Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 April 2022 | 22.14 WIB

Denica Riadini Wujudkan Ketahanan Finansial dan Pangan lewat Fashion

SELARAS: Denica menikmati slow fashion yang mengacu pada proses produksi alami lini busananya. Para ibu binaannya tersebar sampai Kalimantan dan Flores. (IMAM HUSEIN/JAWA POS) - Image

SELARAS: Denica menikmati slow fashion yang mengacu pada proses produksi alami lini busananya. Para ibu binaannya tersebar sampai Kalimantan dan Flores. (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

BERTEPATAN dengan Hari Bumi pada Jumat (22/4) lalu, Denica Riadini Flesch membuka pameran bertajuk "Kapas" di Ashta District 8, SCBD, Jakarta Selatan. Kapas, yang kemudian ditenun menjadi kain katun, memang menjadi bahan utama busana Sukkhacitta, label yang lahir pada 2016. ’’Kami ingin ada produk busana yang bisa sekaligus memberi dampak baik bagi alam dan manusia,” ujar Denica kepada Jawa Pos di sela pameran.

Kapas yang digunakan sebagai bahan baku koleksi Sukkhacitta berasal dari benih yang ditanam oleh para Ibu, sebutan untuk perempuan-perempuan binaan Sukkhacitta. Mereka tersebar di sejumlah desa di beberapa wilayah di Indonesia. Setelah mendapat suplai benih dari Sukkhacitta, mereka menanamnya di desa, merawatnya, dan kemudian memanennya.

Kapas yang dipanen lalu diolah dengan alat pintal oleh para Ibu. Sebelumnya, mereka menjalani pelatihan memintal selama setahun di Rumah Sukkhacitta, pusat pelatihan keterampilan di desa binaan Denica. Benang katun lantas ditenun dan dijahit oleh para Ibu sesuai desain yang dibuat Anastasia Andina Setiobudi, desainer Sukkhacitta.

Sukkhacitta menerapkan konsep slow fashion yang lebih ramah lingkungan. Menurut Denica, dia membutuhkan waktu 180 hari untuk membuat satu baju. Itu karena proses dan bahan bakunya didapatkan secara alami.

’’Kami ikut ritme alam, bukan ikut mode,” tegas ekonom alumnus Erasmus University Rotterdam itu. Makanya, desain koleksi Sukkhacitta cenderung timeless, basic, dan klasik. Bisa dipakai kapan pun tanpa ragu ketinggalan zaman.

Agar berdampak baik bagi alam dan para Ibu, bahan pewarna yang digunakan 100 persen berasal dari alam. Warna biru dan hitam dari daun indigo, merah dari kulit kayu secang dan daun symplocos yang sudah gugur. Kuning dari buah jalawe dan pink dari pelepah pisang. ’’Kalau pakai pewarna kimia, selain mencemari air, cairannya bisa bikin tangan melepuh dan sesak napas,” tambah Denica.

Sisa bahan pun dikelola dengan baik oleh Denica dan timnya. Perempuan yang masuk jajaran Forbes Asia 30 Under 30 kategori Social Entrepreneurship itu mengajak para Ibu mengumpulkan sisa kain dan mengolahnya menjadi produk baru. Misalnya busana dengan patchwork, buku catatan dari sisa kain, ikat rambut, kantong, atau bahkan tag label produk busana. Jadi, hampir tidak ada produk yang menyisakan limbah.

Para Ibu tak hanya menanam kapas di ladang mereka. Sebab, sistem tanam monokultur tidak baik untuk kondisi tanah. ’’Kami pakai sistem tanam tumpang sari. Ada tanaman lain yang ditanam selain kapas, biasanya tanaman pangan seperti kentang, singkong, dan jagung,” papar pebisnis yang mengelola Sukkhacitta bersama suaminya, Bertram Flesch, itu.

Dengan menggunakan sistem tumpang sari, Denica dan para Ibu menciptakan semacam penyerap karbon. Udara di sekitar area tanam pun menjadi bersih. Jika hasil panen kapas digunakan untuk menghasilkan busana, hasil panen tanaman pangan dijual ke pasar atau dikonsumsi para Ibu dan keluarganya. Dengan demikian, ketahanan finansial dan pangan tercapai.

Keterampilan para Ibu pun tak hanya sebatas memintal, menenun, menjahit, atau membubuhkan corak pada kain. Denica dan timnya juga mengajari para Ibu agar punya keterampilan bisnis dan keuangan. ’’Kami menghubungkan para Ibu ini dengan para konsumen. Semua prosesnya jelas, sehingga hasil penjualan baju bisa memberdayakan para Ibu,” papar Denica.

Berkat Sukkhacitta, Denica menyebut pendapatan para Ibu di desa yang digandeng naik sekitar 60 persen. Pendapatan itu tak lantas digunakan untuk foya-foya. ’’Satu baju bisa membiayai 12 keluarga. Para Ibu pakai pendapatan untuk keluarganya, salah satunya menyekolahkan anak-anak,” pungkas Denica.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore