Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 Januari 2019 | 04.05 WIB

Sambut Tahun Baru Dengan Bunyikan Lonceng 2019 Kali

GKJW Jemaat Peniwen - Image

GKJW Jemaat Peniwen

Usai kebaktian tahun baru, bunyikan lonceng dengan jumlah tahun merupakan tradisi yang dilakukan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Peniwen, Kromengan di Kabupaten Malang. Cara unik dalam merayakan malam pergantian tahun itu sudah dilakukan sejak 1930.


Dian Ayu Antika Hapsari, Malang


JawaPos.com - Suasana GKJW Jemaat Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang tampak sibuk ketika JawaPos.com mengunjunginya, Senin (31/12). Kesibukan jelas terlihat di dalam ruangan gereja dan kantor-kantor yang ada di dekat gereja.

Jelas saja, karena tengah mempersiapkan kebaktian malam pergantian tahun. Kesibukan di desa dengan 90 persen penduduk pemeluk Nasrani itu, tidak hanya saat malam pergantian tahun saja.


Memasuki bulan Desember, para jemaat sudah disibukkan dengan aneka perayaaan Natal. Bahkan, totalnya ada 52 perayaan Natal di desa ini. Sangat sibuk ya.


Tidak ingin mengganggu kesibukan para jemaat menyiapkan kebaktian malam pergantian tahun, JawaPos.com berjalan-jalan ke sekeliling gereja. Gereja ini asri, sejuk, dengan langit-langit tinggi dan penuh arsitektur kayu. Bangunannya khas zaman Belanda.

Berdasarkan cerita, gereja ini dibangun sejak tahun 1900-an oleh warga Peniwen asli. Sehingga yang membangun bukan Belanda.
Salah satu ikon yang cukup menarik di gereja ini adalah, lonceng yang berada di menara dengan tinggi sekitar 15 meter.


Pendeta GKJW Jemaat Peniwen Andriono Cipto Santoso menjelaskan, lonceng ini sudah ada sejak tahun 1930. Lonceng legendaris ini adalah benda yang diberikan oleh Belanda alias hadiah.


"Sampai sekarang masih ada dan masih kami gunakan," kata dia kepada JawaPos.com, di gereja.


Andriono menjelaskan, lonceng itu bukan hanya digunakan untuk memanggil jemaat ketika akan dilaksanakan kebaktian saja. Melainkan juga digunakan dalam perayaan pergantian tahun.


Tradisi unik saat pergantian tahun di gereja ini, dilakukan usai para jemaat melakukan kebaktian. Mereka membunyikan lonceng. Ada batu tersusun membentuk anak panah menunjuk jalan menuju ke lonceng ini.


Keunikan tradisi yang dilakukan, bukan karena bunyi lonceng legendarisnya. Melainkan pada jumlah bunyi lonceng. Dimana lonceng akan dibunyikan sesuai dengan jumlah tahun, misalnya 2019. Maka lonceng dibuyikan sebanyak 2019 kali.


Uniknya lagi, hal itu tidak dilakukan secara otomatis dengan mesin. Melainkan dilakukan secara manual. Pendeta Ariono menjelaskan, para jemaat berberis dan membunyikan lonceng.


"Tradisi ini sudah ada sejak adanya lonceng itu. Jadi semua jemaat berbaris dan membunyikan. Siapa saja boleh ikut. Bahkan Mbak juga boleh," kata sang pendeta dengan senyum kepada JawaPos.com.


Membunyikan lonceng ini, bukan semata untuk melestarikan tradisi yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun. Melainkan juga untuk pengingat bahwa tahun mendatang harus lebih baik. "Kami berharap, semakin baik ri tahun depan. Kami bunyikan tepat di malam pergantian tahun," tegas dia.


Suasana di Desa Peniwen ini cocok untuk melewati malam pergantian tahun dengan suasana yang tenang. Jauh dari hiruk pikuk kota, kebisingan kendaraan dan asap knalpot.


Ah, suasana nyaman ini bikin tenang. Sawah hijau terhampar memanjakan penglihatan. Ditambah lagi gunung yang menjulang tinggi di depan mata; dan udara segar yang menggelitik hidung.

Editor: Budi Warsito
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore