
PRESTASI: Claire, siswa kelas VII SMP Ciputra Surabaya, menunjukkan beberapa medali dan piala yang dia raih dari berbagai perlombaan internasional.
Dalam setahun Claire Margareth Sinto berhasil mengumpulkan 20 medali dari berbagai ajang olimpiade internasional. Baginya, matematika tak sekadar menghafalkan rumus hitung-hitungan, tetapi memahaminya untuk memperoleh jawaban.
GALIH ADI PRASETYO, Surabaya
PADA usia 8 tahun, Claire Margareth Sinto mengikuti olimpiade matematika untuk kali pertama. Kejuaraan tersebut membuat dia makin jatuh hati pada matematika. Setahun terakhir, siswa kelas VII Sekolah Ciputra itu berhasil mengumpulkan 20 medali.
Claire menyukai hitung-hitungan. Termasuk dalam pelajaran sekolah, harus ada angkanya biar bisa lebih paham. Dia tidak begitu menyukai pelajaran hafalan.
Alasannya bikin capek. Hitung-hitungan membuatnya lebih nyaman saat belajar. Hitungan juga dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
”Ini karena saya tidak terlalu suka mengingat sesuatu, tetapi saya menikmati memahami sesuatu dan itulah yang dimaksud dengan matematika. Matematika itu tidak ingat rumusnya. Saya memahami rumusnya sehingga bisa menggunakannya untuk menjawab pertanyaan lain,” kata siswa kelas VII Sekolah Ciputra itu.
Karena menyukai hitung-hitungan, Claire semakin serius belajar matematika. Berbagai olimpiade dia ikuti. Itu dilakukan untuk mengukur seberapa jauh kemampuannya.
Beragam prestasi berhasil didapatkan Claire. Pada 2023, total lebih dari 20 medali diperoleh dari kompetisi internasional, baik di tingkat Asia maupun dunia.
Pada lomba Mental Math World Championship (MMWC) 2023, dia menduduki posisi kedua terbaik di Indonesia. Lomba itu berjalan maraton selama setahun. Pesertanya ribuan. Kompetisi tersebut menuntut peserta berpikir cepat dalam menjawab soal yang diberikan.
”Menurut saya, yang paling mengintimidasi adalah peserta dari India. Mereka sangat siap dan pandai dalam kompetisi matematika mental seperti itu,” terangnya.
Selain itu, Claire juga menyabet medali perunggu International Mathematical Olympiad (IMO) di Hongkong serta medali perunggu World Mathematics Invitational (WMI) di Taiwan.
Itu belum termasuk medali yang dia dapatkan dari lomba di luar matematika. Kompetisi debat misalnya. Pelajar yang hobi membaca buku itu mengatakan, debat berguna mengasah cara berpikirnya. Sebab, dalam debat setiap orang dituntut untuk berpikir kritis. Banyak membaca adalah salah satu modal besar yang sudah dimiliki Claire.
Claire mempelajari matematika dari buku dan internet. Dia tidak mengikuti les privat. Apabila sudah lelah dalam belajar, dia tidak pernah memaksakan diri.
”Kalau sampai capek atau jenuh tidak pernah. Karena belajar matematika ini bebas. Sehari bisa dua atau tiga jam, lalu istirahat. Kalau capek, main game,” ujar anak pasangan dokter Boedi Raharjo Sinto dan Joan Margaretha itu.
Puluhan medali yang sudah dikumpulkan itu tak lantas membuat Claire puas. Tahun depan dia sudah memasang target memenangi kompetisi tingkat dunia.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
