Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 November 2018 | 15.00 WIB

Sunyi, Sendiri, Penuh Risiko: Kehidupan Para Penjaga Rompong (1)

DI TENGAH LAUT: Aldi Novel Adilang menambatkan perahu untuk naik ke rompong yang dijaga Deko Tahulending. - Image

DI TENGAH LAUT: Aldi Novel Adilang menambatkan perahu untuk naik ke rompong yang dijaga Deko Tahulending.


Saya dan Aldi naik ke gubuk. Agak sulit menjaga tubuh tegak karena rompong bergoyang tiada henti. Buang mempersilakan kami. Suara kemerasak keluar dari radio komunikasi. ”Dorang dari wartawan, Jawa Pos. Dari Jakarta, sama Aldi,” kata Buang kepada seorang penjaga rompong lainnya, entah di mana. 


Buang menoleh sejenak ke Aldi. ”Aldi yang anyur (hanyut, Red), so viral itu?” tanya suara di seberang sana. ”Iya, Aldi itu,” jawab Buang.


Setelah itu, banyak suara lain yang bersahut-sahutan berkomentar tentang kedatangan Aldi siang itu.



***



Untunglah, ada mobile transceiver radio. Sedikit jadi medium pengusir kebosanan bagi para penjaga saat hidup di rompong seorang diri.


Para penjaga rompong seperti Buang bisa saling mengobrol dengan ”tetangga” mereka sesama penjaga rompong meskipun jaraknya berjauhan. Satu rompong dengan yang lain berjarak 2 hingga 3 mil laut (3,704–5,556 km).


Kadang, kalau frekuensi tepat, terdengar alunan musik. Seseorang dengan pemutar lagu nun jauh di sana mau berbagi dengan mendekatkan speaker-nya ke mikrofon agar seluruh rompong lain juga bisa mendengar musik.


Sistem radio komunikasi dialiri listrik yang dihasilkan panel tenaga surya yang dipasang di atas gubuk. Sebuah antena radio menjulang berdampingan dengan antena tempat lampu suar penanda posisi berdiri.


Kalau malam, suar akan berkedip-kedip untuk memberitahukan ada rompong di situ. Terutama bagi kapal-kapal yang lewat. Biar mereka tidak ditabrak. 


Kalau musim hujan, panel surya susah menghasilkan listrik karena langit mendung. Tapi, ada cadangan berupa genset ukuran kecil. Beberapa yang lain menggunakan aki mobil. Listrik juga digunakan untuk menghidupkan lampu penarik ikan.


Panjang jalinan rakit 7 hingga 8 meter. Lebar 2,7 hingga 3 meter. Sementara gubuk tempat hidup penjaga berukuran 2 x 1,8 meter. Dengan satu tempat tidur, rak tempat bumbu rempah-rempah, dan tempat masak.


Semua kebutuhan hidup tersedia. Kompor dan gas elpiji, minimal 3 kg. Ada juga yang sedia 5,5 kg. Beras sekitar dua karung isi 10 kilogram, tempat pakaian, jam dinding, terminal stopkontak, alat-alat pancing, kacamata renang, serta yang paling penting: 2 hingga 3 drum berisi masing-masing 250 liter air bersih untuk minum, memasak, dan kadang mandi.


Yang punya rezeki berlebih bisa melengkapi gubuk dengan bermacam-macam alat hiburan. Mulai speaker mp3, TV portabel, bahkan laptop. Sebulan sekali kapal milik bos rompong akan datang untuk mengantarkan suplai bagi penjaga rompong. Mulai beras, air bersih, mi instan, gas, hingga obat-obatan.



***



Buang bercerita, dirinya sudah di rakit lebih dari lima bulan. Awal Desember nanti dia berencana pulang ke rumahnya di Manado untuk merayakan Natal bersama anak dan istri. ”November nanti sudah enam bulan,” ucapnya waktu itu.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore