
GUNAKAN HAK PILIH: Petugas KPPS yang mengenakan baju hazmat lengkap memberikan arahan kepada warga yang mencoblos di tempat karantina RSLK, Rabu (9/12). (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)
Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan target tinggi untuk bisa mendongkrak tingkat partisipasi publik dalam pemilihan wali kota (pilwali) kemarin. Di tengah pandemi, petugas penyelenggara harus rela masuk ke tempat karantina demi mencapai target 70 persen partisipasi publik yang ditetapkan. Itu menjadi momen pertama dalam sejarah pemilu di tengah pandemi.
ARIF ADI WIJAYA-AZAMI RAMADHAN, SURABAYA
JARUM jam menunjukkan pukul 12.30. Dari pengeras suara di Rumah Sakit Lapangan Kogabwilhan (RSLK) II Indrapura, terdengar seruan kepada penghuni tempat karantina yang ber-KTP Surabaya. Mereka diminta siap-siap untuk menggunakan hak pilihnya.
Petugas KPU Kota Surabaya sejatinya sudah menyiapkan tempat di halaman luar rumah sakit lapangan. Namun, karena mendung dan gerimis, lokasi pencoblosan dipindah ke dalam. Satu per satu bilik suara dipasang.
Di TPS (tempat pemungutan suara) rumah sakit lapangan, petugas tidak hanya mengenakan sarung tangan, face shield, dan masker. Semua penyelenggara wajib mengenakan hazmat. Baik petugas KPPS (kelompok panitia pemungutan suara) maupun panitia pengawas (panwas) yang bertugas di lokasi.
Warga Surabaya yang menjalani karantina karena terpapar Covid-19 dipanggil satu per satu.
Total ada 73 orang yang ber-KTP Surabaya. Namun, yang bisa menggunakan hak pilihnya hanya 40 orang. Sebanyak 33 lainnya tidak membawa KTP (kartu tanda penduduk).
Mereka diminta mengantre untuk mencoblos. Jarak antara warga karantina yang satu dan yang lain benar-benar dijaga. Minimal 2 meter per orang. Setelah menyiapkan berbagai protokol kesehatan, TPS di RSLK dibuka sekitar pukul 14.00.
Prosedur pencoblosan di rumah sakit lapangan tidak jauh berbeda dengan di TPS lain pada umumnya. Pemilik suara masuk lewat jalur yang sudah ditentukan. Mereka diwajibkan cuci tangan dan menggunakan sarung tangan plastik sebelum masuk. Surat undangan yang telah diberikan oleh petugas diserahkan. Setelah memenuhi syarat administrasi, petugas memberikan surat suara dan mengarahkannya ke bilik yang telah disediakan.
Bagai Indah Retno, salah seorang warga yang menjalani karantina, mengungkapkan bahwa pilwali kali ini tidak bisa dilupakan. Sebab, dia tidak bisa mencoblos bareng dengan keluarga. Untuk kali pertama, dia mencoblos di tempat karantina. ”Salut saja sama petugasnya yang rela masuk tempat karantina agar kita bisa menggunakan hak pilih kita,” katanya.
Yuan Abadi yang juga menjalani karantina mengatakan, para petugas penyelenggara yang menjalankan tugas di RSLK benar-benar patut diapresiasi. Mereka berani mengambil risiko dengan masuk ke sarang para penderita Covid-19. ”Aku wong Gresik. Cuma kebetulan tadi ikut mantau karena memang saya juga dikarantina di sini,” ucapnya.
Ketua PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) Krembangan Febriyan Kiswanto mengatakan, risiko terpapar Covid-19 sudah diperhitungkan betul. Karena itu, para petugas diwajibkan memakai hazmat lengkap. Tidak seperti di TPS pada umumnya yang cukup menggunakan masker, face shield, dan sarung tangan. ’’Ini sebagai bentuk menjalankan proses demokrasi kepada pasien Covid-19 yang tengah dirawat di rumah sakit lapangan,” katanya.
Baca Juga: Salah Foto Imbas Bentrokan Polisi dengan Laskar FPI
Dia mengungkapkan, pemungutan suara di RSLK Indrapura itu awalnya dilakukan di halaman rumah sakit. Karena cuaca yang tidak menentu, akhirnya pemilihan dilangsungkan di dalam ruangan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Agar penyelenggara tetap aman dan pemilih tetap terwadahi.
”Seluruh petugas difasilitasi hazmat,” katanya kemarin. Dia menyebutkan, jumlah pemilih di RSL Kogabwilhan II Indrapura mencapai 73 orang dengan bukti kepemilikan KTP Surabaya. Hal tersebut, kata dia, sesuai dengan jumlah pemilih yang telah menyetorkan formulir A5 sebagai bukti pindah pilih.
”Tapi, tidak semua memilih. Ada 40 orang yang telah menggunakan hak pilihnya,” ujarnya. Selanjutnya, 40 suara itu diserahkan ke TPS terdekat. Yakni, TPS 31 Kelurahan Kemayoran. ”Ini penghitungannya menyusul karena memang dimulainya belakangan,” terangnya.
Baca Juga: Proposalnya Rp 20,5 Miliar, Nilai Proyek Hanya Rp 6 Miliar
Staf pelayanan medis RSL Kogabwilhan II Indrapura dr Agus Hariyanto mengungkapkan, dukungan penuh telah diberikan kepada petugas untuk melaksanakan pemilihan tersebut. Salah satunya memberikan perlindungan dengan memaksimalkan hazmat dan APD lengkap level III.
”Itu hazmat dan APD level III. Sesuai dengan protap dari RSLK ini. Itu juga sering digunakan petugas,” ungkapnya. Meski demikian, pihaknya tetap memperhatikan tata cara ketika melepaskan APD level III itu. Sebab, ada prosedur khusus yang harus diikuti dan dilakukan dengan baik. ”Penting itu saat pelepasan. Agar tidak ada penyebaran. Meski sudah melalui dekontaminasi,” imbuhnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=YNQWQWaDd7U

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
