Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Juni 2018 | 01.00 WIB

Saat Merapi Kembali "Batuk": Asap Seolah Sudah di Atas Rumah Kami

Petugas Angkasa Pura 1 Bandara Ahmad Yani Semarang menutup pesawat dari bahaya tebaran abu vulkanik merapi. - Image

Petugas Angkasa Pura 1 Bandara Ahmad Yani Semarang menutup pesawat dari bahaya tebaran abu vulkanik merapi.


Lebih lanjut Priyo menceritakan, letusan Merapi kali ini terasa berbeda jika dibandingkan dengan sebelumnya. Kali ini diikuti getaran selama sekitar lima detik. Hingga akhirnya asap tebal membubung tinggi. Warga desa yang hanya berjarak 4 kilometer dari puncak Merapi itu juga merasakan bau seperti belerang yang diduga berasal dari letusan tersebut.


"Saat turun ke bawah tadi, baunya masih begitu menyengat. Karena khawatir terkena wedhus gembel, langsung turun ke bawah saja (ke kantor kecamatan, Red),"


Wedhus gembel adalah sebutan warga sekitar Merapi untuk awan panas yang biasanya menyertai letusan salah satu gunung paling aktif di dunia itu. "Soalnya, tadi asapnya sudah seakan-akan di atas rumah kami," jelas pria 32 tahun tersebut.


Kekhawatiran juga dialami Dalimen Darto Wiyono, warga Desa Sidorejo lainnya. Sebab, saat kejadian, dia menambang pasir tidak jauh dari kediamannya.


Suara gemuruh yang begitu keras dengan diikuti asap tebal yang membubung tinggi membuat dia bersama istrinya mengamankan diri ke kantor Kecamatan Kemalang. "Saat itu saya tidak tahu posisi para penambang lainnya, setelah ada letusan itu bagaimana. Soalnya, saya hanya berusaha untuk menyelamatkan diri bersama anggota keluarga saya dengan naik motor," jelas­nya.


Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten membagikan masker meski hujan abu tidak terjadi di wilayah kabupaten di Jateng tersebut.


Kemarin BPBD Klaten secara keseluruhan kembali mengirimkan 5.500 masker kepada warga di tiga desa di KRB III. Total sejak letusan pertama Merapi, sudah lebih dari 60 ribu masker dikirim ke daerah rawan erupsi.


"Pasca letusan Merapi yang terakhir, kita sudah memberikan masker di masing-masing desa sebanyak 2.000-3.000 masker. Tapi, kita akan tambahkan masker lagi ke masing-masing desa untuk bisa digunakan warga jika sewaktu-waktu terjadi hujan abu," jelas Camat Kemalang Kusdiyono kepada Jawa Pos Radar Solo.


Lebih lanjut, Kusdiyono mengatakan, saat terjadi letusan kemarin pagi, tidak ada warga yang mengungsi. Hanya ada puluhan warga yang mengamankan diri. Sampai kemarin sore, masih terdapat 19 lansia dan balita yang bertahan di balai desa dan kantor kecamatan Kemalang.


"Ketika terjadi letusan tadi, langsung kita kirimkan petugas ke masing-masing desa untuk langsung melakukan koordinasi," kata Kusdiyono.


Sementara itu, Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Pemerintah Desa Balerante Jainu mengatakan, letusan Merapi kali ini yang paling terbesar jika dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya. Sebab, juga diikuti seperti getaran gempa hingga membuat kaca jendela bergetar.


Itulah yang membuat warga empat dusun di Balerante turun menuju balai desa. "Tapi, setelah dianggap aman, berangsur-angsur kembali ke rumah. Kecuali yang lansia sampai sore sambil menunggu perkembangan Merapi selanjutnya," jelasnya.


Bupati Klaten Sri Mulyani berkunjung langsung ke Balai Desa Balerante untuk menenangkan warga. Dia meminta mereka tidak panik meski harus tetap waspada. "Terkait perkembangan Merapi, kita menunggu rekomendasi BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi) dan BPBD seperti apa," jelasnya.


Sementara itu, kondisi psikologis anak-anak yang ikut mengungsi bersama orang tua masing-masing menjadi perhatian tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jogjakarta. Untuk itu, buat menghibur mereka, dihelatlah humanity food truck, lomba TPA (taman pendidikan Alquran), sekaligus distribusi paket pangan.


Lokasinya dipilih di Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman. Desa tersebut memang disiapkan ACT sebagai integrated community shelter (ICS).

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore