
MODAL NYALEG: Erfin Dewi Sudanto menetapkan sejumlah syarat bagi yang mau membeli ginjalnya.
Erfin Dewi Sudanto bukannya tidak tahu risiko hidup dengan satu ginjal, tapi dia harus melakukannya karena tak punya modal nyaleg lagi. Namun, dia tidak mau membuka berapa harga yang diminta.
FAQIH HUMAINI, Bondowoso
---
SIANG itu, Erfin Dewi Sudanto terlihat santai. Dia mengenakan kaus oblong dan celana jins pendek. Dalam ruangan tersebut, terpampang banner Erfin dengan pose gagah yang menandakan dirinya sebagai caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN).
Kepada Jawa Pos Radar Ijen, Erfin menceritakan keseriusannya yang ingin menjual ginjalnya kepada orang lain. Meski, tindakan tersebut berisiko tinggi terhadap kesehatan serta ada konsekuensi hukum.
Erfin mengaku sudah tidak ada lagi cara untuk mendapatkan uang agar melanjutkan pencalonannya sebagai caleg DPRD Bondowoso dari PAN. "Mungkin tidak ada orang yang rela mengorbankan jiwa raganya untuk kepentingan umum. Mau bagaimana lagi, saya sudah tidak ada uang untuk modal kampanye," ungkap pria yang tinggal di Desa Bataan, Kecamatan Tenggarang, tersebut.
Pria dengan satu istri dan empat anak itu merupakan tamatan SMA PGRI 2 Bondowoso. Dia mengaku ada niat merelakan ginjalnya untuk dijual sejak 2021. Saat itu, dia mencalonkan diri sebagai Kades di Desa Kajar, Kecamatan Tenggarang. Sayangnya, saat itu banyak warga yang tidak tahu karena tidak tercium oleh media. "Cuma, saat itu belum terungkap," katanya.
Saat ditanya soal keberaniannya menjual ginjal dengan risiko terhadap kesehatannya, dia meyakini bahwa kesehatan manusia sudah diatur Tuhan. "Itu menurut akal manusia kan, tapi beda kan kalau Yang Maha Kuasa sudah berkehendak. Seperti teman saya di angkatan, sampai sekarang hidup sehat dengan satu ginjal," ungkapnya.
Demi membuktikan keseriusannya, Erfin menantang kepada wartawan untuk membawakan calon pembeli ginjalnya. Dia akan menjual ginjalnya asal sesuai dengan kriteria yang dia inginkan. "Silakan bawakan kepada saya calon pembeli. Kalau cocok, pasti akan saya jual kok. Saya memang serius menjual ginjal," jelasnya.
Erfin juga mengaku sudah ada tiga calon pembeli yang menghubunginya. Namun, semuanya ditolak lantaran tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkannya. "Ada kriterianya, seperti rutin menyumbangkan hartanya kepada anak yatim, kaum duafa, dan janda tua. Juga, ada lagi persyaratan lainnya," katanya.
Meski begitu, awal mula niat Erfin menjual ginjalnya tanpa sepengetahuan keluarga. Menurut dia, jika sudah diberitahukan kepada keluarga, pastinya tidak akan disetujui. "Pastinya tidak diperbolehkan, tapi sekarang sudah tahu semuanya. Bahkan, saudara saya dari luar Bondowoso datang ke rumah saat mendengar saya jual ginjal," kata peternak ayam tersebut.
Sementara itu, alasan dirinya tidak mencantumkan nominal harga, Erfin menyebut harus melihat dulu keadaan si pembeli. Jika sudah sesuai dengan persyaratan yang diajukan, bisa terjadi transaksional.
Sebelumnya, Erfin ingin bertemu wartawan koran ini. Namun, saat itu gagal. Upaya konfirmasi dilakukan sejak Rabu (17/1) lalu. Namun, pertemuan gagal lantaran caleg tersebut sedang melakukan kunjungan dan kampanye. Kemudian, Kamis (18/1) lalu kembali diagendakan untuk bertemu. Namun, saat wartawan tiba di rumahnya, pria kelahiran 1976 itu tidak ada. Barulah Jumat (19/1) Erfin bisa diwawancarai secara langsung di rumahnya.
Dokter spesialis urologi RS Bhayangkara Bondowoso AKBP dr Heri Budiono menjelaskan, setiap manusia yang sudah mengangkat ginjalnya harus waspada dalam menjalani hidup. Sebab, kesehatannya akan terganggu. Orang yang hanya punya satu ginjal harus ekstra menjaga kesehatannya. "Harus benar-benar sangat menjaga gaya hidup supaya satu-satunya ginjal tersisa itu bisa tetap dalam kondisi sehat," ungkapnya.
Secara medis, manusia memang masih bisa hidup dengan satu ginjal. Namun, harus bisa menjaga pola hidup dengan hati-hati. Misalnya, menghindari adanya benturan yang mengakibatkan ginjalnya bermasalah. ’’Memastikan tidak terjadi trauma benturan. Tapi, pada prinsipnya lebih baik memiliki dua ginjal utuh dibandingkan hanya punya satu ginjal,’’ bebernya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
