
MEMACU ADRENALIN: Arsa saat bertanding di Horseback Archery Grand Prix 2023 di Banyumas bulan lalu.
Arsa jatuh cinta dengan panahan berkuda karena sangat menantang adrenalin, sedangkan Arum ingin membuktikan siapa pun bisa melakukannya tanpa memandang gender.
LAILATUL FITRIANI, Surabaya
---
ARSA Wening membiarkan kudanya berlari kencang tanpa memegang kendali. Matanya hanya terfokus pada target. Begitu yakin, dia lepaskan anak panah dari busurnya.
Kemarin (7/8) dan hari-hari lainnya selama training camp, itulah yang dia lakukan. Remaja yang bulan ini genap berusia 17 tahun itu tengah fokus mempersiapkan diri kembali mewakili Indonesia dalam kompetisi panahan berkuda internasional di Rusia pada Jumat (18/8).
”Semoga saya bisa kembali mengibarkan bendera Merah Putih di Rusia,” ujarnya kepada Jawa Pos yang menghubunginya dari Surabaya kemarin.
Selama ini, Arsa berlatih hanya saat libur semester atau saat akan mengikuti kompetisi seperti sekarang. Maklum, dia masih pelajar. Meski kerap mewakili Indonesia di kompetisi internasional, Arsa yang bersama keluarga tinggal di Depok itu tetap mengutamakan pendidikan.
”Jadi, waktunya lebih banyak tinggal di asrama dan tidak bisa setiap pekan latihan. Setelah kompetisi kembali masuk asrama,” tutur pelajar kelas XI Maghfirah Islamic Leadership Boarding School (MilBos), Kabupaten Bogor, itu.
Begitu pun sang adik, Arum Nazlus Shabah, yang turut mengikuti jejaknya sebagai atlet panahan berkuda junior. Hanya saat libur panjang sekolah dan jelang kompetisi dia bisa bertemu dengan Santi, kuda cokelatnya.
”Kuda itu lucu dan cerdas,” timpal Arum tentang alasan menyukai kuda.
BUAH KETEKUNAN: Arum saat menjuarai International Horseback Archery Siege System di Ankara, Turki, pada September 2021.
Dalam keluarga kakak beradik itu, panahan berkuda bukan sekadar olahraga. Melainkan juga media untuk mengasah fokus dan disiplin. Begitulah didikan ayah-ibunya. Sejak kecil, mereka sudah diajari memanah dan berkuda.
”Kami lebih dulu belajar panahan ground tradisional. Saya dari kelas IV SD, Arum dari kelas II SD,” kata Arsa.
Busur dan teknik panahan tradisional berbeda dengan busur modern yang biasa digunakan atlet Olimpiade. Tak butuh waktu lama bagi Arsa untuk mempelajarinya. Di bangku kelas V SD, untuk kali pertama dia mengikuti turnamen panahan tradisional di Kahramanmaras, Turki.
Setahun kemudian, dia menjadi anggota termuda organisasi panahan tradisional dunia, World Traditional Archery Organization (WTAO), di Korea Selatan. Meski baru berusia 11 tahun, Arsa mendapat apresiasi dari para master panahan tradisional. Itu disebabkan kemampuannya menguasai teknik dengan baik.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
