Logo JawaPos
Author avatar - Image
15 Juli 2020, 13.06 WIB

dr Satria, Arek Suroboyo yang Terlibat Riset Vaksin Covid-19 di London

PENELITI VAKSIN: Satria Arief Prabowo ketika menerima penghargaan rekor Muri dari Jaya Suprana. (Satria Arief Wibowo for Jawa Pos) - Image

PENELITI VAKSIN: Satria Arief Prabowo ketika menerima penghargaan rekor Muri dari Jaya Suprana. (Satria Arief Wibowo for Jawa Pos)

Dr Satria Arief Prabowo MD PhD tercatat sebagai doktor bidang ilmu kedokteran termuda oleh Museum Rekor Dunia-Indonesia pada Oktober tahun lalu. Kini pria 27 tahun itu tergabung dalam tim peneliti vaksin terapeutik oral Covid-19 di London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM) di London, Inggris.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

Usia Satria Arief Prabowo masih relatif muda. Namun, sederet prestasinya tidak diragukan lagi. Pada usia 21 tahun, dia sudah menjadi dokter di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair).

Bahkan, dia berhasil meraih doktor termuda di Indonesia pada 2018. Kemudian, pada Oktober 2019, dia kembali mendapatkan penghargaan Muri sebagai doktor bidang ilmu kedokteran termuda di Indonesia.

Tidak berhenti di situ, Satria juga telah menghasilkan ratusan jurnal penelitian, baik nasional maupun internasional. Pada usia 24 tahun, dia terlibat dalam penelitian internasional tentang vaksin tuberkulosis (TB) dengan 20 negara pada 2017. Dia juga menjadi anggota termuda dalam penelitian tersebut.

Saat ini putra pasangan Siswanto dan Nur Elly Yani itu bergabung sebagai tim peneliti vaksin terapeutik oral Covid-19 di London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM) di London, Inggris. Universitas tersebut merupakan kampus terbaik di dunia untuk bidang kedokteran tropis.

Satria berkedudukan sebagai konsultan penelitian.

Satria mengatakan, saat ini dirinya bersama tim peneliti LSHTM dan Immunitor Inc serta Archivel Farma SL (lembaga pengembangan nonprofit di Eropa) telah melakukan pengembangan vaksin Covid-19. Sejatinya, pengembangan vaksin dimulai sejak awal April. Pada saat itu, World Health Organization (WHO) mengumumkan bahwa Covid-19 sudah menjadi pandemi dan menyebar di 100 negara. ”Untuk terapi dibutuhkan waktu cukup lama dan pencegahan melalui vaksin sangat diperlukan,” katanya kepada Jawa Pos via panggilan WhatsApp kemarin.

Pria 27 tahun itu menyatakan, virus korona mengakibatkan outbreak. Pada 2002, terjadi ourtbreak severe acute respiratory syndrome (SARS). Kemudian, pada 2010, terdapat Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS CoV). Pada 2020, Covid-19. ”Ketiganya disebabkan virus korona,” jelasnya.

Bedanya, persebaran Covid-19 sangat masif. Juga, mudah menular dari manusia ke manusia. Karena itu, dibutuhkan vaksin untuk bisa mencegah persebaran virus korona jenis baru itu. ”Seperti yang kita tahu, vaksin biasanya disuntikkan. Dan, untuk mendapatkan injeksi vaksin pada tubuh, dibutuhkan tenaga kesehatan,” ujarnya.

Padahal, pada situasi pandemi seperti ini, banyak orang yang membutuhkan konsumsi vaksin. Nah, vaksin oral bisa diberikan kepada banyak orang dalam waktu lebih singkat. ”Dan ini bisa diminum sendiri tanpa bantuan nakes,” kata pria kelahiran 13 Oktober 1992 itu.

Selain vaksin sebagai pencegahan atau tindakan preventif terhadap persebaran Covid-19, tim peneliti LSHTM mencoba vaksin terapeutik oral Covid-19. ”Ada dua terminologi dalam penanganan Covid-19. Yakni, vaksin dan obat,” ujarnya.

Satria menjelaskan, vaksin bertujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia dalam melawan virus. Sementara itu, obat lebih menarget virusnya langsung. Misalnya, obat antibiotik untuk bakteri, mikroorganisme yang mengakibatkan penyakit. ”Virus itu memasuki sel sehat. Seperti sel-sel pernapasan sehingga menyebabkan sesak napas,” kata dia.

Obat antivirus saat ini masih dicari. Jadi, dibutuhkan vaksinasi untuk upaya pencegahan. Lantaran Covid-19 merupakan penyakit pandemi yang menyebar di seluruh negara, pengembangan vaksin terapeutik oral Covid-19 bekerja sama dengan konsorsium mancanegara untuk uji klinis.

Satria pun terlibat dalam konsorsium tersebut. Negara-negara yang terlibat konsorsium untuk uji klinis itu meliputi Kanada, Ukraina, Tiongkok, dan Mongolia. ”Negara-negara tersebut adalah mitra Immunitor Ltd,” jelasnya.

Saat ini sudah ada prototipe vaksin oral Covid-19. Uji coba pun sudah berjalan di Kanada dan Rusia. Persiapan dilakukan dalam dua bulan terakhir. Juga telah merekrut partisipan untuk uji klinis. ”Mudah-mudahan hasilnya 2−3 bulan ke depan bisa dipublikasikan,” kata Satria.

Tim peneliti LSHTM juga menjalin kerja sama dengan Institut Tropical Disease (ITD) atau Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Universitas Airlangga (Unair). LSHTM dan Immunitor berkomitmen dalam pengembangan vaksin oral Covid-19 di Indonesia agar produksinya dapat dilakukan di dalam negeri. ”Setelah selesai uji klinis produksinya di Indonesia, kami berencana menjalin kerja sama dengan Biofarma selaku BUMN produsen vaksin di dalam negeri,” jelasnya.

Sementara itu, untuk uji klinis vaksin terapeutik oral di Surabaya, ada dua pendekatan. Pertama, tenaga kesehatan (nakes) yang berisiko tinggi. Targetnya, pada pertengahan bulan ini, vaksin oral dapat diberikan kepada nakes yang berisiko tinggi dan diberi kontrol. ”Ketika membandingkan, harus pada dua kelompok. Yakni, kelompok yang diberikan vaksin oral dan tidak,” terangnya.

Kedua, pasien yang kritis. Terapi bisa diberikan kepada pasien kritis yang sudah mendapatkan segala jenis penanganan medis. Pasien diberi terapi vaksin oral dan tidak sebagai pembanding. ”Awal atau akhir Juli ini sudah bisa diujikan,” ujarnya.

Satria menyatakan, dukungan dari ITD sangat baik. Sebab, saat ini Surabaya sedang berada di puncak kasus Covid-19. Jadi, sangat dibutuhkan vaksin terapeutik oral Covid-19. ”Kami mempertimbangkan kemungkinan terjadi gelombang kedua,” ujarnya.

Saat ini proses pengembangan vaksin bersama ITD Unair sedang dalam tahap etical clearance yang membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu. ”Setelah itu, siap diuji klinis,” kata dia.

Selain sibuk dengan riset vaksin oral untuk Covid-19, Satria juga sedang mengembangkan vaksin tuberkulosis (TB) injeksi RUTI. Harapannya juga dapat digunakan untuk Covid-19. Untuk riset tersebut, timnya dari Archivel Farma bekerja sama dengan LSHTM dan University Medical Center Groningen (UMCG), Belanda. ”Saat ini vaksin RUTI sudah masuk tahap uji klinis untuk tenaga medis yang berisiko tinggi terpapar Covid-19 di Spanyol,” jelasnya.

Jadi, untuk pengembangan vaksinasi terapeutik tersebut, lanjut dia, timnya menggunakan dua pendekatan. Pertama, dengan whole innactivated virus. Yakni, vaksin oral yang meggunakan teknologi khusus sehingga dapat menstimulasi kekebalan mukosa (mucosal immunity) dan kekebalan sistemik tubuh pada umumnya.

Pendekatan kedua, timnya mengembangkan vaksinasi terapeutik dengan sistem detoksifikasi dan fragmentasi MTB, yang kemudian dilakukan pasteurisasi dan liofilisasi. Kemudian, diberikan dalam bentuk vaksin berupa liposomal (injeksi). Pendekatan kedua tersebut berpotensi digunakan untuk Covid-19. ”Sebab, vaksin TB memiliki nonspecific protective effect melalui mekanisme trained innate immunity,” terang Satria.

Satria mengatakan, saat ini terdapat dua jenis vaksin yang sedang dikerjakan. Yakni, vaksin oral dan vaksin injeksi. Digunakan pendekatan dan teknologi yang berbeda. ”Masing-masing bermitra dengan Immunitor Ltd serta Archivel Farma dan LSHTM,” ujarnya.

Satria berharap ke depan lebih banyak lagi dokter Indonesia yang terlibat dalam riset internasional. Khususnya di bidang penyakit infeksi. Sebab, selama ini banyak dokter yang memilih untuk praktik dibandingkan fokus pada riset. ”Padahal, Indonesia merupakan negara tropis dan infeksi dengan beban masalah yang besar,” katanya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=MG9xbEqeabM

https://www.youtube.com/watch?v=dK5C-9dTUCY

https://www.youtube.com/watch?v=QIjlvMkI8QI

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore