gembel, langsung turun ke bawah saja (ke kantor kecamatan, Red),"
Wedhus gembel adalah sebutan warga sekitar Merapi untuk awan panas yang biasanya menyertai letusan salah satu gunung paling aktif di dunia itu. "Soalnya, tadi asapnya sudah seakan-akan di atas rumah kami," jelas pria 32 tahun tersebut.
Kekhawatiran juga dialami Dalimen Darto Wiyono, warga Desa Sidorejo lainnya. Sebab, saat kejadian, dia menambang pasir tidak jauh dari kediamannya.
Suara gemuruh yang begitu keras dengan diikuti asap tebal yang membubung tinggi membuat dia bersama istrinya mengamankan diri ke kantor Kecamatan Kemalang. "Saat itu saya tidak tahu posisi para penambang lainnya, setelah ada letusan itu bagaimana. Soalnya, saya hanya berusaha untuk menyelamatkan diri bersama anggota keluarga saya dengan naik motor," jelasnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten membagikan masker meski hujan abu tidak terjadi di wilayah kabupaten di Jateng tersebut.
Kemarin BPBD Klaten secara keseluruhan kembali mengirimkan 5.500 masker kepada warga di tiga desa di KRB III. Total sejak letusan pertama Merapi, sudah lebih dari 60 ribu masker dikirim ke daerah rawan erupsi.
"Pasca letusan Merapi yang terakhir, kita sudah memberikan masker di masing-masing desa sebanyak 2.000-3.000 masker. Tapi, kita akan tambahkan masker lagi ke masing-masing desa untuk bisa digunakan warga jika sewaktu-waktu terjadi hujan abu," jelas Camat Kemalang Kusdiyono kepada Jawa Pos Radar Solo.
Lebih lanjut, Kusdiyono mengatakan, saat terjadi letusan kemarin pagi, tidak ada warga yang mengungsi. Hanya ada puluhan warga yang mengamankan diri. Sampai kemarin sore, masih terdapat 19 lansia dan balita yang bertahan di balai desa dan kantor kecamatan Kemalang.
"Ketika terjadi letusan tadi, langsung kita kirimkan petugas ke masing-masing desa untuk langsung melakukan koordinasi," kata Kusdiyono.
Sementara itu, Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Pemerintah Desa Balerante Jainu mengatakan, letusan Merapi kali ini yang paling terbesar jika dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya. Sebab, juga diikuti seperti getaran gempa hingga membuat kaca jendela bergetar.
Itulah yang membuat warga empat dusun di Balerante turun menuju balai desa. "Tapi, setelah dianggap aman, berangsur-angsur kembali ke rumah. Kecuali yang lansia sampai sore sambil menunggu perkembangan Merapi selanjutnya," jelasnya.
Bupati Klaten Sri Mulyani berkunjung langsung ke Balai Desa Balerante untuk menenangkan warga. Dia meminta mereka tidak panik meski harus tetap waspada. "Terkait perkembangan Merapi, kita menunggu rekomendasi BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi) dan BPBD seperti apa," jelasnya.
Sementara itu, kondisi psikologis anak-anak yang ikut mengungsi bersama orang tua masing-masing menjadi perhatian tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jogjakarta. Untuk itu, buat menghibur mereka, dihelatlah humanity food truck, lomba TPA (taman pendidikan Alquran), sekaligus distribusi paket pangan.
Lokasinya dipilih di Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman. Desa tersebut memang disiapkan ACT sebagai integrated community shelter (ICS).

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
