
TAK BERMEDSOS: Sabrang Mowo Damar Panuluh ikut mengisi pengajian Maiyah. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)
JawaPos.com - "Bukan rindu yang datang dari cinta, bukan cinta duluan kemudian rindu, tapi semua cinta adalah manifestasi rindu dari Sang Maha." Kutipan sajak kerinduan dari Sabrang itu beredar di berbagai platform dan akun medsos. Di salah satu akun YouTube, video berisi qoutes tersebut dilihat belasan ribu orang. Meski, durasinya kurang dari dua menit.
Pria bernama lengkap Sabrang Mowo Damar Panuluh itu kerap ikut mengisi pengajian Maiyah. Di forum itu, dia bersama budayawan Emha Ainun Nadjib atau karib disapa Cak Nun yang tidak lain adalah ayahnya.
Sabrang sering dianggap sebagai pendakwah. Qoutes-nya membanjiri linimasa berbagai medsos, bahkan menjadi trending. Padahal, Sabrang tak menggunakan medsos. Namun, dia tidak ambil pusing. Itu lantaran "rule of the game” bermedsos memang belum ada.
Tidak hanya membebaskan makna dari setiap kata yang dia ucapkan, Sabrang tak mempermasalahkan akun yang banyak memuat tentang dirinya. ’’Semua kata-kata itu hak umum, bukan hak milik. Mau dipakai orang ya monggo,’’ ucapnya.
Soal kata-kata tersebut, Sabrang mengaku semuanya muncul dari obrolan biasa. Dia berbicara pun bukan untuk siapa. Melainkan hanya menyampaikan apa yang ada di benaknya. ”Jadi, tidak ada target khusus omongannya untuk siapa. Kebetulan banyak dibuat quotes oleh anak muda,” katanya.
Tidak hanya menyanyi, Sabrang piawai menulis syair lagu. Arti liriknya pun dalam. Multitafsir. Semua bergantung pada yang mendengarnya. Mulai diartikan tentang cinta dengan sesama manusia hingga soal kerinduan kepada Sang Maha. Tak jarang banyak yang berpendapat bahwa lagu Letto sebenarnya sarat akan religi.
Hal itu yang membuat Sabrang sering disebut sebagai pendakwah. Bahkan disebut Gus. Namun, Sabrang tidak pernah memosisikan sebagai penceramah. ’’Nggak pernah saya menganggap sebagai pendakwah,’’ terangnya.
Kalaupun yang disampaikannya berpengaruh ke orang lain, itu bergantung penafsiran masing-masing. Menurut dia, feedback setiap orang berbeda-beda. Ada yang menangkap dengan benar, ada pula yang salah kaprah. Begitu pun di medsos. Ada yang memelintir atau membenturkan dengan isu yang sedang hangat.
Photo
TAMBAH ILMU: Indy Aura Puteri Hartono dan Rica S. Wuryaningrum menyimak ceramah di YouTube kemarin. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)
Menurut dia, di era informasi tanpa kurasi, yang penting adalah disiplin manusia. Jika tidak, society bisa hancur. Sebab, mental belum siap menerima teknologi yang berkembang begitu pesat.
Baca juga: “Pindo Gawe” Ngaji Ihya demi Kenyamanan
Parahnya, medsos menjadi tempat labeling manusia. Misalnya, seorang penyanyi yang hanya dikenal sebagai penyanyi. Padahal, manusia itu multidimensi. Mirisnya, netizen juga lebih mudah men-judge apa yang dia lihat meski hanya melalui video berdurasi pendek.
Di luar itu, popularitas kini dikejar banyak orang. Tidak peduli bagaimana caranya. Sampai-sampai harus membuat kontroversi. ’’Akal sehat hilang semua demi mengejar populer,’’ kata alumnus University Of Alberta, Kanada, itu.
Baca juga: Imbangi Banjir Dakwah Kelompok Intoleran di Medsos
Popularitas tersebut yang juga dikejar pendakwah. Menurut Sabrang, hal itu manusiawi. Wajar jika banyak pendakwah yang memiliki ciri khas sendiri. Sebab, mereka butuh untuk terlihat dan berbeda dari lainnya. Kondisi itu tidak hanya terjadi di medsos, tapi juga di dunia nyata.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=da6wfnq-naU

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
