Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 November 2018 | 15.00 WIB

Sunyi, Sendiri, Penuh Risiko: Kehidupan Para Penjaga Rompong (1)

DI TENGAH LAUT: Aldi Novel Adilang menambatkan perahu untuk naik ke rompong yang dijaga Deko Tahulending. - Image

DI TENGAH LAUT: Aldi Novel Adilang menambatkan perahu untuk naik ke rompong yang dijaga Deko Tahulending.


Ada aturan tak tertulis, jika ada kapal nelayan yang bukan milik bos rompong datang dan mengambil ikan, penjaga rompong harus sedapat mungkin menahan diri untuk tidak menegur. Kalaupun jumlah ikan yang dikuras sudah keterlaluan, penjaga rompong harus menegur dengan kata sehalus mungkin. ”Kalau tidak, kita (penjaga, Red) bisa dicelakai,” tuturnya.


Salah seorang rekan rompong Aldi pernah menegur dua nelayan asal Pulau Doi, Maluku Utara, yang mengambil ikan di rompongnya. Dua nelayan berperahu kecil itu memang berbalik arah. Namun, keesokan harinya mereka kembali dengan puluhan perahu membawa berkarung-karung batu. Kapal milik bos rompong yang datang untuk panen keesokan harinya jadi korban lemparan batu.


Ada juga risiko kesehatan. Seorang penjaga rompong terkena berbagai risiko penyakit karena angin laut yang kencang dan pola makan yang tidak sehat. Seorang buruh nelayan di Pelabuhan Perikanan Tumumpa, Manado, bernama Deki Tamara sempat bercerita kepada saya bahwa seorang kerabatnya meninggal di rompong.


Deki bercerita, paman istrinya yang bernama Arisno Barhama –berusia 45 tahun– itu ditemukan tergeletak tak bernyawa di gubuknya yang berada sekitar 120 mil laut Sulawesi. Rekannya di rompong terdekat sudah dua malam tidak melihat titik cahaya di kejauhan. Si Arisno tidak menghidupkan lampu rompong. Panggilan radio juga tidak dijawabnya.


Beberapa hari sebelumnya, Arisno mengeluh lewat perbincangan radio bahwa dadanya sakit. Rekannya bertanya mengapa tidak ikut kapal pengantar suplai terakhir ke darat. Arisno mengaku malu untuk pulang ke daratan. Dia memang yatim piatu dan tidak menikah. Mengetahui hal buruk bisa terjadi, rekan Arisno segera mengontak kru darat, melaporkan bahwa Arisno tidak menghidupkan lampu rompong.


Kapal penyelamat pun segera dikirim. Arisno ditemukan sudah empat hari tidak bernyawa. ”Waktu itu menjelang Idul Fitri, sekitar bulan Mei,” ujar Deki.



***



Gangguan lain paling-paling adalah hantu laut yang berseliweran di sekitar rompong. Dako cukup sering mendapati apa yang dia sebut sebagai arwah orang-orang yang celaka di laut itu. Biasanya muncul berbentuk cahaya di horizon. 


Kadang merah, kuning, atau biru. Malam hari muncul di cakrawala, siang harinya tak ada apa-apa di lokasi itu. Hantu-hantu tersebut mendekat ke rompong jika penjaga malas memasang lampu. Semakin redup lampu, hantu akan semakin mendekat. Sebaliknya, jika rompong terang, mereka menjauh. ”Ya, saya berdoa saja,” kata Dako.



***



Meskipun penuh risiko dan jauh dari keluarga, nyatanya menjadi penjaga rompong diminati banyak orang Sulawesi Utara. Diperkirakan, ada lebih dari seribu penjaga rompong di seantero laut Sulawesi dan Maluku Utara. Dengan kontrak kerja yang bervariasi, mulai enam bulan hingga satu tahun. Bahkan, beberapa orang dikabarkan tidak pulang ke daratan selama tiga tahun.


Tidak ada keluarga yang protes karena besaran gaji yang lumayan. Untuk mengobati kerinduan, para penjaga biasanya pulang ke darat beberapa kali dalam setahun untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.


Kadang istri-istri penjaga rompong menyempatkan datang naik kapal ke rompong suaminya. Peraturan membolehkan penjaga rompong untuk tinggal berduaan dengan istrinya di rompong. Asalkan itu istri sah.


Bagaimana jika membawa perempuan yang bukan istri sah? Kata Dako, memang tidak ada aturan yang melarang. Tapi, mereka bakal terkena kualat yang diistilahkan orang Sulawesi sebagai ”soe”. Soe adalah ketika Tuhan tidak berkenan pada penjaga rompong yang melakukan maksiat. Sehingga tidak ada ikan-ikan yang mau masuk ke bawah rompongnya.


Bagi para penyendiri itu, kedatangan tamu adalah anugerah luar biasa. Siang itu Dako segera menjerang air dan menyeduh teh manis untuk disuguhkan ke kami, tamu-tamunya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore