Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 November 2020 | 21.38 WIB

Menjadikan Hari Pahlawan sebagai Sumber Inspirasi Karya Seni & Sastra

INSPIRASI 10 NOVEMBER: Poster film Battle of Surabaya (kiri). Lukisan sepanjang 10 meter yang ditampilkan Komunitas Perupa Jatim di Surabaya menjelang Hari Pahlawan tahun lalu. (BATTLE OF SURABAYA: MSV PICTURES FOR JAWA POS-ALFIAN RIZAL/JAWA POS) - Image

INSPIRASI 10 NOVEMBER: Poster film Battle of Surabaya (kiri). Lukisan sepanjang 10 meter yang ditampilkan Komunitas Perupa Jatim di Surabaya menjelang Hari Pahlawan tahun lalu. (BATTLE OF SURABAYA: MSV PICTURES FOR JAWA POS-ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Film, lukisan, novel sudah, tapi karya seni instalasi dan musik bertema 10 November belum banyak dieksplorasi. Perlu ada festival besar dari berbagai elemen seniman.

SHABRINA P., Surabaya, Jawa Pos

---

’’TUAN Yoshimuraaaaaa!!!’’ pekik Musa sore itu. Dia menangis hebat.

Tuan Yoshimura, pejabat militer Jepang yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri, ditembak mati oleh sekelompok orang tak dikenal. Dengan cucuran darah yang masih kental akibat luka tembakan, Yoshimura yang berpangkat kapten ’’pergi’’ untuk selamanya.

Padahal Musa tahu, Tuan Yoshimura sangat ingin kembali ke Jepang untuk bertemu putrinya, Kyoko. Sebelum pergi, rupanya kematian yang terlebih dulu menemui pria baik hati itu.

Tuan Yoshimura tak sempat mewujudkan keinginannya: melihat Gunung Fujiyama, lalu menikmati gugurnya bunga sakura. Musa begitu terpukul. Ini adalah kehilangan kedua baginya setelah sebelumnya dia kehilangan ayahnya yang gugur dalam perang melawan pasukan Belanda.

Barangkali Anda ingat secuil nukilan dalam film Battle of Surabaya tersebut? Film yang dirilis 2015 itu mungkin dapat kembali Anda tonton lewat layanan tontonan daring, Amazon.

Film tersebut menceritakan tentang Musa, seorang remaja 14 tahun. Sehari-hari dia menjadi tukang semir sepatu. Namun, dinamika hidup di tengah peperangan membawanya menjadi orang penting dalam pertempuran berdarah di Surabaya pada 10 November 1945.

Sang sutradara film, Aryanto Yuniawan, sengaja menggunakan tokoh Musa sebagai tokoh utama dalam film animasi itu. Dia tidak menggunakan Bung Tomo, Soekarno, atau tokoh-tokoh sejarah lainnya sebagai tokoh utama. ’’Artinya, untuk menjadi pahlawan, tidak harus menjadi pemimpin pasukan perang atau orang yang pendidikannya tinggi, orang yang ’wah’. Orang yang tidak diperhitungkan seperti Musa pun bisa menjadi pahlawan,’’ tutur Ary, sapaan akrab Aryanto.

Battle of Surabaya adalah satu di antara sederet karya seni dan sastra yang mengambil inspirasi dari Perang 10 November di Surabaya yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Pada 1990, sutradara Imam Tantowi juga menelurkan film Soerabaia 45. Idrus, sastrawan angkatan ’45, juga telah menelurkan novel Soerabaja yang berlatar belakang peristiwa 10 November 1945.

Battle of Surabaya telah diputar di enam negara: Indonesia, Republik Irlandia, Belanda, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan. Berderet penghargaan pun telah diraih film itu. Salah satunya Best Animation Feature dari Hollywood International Moving Pictures Film Festival (HIMPFF) 2018.

Ary begitu yakin, sebenarnya film animasi dengan konten sejarah dapat mengambil hati para penikmat film. Sebab, hanya dengan melibatkan 100 animator, Battle of Surabaya terbukti sukses.

Apalagi jika melibatkan lebih banyak animator. Idealnya, kata dia, untuk membikin film animasi panjang dengan kualitas bagus, dibutuhkan 200–300 animator. Tinggal bagaimana ceritanya, pengerjaan animasinya, editing-nya, hingga pemasarannya yang harus dapat menarik minat orang-orang untuk menonton.

Apalagi, Indonesia sangat kaya akan peristiwa bersejarah. Mulai masa kerajaan, peristiwa perang zaman Belanda, hingga sejarah pasca kemerdekaan dan reformasi. Ary sebenarnya sudah membuat konsep sekuel dari kisah Musa. Namun, saat ini dia belum menemukan investor.

Dari ranah seni rupa, Komunitas Perupa Jawa Timur (Koperjati) tahun ini memang tak lagi mengadakan acara November Art. Padahal, agenda tersebut biasanya digelar setiap tahun dalam rangka memperingati Hari Pahlawan.

Contohnya, tahun lalu Koperjati membuat lukisan sepanjang 10 meter yang bertema Hari Pahlawan. Lukisan itu kini disimpan di Museum Tugu Pahlawan.

Photo

INSPIRASI 10 NOVEMBER: Proses dibalik layar film Battle of Surabaya. (BATTLE OF SURABAYA: MSV PICTURES FOR JAWA POS)

Lukisan tersebut memadukan karya banyak pelukis dari berbagai aliran. Namun, demi menyajikan karya bersama yang utuh, mereka bersatu memainkan kuas dan cat dalam sebuah kanvas panjang untuk membuat lukisan realis. ’’Kami pilih aliran realis supaya lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Kami mengerjakan itu berhari-hari,’’ ujar Muit Arsa, ketua umum Koperjati.

Muit juga masih ingat, pada 2018 lalu, November Art menghadirkan banyak seniman yang tampil nonstop, sangat lama. Ada penampilan tari hingga 10 jam, melukis on the spot 11 jam, permainan biola 19 jam, hingga pembacaan puisi selama 45 jam. Semuanya membentuk angka cantik: 10-11-1945.

Hari ini, 10-11-2020, tidak ada perayaan seni dari Koperjati. Awalnya, ada rencana untuk membuat pameran seni di Gedung Balai Pemuda. Namun, atas pertimbangan keamanan dan kesehatan, rencana itu urung diwujudkan.

Gedung Balai Pemuda akhirnya menjadi lokasi pameran keris hari ini. Hingga 15 November mendatang, barang-barang pusaka dipamerkan di sana.

Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) Chrisman Hadi mengatakan, 10 November sebenarnya bukan hanya tanggal yang bersejarah pada era kemerdekaan. Tanggal tersebut juga diperingati sebagai hari berdirinya kerajaan itu.

’’Jadi, 10 November itu hari yang sakral,’’ katanya.

Pertanyaannya kini, ke depan, masihkah Hari Pahlawan bisa menjadi sumber inspirasi bagi kelahiran berbagai karya seni/sastra?

Menurut Chrisman, selama ini Hari Pahlawan lebih banyak menjadi komoditas untuk aktivitas produksi seni. Atau, setidaknya menggelar acara-acara yang bertepatan dengan hari bersejarah itu.

Padahal, memaknai Hari Pahlawan sebenarnya bisa dilakukan dengan cara yang luas lagi. ’’Termasuk di antaranya memamerkan benda-benda pusaka. Itu esensinya mengingatkan kita pada sejarah. Aktivitas berkesenian yang baik tidak hanya berhenti pada produksi karya, tetapi harusnya bisa menimbulkan kecintaan yang lebih dalam kepada bangsa ini,’’ paparnya.

Baca juga:


Sejarawan Universitas Airlangga Purnawan Basundoro menyatakan, karya seni yang menggunakan tema dan latar belakang Hari Pahlawan sebenarnya sudah banyak. Namun, kurang beragam.

’’Saya kira belum banyak karya instalasi seni yang menggunakan tema Hari Pahlawan. Lagu atau musik juga sepertinya belum banyak. Saya rasa para seniman bisa lebih mengeksplorasi hal itu,’’ ungkapnya.

Peristiwa bersejarah ini adalah kejadian yang sangat khas dari Kota Pahlawan. Dia berharap lebih banyak produksi suvenir yang berlatar belakang Hari Pahlawan. Bung Tomo, Hotel Yamato/Hotel Oranje, atau Jembatan Merah bisa menjadi sumber inspirasi.

’’Harapannya, semakin beragam pula kenang-kenangan dari wisatawan tentang Surabaya,’’ ujarnya.

Selama ini, perayaan seni untuk memperingati Hari Pahlawan di Surabaya lebih sering dilakukan secara parsial. Ke depan, lebih baik jika ada festival besar dari berbagai elemen seniman di Surabaya yang sama-sama berkarya untuk memperingati Hari Pahlawan.

Untuk itu, kata Purnawan yang juga dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, perlu ada program khusus yang juga didukung Pemerintah Kota Surabaya. Itu demi menyatukan misi para seniman, khusus untuk memperingati momen 10 November.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=tVKWARA2oOQ

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore