Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 Februari 2020 | 03.48 WIB

Ketika Mahasiswi UC Surabaya Unjuk Karya di Couture Fashion Week 2020

RUNWAY INTERNASIONAL PERDANA: Mahasiswi Fashion Design and Business Universitas Ciputra Surabaya bersama dosen pembimbing dan model yang mengenakan karya mereka di Couture Fashion Week New York 2020 pada Jumat (14/2). (Glandy Burnama/Jawa Pos) - Image

RUNWAY INTERNASIONAL PERDANA: Mahasiswi Fashion Design and Business Universitas Ciputra Surabaya bersama dosen pembimbing dan model yang mengenakan karya mereka di Couture Fashion Week New York 2020 pada Jumat (14/2). (Glandy Burnama/Jawa Pos)

Dunia fesyen Indonesia tak kekurangan desainer berbakat yang bisa menembus panggung mode internasional. Sebanyak 12 mahasiswi Universitas Ciputra Surabaya terpilih unjuk karya di Couture Fashion Week New York 2020.

GLANDY BURNAMA, New York

Ivona Maria Tanlain, 21, dan Dianita Ratnasari, 21, sibuk merapikan baju koleksi mereka dengan steamer di backstage 4W43 Building, venue Couture Fashion Week, pada Jumat malam (14/2) waktu setempat.

Tepat dua jam sebelum menampilkan karya di runway. Dua mahasiswi angkatan 2016 Fashion Design and Business Universitas Ciputra (FDB UC) Surabaya itu memperhatikan tiap detail jahitan dan kainnya. Memastikan tak ada benang terurai, tak ada kain yang kusut atau ternoda.

Meski wajah tampak datar, perasaan Ivona dan Dian tak keruan. ”Aduh deg-degan sekaligus excited. Ini aku pertama kali show di luar negeri lho,” kata Dian. Pembicaraan terhenti ketika seorang model masuk ke ruangan dan menghampiri Dian untuk fitting busana yang akan dikenakan.

Perasaan yang sama dialami lima rekan Ivona dan Dian yang juga tengah bersiap. Mereka adalah Melinda Caroline, Kartika Edhytya Clareisya, Ajeng Nurillah Wibowo, Tabita Citra Tarasaschia, dan Angelynne Gianina Alexandra. Ada yang memastikan koleksinya lengkap, berkoordinasi dengan model, atau duduk menenangkan diri menjelang show.

Couture Fashion Week 2020 adalah panggung internasional perdana bagi para mahasiswi tingkat akhir itu. Sebelumnya, mereka menampilkan karya di event lokal. Misalnya, Surabaya Fashion Parade atau event fashion show di mal Ciputra World Surabaya.

Yang makin bikin berdebar dan senang, karya para mahasiswi itu bersanding dengan para desainer dari mancanegara. Tahun ini desainer peserta Couture Fashion Week berasal dari Amerika Serikat, Rusia, Venezuela, Tanzania, India, Republik Dominika, Kanada, Senegal, dan Malaysia. Indonesia diwakili para mahasiswi FDB UC dan desainer Geraldus Sugeng.

Sebenarnya, masih ada lima mahasiswi lagi yang seharusnya ikut. Mereka adalah Maria Cindy Valeria, Rani Puspita Setiawan, Devina Gunawan, Michiellina Evelyn Soefianto, dan Firliani Febrianggi. Karena sejumlah kondisi, mereka tak bisa bergabung di New York. Namun, karya mereka tetap ditampilkan.

Pukul 6 sore, show untuk para mahasiswi FDB dimulai. Setiap desainer menampilkan dua koleksi ready-to-wear. Ada yang busana, ada yang aksesori. Motif batik, corak lurik, pola tenun, sulam Jepang, dan desain asimetris rupanya memikat mata undangan yang terdiri atas praktisi fesyen lokal, peminat fesyen, dan sosialita. Tepuk tangan dan senyum penonton bermunculan tepat ketika tujuh desainer muda itu berjalan di runway seusai karya mereka ditampilkan.

Tujuh mahasiswi FDB UC adalah satu-satunya peserta Couture Fashion Week 2020 yang berasal dari institusi pendidikan. Dari segi pengalaman bisnis, level mereka mungkin tidak setinggi peserta lain. Kebanyakan dari mereka adalah desainer ternama dan sudah punya brand. ”Ini yang mahasiswi kami tampilkan adalah tugas akhir atau TA yang sudah dikurasi tim dosen,” ungkap Marini Yunita Tanzil, dosen FDB UC yang mendampingi.

Proses kurasi dimulai saat para mahasiswi itu mengawali semester 7 pada akhir tahun lalu. Tim dosen tidak memberi mereka tema tertentu. Arahan yang diberikan, antara lain, koleksi harus mencerminkan tren musim gugur dan dingin 2020 serta sesuai dengan tren isu industri fesyen. Misalnya, ramah lingkungan, sustainable fashion, pemberdayaan masyarakat, hingga pelestarian budaya. ”Intinya, sesuai dengan selera atau tren global dan apa yang sedang terjadi di masyarakat,” tambah Marini.

Photo

Karya Mahasiswi UC di Couture Fashion Week
New York 2020. (Glandy Burnama/Jawa Pos)

Selama para mahasiswi mengonsep ide desain dan produk fesyen mereka, Marini diperkenalkan oleh seorang rekannya ke Dinaeski Fatimah alias Eski, fashion manager Couture Fashion Week selama empat tahun terakhir. Eski adalah orang yang mengurasi dan menyeleksi koleksi Couture Fashion Week.

Marini mengontak Eski untuk menjelaskan tentang konsep tugas akhir anak didiknya. ”Itu kan menarik banget. Apalagi, anak-anak ini masih muda dan bisa produktif,” kata Eski.

Couture Fashion Week sudah berlangsung selama 14 tahun. Pekan mode yang digagas Andres Aquino ini termasuk salah satu pekan mode terkenal di New York selain New York Fashion Week (NYFW). Desainer-desainer memamerkan karya mereka ke para praktisi dan peminat fesyen di New York dengan biaya pendaftaran yang lebih bersahabat jika dibandingkan dengan NYFW. ”Bisa dibilang ini adalah langkah awal sebelum nanti ke NYFW,” kata Eski.

Meski bertajuk couture atau adibusana, Eski menambahkan bahwa busana ready-to-wear (seperti busana koleksi FDB UC) tetap bisa diperhitungkan untuk masuk. ”Awalnya memang couture, tapi seiring waktu, ada perubahan definisi dari couture ke luxurious ready-to-wear,” kata perempuan yang sudah lima tahun tinggal di New York itu.

Sebetulnya, ada tujuh pendaftar dari Indonesia. Setelah seleksi, hanya FDB UC dan Geraldus Sugeng yang lolos. Begitu terpilih, Marini dan tim dosen menyeleksi karya TA yang sebelumnya sudah dipresentasikan. Pada akhir tahun, diumumkanlah nama 12 mahasiswi yang berkesempatan ikut Couture Fashion Week dari sekitar 60 mahasiswi yang mengikuti TA FDB UC.

Setelah terpilih, para mahasiswi itu memulai perjuangan sesungguhnya. Desain dan konsep yang mereka buat harus segera direalisasikan dalam waktu sekitar 2 bulan. Itu belum termasuk revisi desain atau detail. Masa liburan akhir tahun mereka terpotong karena harus bolak-balik ke kampus untuk asistensi. ”Selama liburan, mereka harus sudah memproduksi karya yang desainnya sudah kami setujui,” kata Yoanita Tahalele, dosen pendamping tujuh mahasiswi FDB UC.

Kesulitan yang dihadapi, antara lain, menemukan bahan dan mencari perajin lokal untuk membantu penyelesaian produk. Ivona, misalnya. Dia harus menunggu kiriman tenun dari Kepulauan Kai, Maluku. Ada pula Angelynn yang mengarahkan perajin batik mangrove di Surabaya untuk membuat desain batik koleksinya. Sementara itu, Tabita sempat kesulitan untuk mencari perajin lurik yang warnanya sesuai dengan keinginannya.

Bahkan, sesampai mereka di New York, masih ada sedikit sentuhan yang harus ditambahkan pada koleksinya. Kartika, misalnya. Mahasiswi asal Bandung itu menjahit sejumlah bagian di koleksi menswear-nya agar lebih rapi. Namun, semuanya terbayar. Show berjalan lancar. Tepuk tangan dan kemeriahan di akhir show mereka seolah menghilangkan penat selama dua bulan terakhir. ”Seneng pastinya karena bisa memamerkan karya secara internasional,” kata Ajeng.

Dua hari sebelumnya para mahasiswi itu memamerkan karya mereka di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) New York. Karya mereka mendapat pujian dari Konjen RI Arifi Saiman. ”Ini menunjukkan bahwa desainer muda Indonesia bisa memberi sesuatu ke fesyen global,” katanya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore