Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 Maret 2021 | 20.47 WIB

Di Lereng Ijen dan Raung, Pensiunan Polisi Itu Raup Prestasi dari Kopi

SEPENUH HATI: Suyitno menyiangi gulma di ladang kopinya di Bondowoso. (MUCHAMMAD AINUL BUDI/JAWA POS RADAR IJEN) - Image

SEPENUH HATI: Suyitno menyiangi gulma di ladang kopinya di Bondowoso. (MUCHAMMAD AINUL BUDI/JAWA POS RADAR IJEN)

Berbagai penghargaan disabet. Produk kopinya juga terpilih sebagai specialty coffee yang akan dikirimkan ke Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Namun, bagi Suyitno, menanam kopi bukan cuma urusan rezeki dan prestasi, tapi juga konservasi.

MUCHAMMAD AINUL BUDI, Bondowoso, Jawa Pos

---

SETIAP pagi, jalanan berkelok dan menanjak sejauh 15 kilometer itu ditempuhnya. Berboncengan motor dengan sang istri, Suyitno menuju ladang kopi di lereng antara Gunung Ijen dan Gunung Raung yang tak cuma telah memberinya rezeki, tapi juga prestasi.

Ada puluhan pekerja yang bekerja untuknya. Tapi, pria 64 tahun itu tak hendak cuma berpangku tangan dalam pembersihan gulma yang mengganggu tanaman kopi. Dia terlibat langsung.

Bagi Suyitno, untuk mengutip penyair Joko Pinurbo, itulah ”cara merayakan rezeki.”

”Kalau Maret seperti sekarang ini, rutinitasnya memang membersihkan gulma bersama pekerja. Kalau puncak panen (sekitar Agustus–September), bisa butuh waktu sekitar delapan hari untuk memetik semua buah kopinya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Semuanya dilakukan dengan segenap hati dan perhatian. Dan, itu pula yang membuat kebunnya demikian terawat.

Pada 2019, suami Endang Maswawati tersebut meraih penghargaan sebagai pemilik kebun terbaik. Persisnya dalam lomba kebun kopi wilayah Jawa dan Sumatera yang diselenggarakan Expo Kopi Nusantara Kabupaten Bogor dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Suyitno juga menjuarai Uji Cita Rasa Kopi Arabika pada Festival Kopi Nusantara 2016. Setahun kemudian, di ajang yang sama, dia memenangi Specialty Arabica.

Latar belakang pria yang biasa dipanggil Pak Yit itu sejatinya polisi. Dia pensiun dengan pangkat AKP pada 2015. Tapi, kopi memang tak pernah jauh darinya. Dia lahir dan besar di Bondowoso pada 24 Februari 1957, kabupaten yang sejak 2016 mendeklarasikan diri sebagai ”Republik Kopi.” Telah pula menggaet sertifikat indikasi geografis arabika Java Ijen Raung dari Kementerian Hukum dan HAM.

Luas lahan kebun kopi di Bondowoso mencapai 13.649 hektare. Sebagian besar berada di lahan kawasan Perhutani. Namun, para petani sudah mengikat perjanjian kerja sama (PKS) dengan Perhutani untuk mengelolanya.

Lahan kebun arabika harus berada di ketinggian minimal 800–900 mdpl dan robusta di ketinggian 500–700 mdpl. Sentra lahan kopi di Bondowoso terbagi menjadi dua wilayah: barat dan timur. ”Wilayah timur meliputi Sumberwringin, Botolinggo, Cermee, dan Ijen. Wilayah barat meliputi Pakem, Maesan, dan Curahdami,” jelas Plt Kepala Dinas Pertanian Bondowoso Hendri Widodo kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Suyitno mulai menanam kopi pada 1986. Awalnya, dia menanam jenis robusta di lahan milik Perhutani dengan sistem PKS, tepatnya di Blok Se Topeng lereng Ijen-Raung dengan ketinggian 1.400 mdpl. ”Luasnya 2 hektare,” ujar bapak dua putra tersebut.

Panen pertama mantan Kaurbinops Intel Polres Bondowoso itu terbilang berhasil. ”Kopi robusta hasil tanam saya lumayan laris terjual. Saya pun menambah luas area pertanian kopi di lahan Perhutani menjadi 6 hektare,” terangnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, kopi jenis arabika mulai masuk dan dikenal di kalangan petani Sukosari. Secara umum, keasaman arabika lebih tinggi sehingga tidak sepahit robusta. ”Saya tak langsung banting setir. Saya baru menanam arabika pada 2016,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Selain harus ditanam di tanah yang lebih tinggi, perawatan arabika lebih sulit ketimbang robusta karena mudah terserang penyakit. ”Tentu, saat awal menanam kopi arabika, hasilnya tak bagus. Perawatan kopi arabika terbilang sulit,” kenangnya.

Di rumahnya di Desa Sukosari Lor, Kecamatan Sukosari, Suyitno memiliki tempat penyimpanan biji kopi. Di halaman depan rumah, ada etalase produk kopinya. Berbagai sertifikat penghargaan juga dipajang di sana. Gelar kebun kopi terbaik dalam Expo Kopi Nusantara 2019 disabet lewat proses yang meliputi wawancara dan observasi lapangan. Indikator yang menjadi penilaian kebun kopi dalam expo tersebut adalah kondisi fisik kebun, bahan tanam, kultur teknis, panen, pascapanen/pengolahan, produktivitas dan kualitas, serta pemasaran dan kelembagaan.

Kerja kerasnya menanam dan merawat arabika juga berbuah. Awal bulan ini dia menerima surat dari Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan yang menyebutkan bahwa kopi arabika dari kebunnya bakal dikirimkan ke Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat.

Sebelumnya, pada 19 Januari, sampel biji kopi arabika di kebun milik Pak Yit diambil langsung oleh tim Kementerian Perdagangan. Selanjutnya, dilakukan roasting, cupping, dan testing bersama Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) dan barista profesional. Hasilnya, kopi dari kebun Pak Yit dapat dikategorikan specialty coffee. Lalu, biji kopi itu dikirimkan ke tiga negara tersebut melalui KBRI masing-masing.

Mengutip coffeeland.co.id, kopi spesial atau speciality coffee adalah kopi dengan kualitas baik. Kualitas ini dinilai bukan dari komentar penggemar kopi, tapi dinilai seorang Q Grader bersertifikat. Kopi ini diproses secara khusus dengan ketentuan khusus pula, mulai proses awal kopi ditanam sampai disajikan dalam cangkir.

Suyitno tentu bangga dengan capaian tersebut. Sebelum itu pun, produk kopi Java Ijen Raung dengan merek Dako Julie miliknya juga melanglang buana ke seluruh daerah di Indonesia. Dako Julie dijual dengan harga beragam. Kopi bubuk kemasan 10 gram dibanderol Rp 30 ribu dan kemasan 1 kg dijual Rp 300 ribu. ”Kami mengekspor kopi melalui eksportir. Ke depan, kelompok kami mengekspor sendiri,” katanya.

Baca juga: Di Tanah Tinggi Gayo, Siti Kawa Menikah dengan Angin…

Sayangnya, pandemi menghadang. Penjualan Dako Julie mengalami penurunan hingga 70 persen. Harga kopi juga turut anjlok. ”Saat ini omzet kami sebulan turun menjadi Rp 8 juta. Sebelumnya, omzet kami sekitar Rp 20 juta per bulan. Harga jual green bean (biji kopi) juga merosot 50 persen menjadi Rp 40 ribu per kilogram,” jelasnya.

Meski begitu, semangatnya tak pernah sedikit pun kendur. Sebab, bagi Suyitno, menanam kopi bukan sekadar urusan mencari rezeki dan memburu prestasi. Menanam kopi juga bagian dari upaya menjaga keseimbangan alam. ”Memfungsikan hutan sebagai hutan konservasi,” tuturnya.

Baca juga: Kopi Indonesia Kaya Potensi di Pasar Domestik dan Ekspor

Itu pula yang membuatnya rela setiap hari, kecuali Jumat, menempuh 15 kilometer menuju kebun meski total ada 45 orang yang bekerja untuknya. Sedikit ataupun banyak yang dikantongi dari kopi, itulah caranya merayakan rezeki.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://youtu.be/zIsqefnytG0

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore