Hampir setiap tahun demam berdarah dengue (DBD) menjadi masalah di Indonesia saat musim hujan datang. Berbagai inovasi sudah dilakukan. Mulai dari fogging, kampanye untuk pengendalian jentik, hingga pengerahan kader sampai dusun-dusun. Kini pemerintah menjajal hal baru, yakni menyebarkan nyamuk yang mengandung bakteri wolbachia. Meski ada kontroversi di akar rumput.
FERLYNDA PUTRI, Jakarta
Surat dengan Nomor INV/2023/NW/1 bertanggal 19 Desember lalu menyatakan somasi kepada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Ini terkait dengan permintaan permohonan penghentian sementara penyebaran nyamuk ber-Wolbachia. Sebab dikhawatirkan akan menimbukan wabah. Pernyataan somasi ini diklaim sudah ditandangani 100 orang lebih dan beberapa organisasi. Sebelumnya, demo dan aksi penolakan serupa sudah terjadi.
Sabtu (23/12) Budi menanggapi hal ini. Menurutnya langkah pemerintah ini sudah tepat. Sebab nyamuk yang ber-Wolbachia sudah dilakukan penelitian ilmiah yang bermula di Jogjakarta 10 tahun lalu. “WHO sudah menerima sebagai salah satu metode untuk mengurangi dengue,” katanya.
Menyebarkan nyamuk ini diharapkan dapat menekan DBD. Memang penyakit ini masih menjadi momok di Indonesia. Kemenkes mencatat 76.449 kasus dengan 571 kematian terjadi pada Januari hingga November tahun ini. Padahal pemerintah menargetkan 2030 dapat mengeliminasi penyakit yang ditularkan oleh nyamuk ini.
Kementerian Kesehatan mencoba menyebarkan nyamuk ber-Wolbachia ke lima kota, yakni Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Bontang, dan Kupang. Di Kupang misalnya, penyebaran dilakukan sejak akhir Oktober. Kemenkes menyebarkan ember yang di dalamnya telur nyamuk yang sudah terdapat bakteri Wolbachia. “Kami melihat Wolbachia bagus. Makanya kami lakukan pilot project dan Kupang salah satunya,” tutur Budi saat menghadiri pelaksanaan pilot project di Kupang.
Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, menjadi percontohan. Sebab di sini, angka DBD yang banyak dengan kesakitan tertinggi. Apalagi Kecamatan Oebobo termasuk berpenduduk padat. Sehingga rawan untuk DBD.
Telur nyamuk yang dibagikan kepada warga akan menetas setelah dua minggu. Tidak cukup di sini, warga juga diberikan pakan nyamuknya. Mirip ternak. kecamatan ini butuh 700 ribu telur setiap minggunya. Pengamatan terus dilakukan hingga kini. Diharapkan dalam satu tahun, populasi nyamuk ber-Wolbachia sampai 80 persen dari populasi nyamuk aedes aegypti yang merupakan inang pembawa dengue. “Mudah-mudahan dengan pilot project ini penularan dengue yang lumayan banyak bisa menurun,” harap Budi.
Pada kesempatan lain, peneliti nyamuk wolbachia dari Universitas Gadjah Mada Adi Utarini menyatakan bahwa sejak 2016 hasil dari penyebaran nyamuk ber-Wolbachia di Jogjakarta sudah berjalan efektif. Dia menyebutkan dengan adanya nyamuk ber-Wolbachia dalam populasi nyamuk di Jogjakarta, kasus DBD sudah 77 persen turun. Bahkan tercatat perawatan untuk kasus DBD juga turun hingga 86 persen, “Angka kejadian DBD saat ini terendah sejak 30 tahun lalu,” tuturnya.
Hasil ini menjadi legasi keberhasilan nyamuk ber-wolbachia dalam menekan dengue. Peneliti pun melaporkan ke badan kesehatan dunia (WHO). “Rekomendasi ke WHO untuk vector control advisory group (VCAG),” kata perempuan yang akrab disapa Uut ini.
Uut memaparkan VCAG dari WHO menyimpulkan sudah ada bukti penyebaran Wolbachia ke populasi nyamuk aedes aegypti sudah menunjukkan dampak bagi kesehatan. Selain itu, data ini sudah dianggap cukup oleh WHO untuk mulai pengembangan pedoman untuk untuk rekomendasi intervensi pelepasan Wolbachia untuk pengendalian dengue. Efikasi ini tidak hanya terlihat di Jogjakarta. Hasil yang konsisten juga terlihat di Brazil, Vietnam, bahkan Australia.
Sebelumnya, tim independen dari Kemenristekdikti juga telah melakukan analisis risiko teknologi dan menyatakan bahwa teknologi Wolbachia berada pada kategori risiko terendah yaitu dapat diabaikan atau negligible. Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) merekomendasikan agar inovasi pencegahan dengue dengan teknologi Wolbachia dapat menjadi kebijakan Kementerian Kesehatan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat dalam penanganan dengue di Indonesia.
“Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik apa yang menjadi goals standard riset di bidang kedokteran dan kesehatan serta sudah menghasilkan bukti ilmiah terbaik,” katanya. Rekomendasi dari WHO dan AIPI ini dinilai valid.
Namun Uut menyebut jika implementasi intervensi Wolbachia sebagai pelengkap dari program pengendalian dengue memerlukan sinergi pusat dan daerah. Perlu dukungan juga dari masyarakat.
Lantas bagaimana nyamuk ber-Wolbachia ini berperan? Nyamuk aedes aegypti betina yang sudah memiliki Wolbachia akan menghasilkan semua telurnya ber-Wolbachia. Bakteri Wolbachia juga bisa pada nyamuk jantan. Jika nyamuk ini membuahi, maka telurnya tidak menetas.
Seperti di Kupang, di Yogyakarta warga juga dititipi ember berisi telur dan pakannya. Setiap dua minggu sekali ember tersebut akan diambil untuk dibersihkan dan diisi lagi dengan telur yang baru serta diletakan pada tempat yang teduh. Tidak setiap rumah diberikan ember ini. peneliti memakai jarak 75 sampai 100 meter untuk setiap ember.
Setelah 6-7 bulan dilakukan pemantauan dengan hasil sekitar 60 persen dari nyamuk Aedes aegypti di alam sudah mengandung Wolbachia. Lalu pelepasan telur akan dihentikan dan dibiarkan berkembang secacaralami.
Uut juga menyatakan, manfaat yang dirasakan lainnya adalah menekan biaya untuk pengendalian nyamuk aedes aegypti. Dia menyebut di Jogjakarta pada 2022 sudah dilaksanak 200 kali fogging. Namun tahun ini baru sembilan kali. “Penghematan bisa sekitar Rp 200 juta,” katanya.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Maxi Rein Rondonuwu menegaskan bahwa melihat keamanan nyamuk ber-Wholbachia maka Kementerian Kesehatan selanjutnya memutuskan untuk memperluas area penyebaran nyamuk Wolbachia di lima kota di Indonesia.
Maxi menekankan meski sudah menunjukan hasil yang baik, penyebaran nyamuk ini tetap dilakukan monitoring dan evaluasi. Kegiatan ini akan dilakukan berkala. ”Tujuannya untuk mengetahui perkembangan dari penyebaran nyamuk ber-wolbachia,” ungkapnya.
Maxi juga menyatakan bahwa Kemenkes juga telah mengeluarkan Buku Pedoman Penanggulangan Dengue dengan metode nyamuk ber-wolbachia di lima kota. Maksudnya untuk memastikan implementasi wolbachia berjalan baik sesuai dengan penelitian di Jogjakarta. (*)