Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Desember 2015 | 06.05 WIB

Melihat Semangat Anak Muda Ketika Membaca Buku Jadi Kebutuhan Hidup

BACA BUKU: Di tengah tingginya arus informasi dan teknologi, minat masyarakat untuk membaca buku semakin minim. Namun bukan berarti tidak ada sama sekali yang minat membaca buku. - Image

BACA BUKU: Di tengah tingginya arus informasi dan teknologi, minat masyarakat untuk membaca buku semakin minim. Namun bukan berarti tidak ada sama sekali yang minat membaca buku.

Informasi menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Baik untuk disampaikan kepada orang lain, maupun sebagai bentuk rekam jejak peradaban manusia dan buah pikir.



==================



UNTUK semua tujuan itu, membaca menjadi kebutuhan hidup. Sebuah aktivitas purba yang terus bertahan hingga saat ini.



Memang tak semua orang doyan membaca buku secara intensif. Tapi yang jelas hobi membaca buku merupakan salah satu “anugerah” yang tidak terkira pentingnya.



Melalui hobi positif ini, Anda bisa mendapatkan berbagai pengetahuan hingga informasi terkait banyak hal. Apalagi saat ini, tulisan tidak hanya bisa dicerna dari media fisik seperti buku cetak, melainkan juga secara digital lewat perangkat khusus.



Salah satunya Wisnu Fahrizal. Pemuda berusia 20 tahun ini selalu menghabiskan waktu luang bersama buku. Beberapa novel, komik, juga biografi orang ternama menjadi incarannya setiap kali ke toko buku maupun perpustakaan daerah di Jalan Ir H Juanda, Samarinda Ulu.



“Kalau saya paling senang dengan buku sejarah. Makanya kebanyakan buku-buku yang saya miliki berisikan sejarah, baik sejarah agama maupun sejarah bangsa,” kata Wisnu kepada Samarinda Pos (Jawa Pos Group).



Ketertarikannya dalam dunia membaca dimulai saat duduk di bangku kelas VII. Waktu luangnya sehabis pulang sekolah dimanfaatkan untuk membaca buku pelajaran sampai buku cerita yang selalu dibelikan orang tuanya setiap pekan.



“Orang tua saya dulu sering membelikan buku bacaan. Dari situlah saya mulai senang menghabiskan waktu dengan membaca,” terangnya.



Belakangan, dampak dari manfaat itu mulai dirasakan anak kedua dari tiga bersaudara ini. Salah satunya, tak canggung membahas berbagai hal jika bertemu dengan orang yang baru dikenalnya. Sejumlah pembahasan menarik menjadi jurus jitu untuk membuka pembicaraan, jembatan menuju keakraban.



“Apalagi kalau sudah membicarakan sejarah bangsa. Saya paling doyan. Karena beberapa sejarah yang masih tabu sempat saya baca dan hal itu yang sering saya manfaatkan dalam sebuah obrolan,” terangnya.



Hal senada juga disampaikan Dewi Nunung Sartika. Wanita kelahiran 28 Desember 1985 ini nyaris tak pernah lepas dari buku.



Wanita berparas manis ini lebih suka menghabiskan waktunya seorang diri dengan cara membaca ketimbang berbaur dengan teman sebayanya.



“Dilihat dulu pembahasannya apa, kalau positif ya saya mau ngobrol, tapi kalau ujung-ujungnya hanya ngegosip mending saya membaca buku,” kata Dewi.



Hingga saat ini, wanita yang tinggal di Jalan Ir H Juanda, Samarinda Ulu itu mengaku sudah memiliki lebih dari 50 buku berbagai tema. Berbeda dengan Wisnu yang lebih suka membaca buku sejarah, Dewi lebih senang membaca novel-novel romantis asal Negeri Sakura, Jepang.

Editor: Husain
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore