Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 Desember 2020 | 20.37 WIB

Kali Ini tanpa Pasiar, Sepe, dan Drama Kelahiran Yesus

Menyambut Natal 2022, toko di pinggir jalan Pasar Pagi ramai pengunjung mencari pernak pernik natal (Selasa, 20/12/2022). (Tazkia Royyan/Jpc). - Image

Menyambut Natal 2022, toko di pinggir jalan Pasar Pagi ramai pengunjung mencari pernak pernik natal (Selasa, 20/12/2022). (Tazkia Royyan/Jpc).

Gereja-gereja mematuhi protokol dengan mengadakan peribadatan Natal secara streaming atau membatasi durasi dan jumlah yang hadir. Menteri agama juga berpesan agar umat Kristiani merayakan Natal dalam kesederhanaan.

REZA A., Manado-FENTY A., Kupang-M. HILMI S., Jakarta, Jawa Pos

---

TAK ada yang saling berkunjung kali ini. Tak ada sanak saudara yang akan datang dari jauh. Mencicipi hidangan sembari berbagi cerita dan tawa.

Pasiar, demikian warga Manado, Sulawesi Utara, biasa menyebut tradisi silaturahmi saat Natal. Inilah tradisi yang membuat ibu kota Sulawesi Utara itu, dengan mayoritas penduduknya memeluk Kristen, biasanya begitu ramai dan meriah di Hari Kelahiran Yesus Kristus.

Sanak keluarga yang tinggal di luar kota, pulau, bahkan luar negeri ramai-ramai mudik. Tapi, tidak kali ini.

Pandemi Covid-19 tak cuma membuat perayaan Natal di luar tempat ibadah dilarang. Peribadatan di dalam gereja juga sangat dibatasi. Perjalanan darat, laut, dan udara pun harus melalui rapid test antigen atau swab test terlebih dulu.

"Ibadah perayaan malam Natal Yesus Kristus (tadi malam, Red), ibadah Natal Yesus Kristus tanggal 25 dan 26 Desember 2020, ibadah perayaan akhir tahun tanggal 31 Desember, serta ibadah tahun baru tanggal 1 dan 2 Januari 2021 dilaksanakan di gedung gereja,’’ kata Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa Pdt Dr Hein Arina melalui Sekum Pdt Dr Evert Tangel seperti dikutip Manado Post.

Namun, lanjut Tangel, kehadirannya dibatasi. Hanya pelayan khusus serta perangkat pelayanan jemaat yang datang. Dan, wajib mematuhi prosedur kesehatan.

Sementara itu, pelayanan ibadah bagi anggota jemaat akan melalui live streaming atau pengeras suara.

Kondisi di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang mayoritas warganya pemeluk Katolik juga demikian. Jika biasanya suasana menjelang Natal begitu meriah sejak pertengahan Desember, kali ini tidak demikian.

Sebagaimana dilaporkan Timor Express, di berbagai gereja, tak ada tanda-tanda persiapan. Tak ada tenda yang didirikan. Pernak-pernik hiasan pun absen.

Bahkan, bunga sepe pun seperti ’’malas’’ berbunga. Padahal, berbunganya bunga itulah yang biasanya menandai kedatangan Natal di Kupang.

JAGA KERUKUNAN: Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas disambut imam gereja Pendeta Yorinawa Salawangi di Gereja Blenduk, Semerang, tadi malam (24/12). (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Umat Kristiani mengikuti misa malam Natal di GPIB Immauel, Jakarta, tadi malam (24/12). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Juga tak akan ada pementasan drama kelahiran Sang Juru Selamat. ’’Tahun ini murni hanya ibadat malam Natal dan Natal. Itu pun dipercepat dan harus taat protokol kesehatan,’’ kata Dikson, ketua salah satu kelompok umat basis, di Paroki Gereja St Yoseph Pekerja Penfui, Kupang.

Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Kupang Romo Geradus Duka Pr menjelaskan, umat Katolik di NTT yang hendak mengikuti perayaan langsung di gereja akan dijadwalkan para ketua wilayah. Itu berkaitan dengan kapasitas umat yang boleh mengikuti misa maksimal 50 persen dari kapasitas gereja.

’’Rayakan Natal dengan penuh kesederhanaan dan terus berbagi kasih kepada sesama,’’ kata Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=RuxfqrwNKYE

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore