
TEPIS PRESEPSI: Hajib dalam salah satu forum sosialisasi KB pria di Blitar. Kelompok Gatotkaca tempat hajib menjadi motivator sejak Maret 2020.
Tak hanya lewat forum resmi, saat kumpul ronda, kenduri, atau nongkrong, ada saja bapak-bapak yang tanya soal KB pria kepada para motivator Gatotkaca. Kerap menemukan persepsi yang salah bahwa vasektomi disamakan dengan dikebiri.
FERLYNDA PUTRI, Jakarta
---
PROGRAM keluarga berencana (KB) kerap diidentikkan dengan ibu-ibu. Padahal, tidak semua cocok dan ada yang berdampak buruk bagi kondisi fisik maupun mental.
Karena itulah, sekelompok bapak di Kelompok KB Pria Gatotkaca Blitar, Jawa Timur, bersedia divasektomi atau memutus saluran sperma dari buah zakar.
Hajib, salah seorang motivator kelompok, menyebutkan, sebagai suami dirinya selalu mendukung penggunaan KB untuk istrinya pasca melahirkan. Terutama setelah anak keduanya lahir pada 2011.
KB yang diikuti mulai suntik hingga pasang IUD. ”Namun, reaksi di tubuh istri tidak baik. Kalau yang suntik itu timbul flek di wajah. Lalu sempat ada pendarahan juga kalau pasang KB (IUD),” katanya kepada Jawa Pos.
Hajib pun jadi khawatir terhadap kondisi istrinya. Babinsa yang bertugas di Kodim 0808 Blitar itu akhirnya memutuskan untuk dirinya saja yang ber-KB.
Ini tentu juga atas saran dari tenaga kesehatan setempat. Hajib mengaku pergulatan batinnya tidak sebentar. Di benaknya kala itu adalah risiko pasca tindakan.
”Namanya dioperasi, meskipun ringan operasinya,” kenangnya.
Akhirnya, pada 2013, setelah anak ketiganya lahir, Hajib mantap vasektomi. Apalagi, dia mendapat informasi bahwa saluran sperma yang sudah diputus dapat disambung lagi jika ingin punya anak. Dia pun mendaftarkan diri dan mengikuti vasektomi.
”Luka sayatan kecil sekali. Dipakaikan Hansaplastsaja untuk nutup lukanya,” tuturnya.
Hajib menyebut rasa perihnya juga tak seberapa. Masih jauh lebih parah sunat.
Motivator Kelompok KB Pria Gatotkaca lainnya, Mochamad Mansur, juga melakukan vasektomi setelah anak ketiganya lahir pada 2011. Sama seperti Hajib, istri Mansur melakukan KB pasca kelahiran setiap anaknya.
Tujuannya menunda kehamilan. Jenis KB yang dilakukan pun bergantian. ”Itu karena ada keluhan. Misal yang suntik satu bulan sekali, beberapa bulan setelahnya ada keluhan. Coba ganti yang tiga bulan sekali, lalu muncul keluhan lagi,” katanya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
