
SAYANG ANAK: Aipda Joko Trisno (dua dari kiri) bersama keluarga besarnya di depan rumah. (Arif Adi Wijaya/Jawa Pos)
SEBAGAI penyidik di Polrestabes Surabaya, Aipda Joko Trisno punya tanggung jawab ganda. Dia tidak hanya harus menuntaskan perkara kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), tetapi juga mengasuh para korbannya yang masih anak-anak. Joko sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
ARIF ADI WIJAYA, Surabaya
Tawa riang terdengar di dalam rumah bercat hijau di Jalan Wonorejo Gang I No 83B. Enam anak terlihat asyik bermain di dalam rumah sederhana itu. Meski beda usia, mereka begitu akrab.
Mereka adalah anak-anak Aipda Joko Trisno dan Endra Eka Rianti. Tiga anak merupakan anak kandung. Antara lain, Puty Trisno Febrianti, 12; Ronggolawe Trisno Putro, 9; dan Gadiza Trisno Rahmadania, 6. Tiga lainnya merupakan anak asuh. Salah satunya Ramadan Trisno yang masih berusia 1 tahun.
Dulu, dua anak lainnya merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kakak beradik. Ari (nama samaran), 12, dan adiknya Awang (nama samaran), 5. Keduanya bertemu Joko di ruang penyidik unit perlindungan perempuan dan anak (PPA). ’’Dua anak itu diantar warga yang melaporkan dugaan KDRT oleh ibunya sendiri,’’ katanya.
Joko menyatakan, kasus KDRT yang menimpa keduanya terjadi Juni tahun lalu. Kebetulan Joko merupakan penyidik yang menangani perkara tersebut. Ruangannya di lantai 4 Gedung Anindita Polrestabes Surabaya dipenuhi warga yang tidak bisa menerima perbuatan Tika (nama samaran), ibu kandung Ari dan Awang.
Dari cerita warga, dua bocah malang itu memang sering dipukuli ibunya. Warga kerap melihat langsung saat Tika menampar anak kandungnya Tindakan itulah yang membuat para tetangga geram. ’’Ada yang bilang ibunya itu stres. Tapi, semua itu perlu pembuktian,’’ papar Joko.
Menurut dia, kondisi psikologis ibu korban tidak stabil saat akan diperiksa polisi. Tika tidak bisa menjawab pertanyaan penyidik. Pandangannya kosong saat dibawa warga ke kantor polisi. Karena itu, dia dipulangkan ke kos-kosannya di daerah Dukuh Kupang. Dia diminta kembali ke Polrestabes Surabaya untuk memberikan keterangan keesokan harinya. Untuk sementara, Ari dan Awang tinggal di rumah aman yang dipunyai polisi.
Namun, kini Tika tidak bisa dihubungi. Penyidik sempat mendatangi kos-kosannya. Namun, kamar kosnya sudah kosong. Tidak ada yang tahu ke mana perginya perempuan berkulit putih itu. Hingga tiga bulan penyidik belum mendapatkan informasi terkait keberadaannya.
Meski belum berhasil menemukan Tika, Joko tidak mau menutup perkara yang ditangani begitu saja. Di sisi lain, dia tidak tega melihat dua bocah malang tersebut hidup sebatang kara. Sebab, ayah biologisnya tidak jelas ke mana. ’’Ya seperti itulah kondisinya. Saya tidak tega,’’ ucapnya.
Karena itu, polisi yang juga ketua Komunitas Ershi (polisi angkatan 2001) Cabang Surabaya itu berinisiatif mengasuh dua bocah tersebut. Keduanya dibawa ke rumah Joko. Mereka dikenalkan dengan ketiga anak kandungnya. Termasuk satu anak angkatnya yang saat itu masih berusia 3 bulan.
Joko menuturkan tidak mudah mengasuh dua anak korban KDRT. Ketika itu psikologis mereka terguncang. Mereka masih trauma atas perlakuan orang tuanya. ’’Butuh pendekatan khusus memang. Jadi harus bertahap,’’ papar pria 40 tahun tersebut.
Joko berusaha memberikan penjelasan kepada tiga anak kandungnya. Sebab, dua bocah korban tersebut harus diperlakukan sebagaimana saudara sendiri. Tidak boleh saling membenci dan membeda-bedakan. ’’Mereka (Ari dan Awang, Red) ini kasihan kondisinya. Harus selalu disayang, saling membantu kalau kesusahan. Jangan lupa diajak bercanda. Itulah yang saya tanamkan terus setiap hari kepada anak-anak,’’ jelasnya.
Awalnya, Ari dan Awang memang terlihat minder. Namun, rasa kekeluargaan perlahan mulai tumbuh. Keduanya mau membaur. Mereka tidak canggung lagi saat bercanda, bermain, maupun makan bersama.
Eka, istri Joko, mengatakan tidak keberatan dengan banyaknya momongan di rumah. Dia justru mendukung suaminya yang dinilai punya kepedulian sosial tinggi. ’’Kami tidak pernah mikir biayanya berapa merawat anak karena rezeki sudah ada yang mengatur,’’ ucapnya.
Eka pun menyarankan agar keduanya disekolahkan. Joko setuju dengan pendapat istrinya itu. Saat ini sang kakak belajar di pondok pesantren di Jombang. Adapun adiknya masuk di salah satu SD negeri di Surabaya.
Joko punya mimpi membesarkan anak-anaknya hingga sukses. Baik anak kandung maupun anak angkatnya. ’’Kalau sudah sukses nanti, rencananya saya kembalikan ke orang tuanya. Saya cari sampai ketemu,’’ jelas polisi yang punya usaha konveksi itu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
