Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 November 2015 | 16.48 WIB

”Benteng-Benteng Surabaya”, Kado Ady Setiawan untuk Hari Pahlawan

Penelusuran sejarah benteng di Surabaya - Image

Penelusuran sejarah benteng di Surabaya

Buku karya Ady Setiawan membeberkan peran sejarah dan kondisi terkini tujuh di antara sebelas benteng Belanda di sekitar Surabaya. Dengan mengandalkan dana pribadi, dia menghabiskan lima tahun untuk riset, wawancara, serta proses menulis.     



GUNAWAN SUTANTO, Surabaya



FISIKNYA memang ada di Pantai Normandia, Prancis. Tapi, sembari memandang reruntuhan bekas benteng Perang Dunia II di tempat itu, pikirannya melayang, mengajak Ady Setiawan pulang ke kampung halaman di Surabaya.



''Saya langsung teringat ke benteng yang ada di Kalidawir, Bulak Banteng, Surabaya,'' tutur Ady tentang kunjungan ke Normandia pada 12 September 2014 itu.



Sebab, kondisi benteng peninggalan Belanda di Kalidawir tersebut memang mirip dengan yang ada di hadapan matanya di Normandia saat itu. Apalagi, kepergiannya ke Eropa memang terkait dengan benteng di Kalidawir serta benteng lain di Kedung Cowek. Dua wilayah itu bertetangga di Surabaya, tak jauh dari Jembatan Suramadu.



Ke Normandia, dia hanya mampir. Tujuan utama insinyur teknik sipil yang bekerja di Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) itu ke Eropa adalah Belanda. Di Negeri Kincir Angin tersebut, Ady perlu menemui sejumlah veteran dan mendapatkan blueprint pembangunan dua benteng itu.



Sejak 2010, Ady memang berhasrat membuat buku yang bisa menambah khazanah sejarah pertempuran Surabaya. Pertempuran dahsyat yang akhirnya diperingati sebagai Hari Pahlawan tiap 10 November dan melahirkan julukan Kota Pahlawan bagi Surabaya.     



''Awalnya, saya tahunya di Surabaya hanya ada benteng Kalidawir dan Kedung Cowek. Tapi, setelah mendapatkan blueprint dari National Archief di Den Haag, ternyata Belanda membangun banyak benteng di Surabaya dan sekitarnya,'' jelas pria kelahiran Surabaya, 12 September 1982, itu saat ditemui di Surabaya.



Bahkan, dari cetak biru yang dibuat pada akhir 1800-an itu, ditemukan rencana pembangunan benteng di Selat Madura. Berbekal cetak biru itu pula, sepulang dari sebulan riset serta wawancara di Belanda, Ady menelusuri keberadaan benteng-benteng lain di Surabaya dan sekitarnya tersebut.



Ketertarikan awal Ady terhadap pertempuran Surabaya sejatinya lebih terletak pada sisi memori para pejuang Indonesia dan veteran Belanda. Namun, seiring waktu, dia menemukan keunikan dari bekas-bekas benteng Belanda yang ada di sekitar Surabaya.



Akhirnya, buku tentang benteng malah bisa selesai lebih dulu. Sedangkan buku tentang veteran Indonesia dan Belanda dalam pertempuran Surabaya kini belum rampung. Buku yang akhirnya diberi judul Benteng-Benteng Surabaya itu akan diluncurkan 14 November mendatang.



''Sebenarnya ingin saya launching untuk kado Hari Pahlawan (10 November, Red). Tapi, karena kesibukan, baru sempat tanggal 14-nya,'' terang pria 33 tahun itu.



 Selain Belanda, Ady juga mengumpulkan data dan riset dari sejumlah tempat. Mulai Surabaya, Gresik, Madura, Cilacap, sampai Singapura.



''Semuanya saya lakukan dengan uang pribadi dan bantuan seikhlasnya dari teman-teman yang peduli terhadap sejarah,'' ujarnya.



Ada tujuh benteng yang dibahas Ady dalam bukunya. Tersebar mulai Surabaya (benteng Kalidawir, Kedung Cowek, Oosterkust Batterij), Gresik (benteng Semaboeng, Lowediwj), hingga Bangkalan (penyimpanan amunisi di Jaddih, Batuporon). Sebagai pembanding, Ady juga membahas benteng yang ada di Pulau Nusakambangan, Cilacap, dan Pulau Sentosa, Singapura.

Editor: afni
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore