Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 November 2018 | 15.00 WIB

Sunyi, Sendiri, Penuh Risiko: Kehidupan Para Penjaga Rompong (1)

DI TENGAH LAUT: Aldi Novel Adilang menambatkan perahu untuk naik ke rompong yang dijaga Deko Tahulending. - Image

DI TENGAH LAUT: Aldi Novel Adilang menambatkan perahu untuk naik ke rompong yang dijaga Deko Tahulending.


Ini pengalaman pertama Buang bekerja menjaga rakit di tengah lautan. Dia melakukannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Terutama biaya sekolah putranya yang saat ini duduk di kelas III SMA. Meskipun kerap diterjang ombak dan angin, Buang mengaku tidak gentar bekerja di tengah laut. ”Biasanya menjelang sore atau malam angin kencang, tapi saya biasa saja,” ujarnya.


Selain Buang, banyak laki-laki Sulut lainnya yang sudah menghabiskan bertahun-tahun umurnya di lautan. Sebut saja Dako Tahulending. Rompongnya terletak sekitar 5 mil dari rompong Buang. 


Saat kami tiba, perahu merapat, Aldi mengikatkan tambat. Saya dan dia kemudian naik. Dako langsung keluar menyambut. Belum sempat kami berkata apa-apa, dia langsung menodong. ”Yang mana Aldi?” tanya dia.


Saya menunjuk ABG bertopi di sebelah saya. ”Orang Adilang-kah? Mamakku Adilang, kita keluarga,” seru Dako semringah sambil mempersilakan kami. 


Ternyata kabar Aldi yang sedang mengunjungi rompong-rompong sudah tersebar di radio sejak di rakit Buang tadi. ”Aku rencana turun (pulang ke darat, Red) Desember nanti. Aku akan pergi ke Lansa (Desa Lansa, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, kampung halaman Aldi, Red). Akan kucari kau punya rumah,” ujar Dako. Pucuk dicinta, justru Aldi yang datang.



***



Dako sudah 20 tahun bekerja sebagai penjaga rakit. Kali pertama menginjakkan kaki di bambu terapung saat usianya menginjak 30 tahun atau tepatnya pada 1996. ”Waktu itu gaji saya Rp 75 ribu per bulan, lalu naik lagi jadi Rp 100 ribu,” ucapnya.


Waktu itu Dako masih ingat, bulan pertama hidup di tengah lautan, dirinya sering menangis sendirian di rompong. Ingat akan istrinya yang masih muda dan anaknya yang masih kecil. ”Tapi, dua tiga bulan kemudian sudah tidak lagi,” kenangnya.


Pria 54 tahun itu juga masih ingat pengalaman pahit yang dialaminya pada 1997. Saat itu dia menjaga rompong di lepas Pantai Amurang, Minahasa Selatan. Angin bertiup kencang dan ombak bergulung-gulung ganas setinggi hingga 4 meter. Gubuk rompongnya roboh diterjang angin. Tak lama kemudian, tali rompongnya putus. Dia pun hanyut selama beberapa minggu. ”Tapi, akhirnya saya terdampar di kampung halaman sendiri, Pulau Manado Tua,” ucapnya. 


Tapi, hanyut hanyalah satu di antara puluhan risiko bekerja menjadi penjaga rompong. Rakit Buang dan Dako yang kami kunjungi masih tergolong dekat dengan daratan. Aldi yang berjaga di perairan Sangihe atau mereka yang berjaga di perairan Talaud, kepulauan di sebelah utara daratan Sulawesi Utara, berisiko tertabrak kapal yang sedang lewat. Sebab, area di situ merupakan lintasan kapal-kapal besar, tanker, dan kontainer yang menuju Filipina.


Menurut Aldi, sangat mungkin nakhoda kapal silap dan tidak melihat adanya rompong. Saat diselamatkan kru kapal kontainer Panama MV Arpeggio September lalu, dia bisa melihat sensasi besarnya lambung kapal itu. Dari atas kapal, rompongnya sama sekali tidak terlihat. ”Apalagi malam hari, lebih tidak kelihatan lagi,” kenangnya.


Dako bercerita, beberapa hari lalu di perairan Biaro, Kabupaten Siau Tagulandang Biaro, ada laporan sebuah rompong tidak lagi terlihat di tempatnya. Sangat mungkin hanyut. Namun, panggilan radio kawan-kawannya tidak dijawab. Itu yang membuat bergidik. Jika dia cuma hanyut dan rakitnya masih utuh, kemungkinan selamat masih tinggi. ”Tapi, kalau rakitnya sudah rusak, mungkin dia celaka,” jelasnya.


Ada juga risiko soal keamanan. Sendirian di tengah laut, penjaga rompong tidak tahu bajak laut ataukah kapal pencuri ikan yang mana yang bakal lewat. Beberapa nelayan bercerita kepada saya bahwa dulunya kapal pencuri ikan dari Filipina kerap datang ke rompong dan menghardik penjaga rompong agar mau dipanen. 


Bisa dengan kekerasan atau dengan cara lain, yakni disogok dengan minuman keras. Syukurlah, sejak Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti rajin menenggelamkan kapal, orang-orang Filipina itu tak pernah terlihat lagi.


Rompong penuh ikan di tengah lautan memang menggiurkan. Aldi bercerita, kerap kali ada nelayan tak dikenal yang datang mendekat dan memancing di rompong. Beberapa kali bahkan dengan kapal pukat besar.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore