
SIAP MANGGUNG: Personel kecimol beraksi sebelum berangkat ke acara nyongkolan.
Di satu sisi, kecimol memang menghadirkan ingar-bingar, hura-hura, hingga tak jarang kericuhan yang berujung perkelahian. Namun, di sisi lain, munculnya kesenian akulturasi tersebut telah menghadirkan banyak harapan. Terutama di tengah sempitnya lapangan pekerjaan.
LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram
HUSNI Mubarok, pria bertubuh gempal pemimpin Kecimol Rizki Group, bukannya tidak tahu aksi boikot di beberapa tempat. Bahkan, sering kejadian, grup musiknya sudah sampai di lokasi acara, pemerintah desa baru menyampaikan larangan. Kesal? Sudah pasti.
’’Saya sering tanya, kenapa dilarang? Kalau hanya karena ricuh atau ada perkelahian, saya rasa bukan karena kecimol. Tetapi karena ada perusuh,’’ katanya.
Husni menegaskan tidak semua kecimol menjual erotisme. Dia juga tak menampik ada beberapa sanggar yang memanfaatkan itu. Tujuannya sudah bisa ditebak. Popularitas dan ketenaran.
Namun, bagi Husni, kecimol asuhannya tidak seperti itu. Dia tidak menampik menggunakan dancer, tetapi bukan untuk aksi menari panas. ’’Anak-anak (personel kecimol) juga saya larang minum (tuak). Meski, bagi sebagian kecimol lain, minum mereka biasakan,’’ tuturnya.
Husni mengaku sudah susah payah merintis Kecimol Rizki Group. Semua berawal dari keprihatinan. Banyak pemuda desa yang menganggur. Husni yang bekerja di sebuah bengkel lalu nekat mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya untuk membeli instrumen alat musik lengkap. ’’Tujuh tahun lalu, banyak pemuda desa yang nganggur. Lalu, anak-anak (muda) yang dekat dengan saya minta saya buat kecimol,’’ tuturnya.
Saat itu Husni sampai harus merogoh kocek cukup dalam. Tidak kurang dari Rp 25 juta dihabiskan untuk membeli berbagai peralatan. Alat yang didapat juga terbatas. Tetapi, mengingat antusiasme warga Lombok cukup tinggi pada seni musik dangdut jalanan, pendapatan yang diterima lumayan besar.
’’Biaya sewa dari Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta. Dulu, nyaris tidak pernah libur. Selalu ada undangan manggung. Kecuali hari Jumat (undangan ditolak). Dari penghasilan itu, kami juga tambah peralatan-peralatan lain,’’ terangnya.
Tidak kurang dari 20 remaja Bengkel Barat yang awalnya penganggur akhirnya dapat pekerjaan. Husni juga yakin, di tengah kontroversi kecimol, seni yang digelutinya saat ini sudah banyak membantu menurunkan angka kriminalitas.
Menurut dia, anak muda sangat rentan dengan perilaku tidak terpuji untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya. Apalagi jika tidak ada pekerjaan tetap. ’’Mau beli rokok, tidak ada duit. Awalnya ambil duit orang tua, lalu milik tetangga. Akhirnya mencuri,’’ ujarnya.
Namun, dengan adanya kecimol, Husni yakin para remaja akan jauh lebih terkontrol. Selain bisa menyalurkan bakat, penghasilan dari dangdut jalanan itu cukup untuk biaya hidup mereka dalam beberapa hari.
Karena itulah, lanjut Husni, rasanya tidak adil jika harus memandang semua pelaku seni sama. ’’Rezeki itu sudah diatur oleh Tuhan. Kami tidak perlu ’menjual’ anak-anak untuk mencari rezeki. Jika Tuhan menghendaki, kami pasti dapat undangan manggung,” yakinnya.
Sebenarnya bukan hanya seni kecimol yang diasuh Husni. Sanggar musik Rizki Group juga siap menghibur gawe (pesta) pada malam hari. Dengan joget ale-ale-nya. Tapi, seperti komitmen awal, Husni selalu mengedepankan kesantunan dan kewajaran dalam berjoget.
Berbagai kejadian dari perkelahian hingga pembunuhan di arena joget cukup jadi pelajaran. Bagi dia, kebebasan berekspresi dan berkreasi tetap harus dibatasi, terutama dari segi estetika adat.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
