
DUKA: Merah putih berkibar setengah tiang di SD Jimbaran Wetan, Wonoayu, Sidoarjo (kiri). Foto kanan, potret semasa hidup Pudji Hariono.
Bulan depan Pudji Hariono purnatugas atau pensiun dari SDN Jimbaran Wetan, Wonoayu, Sidoarjo. Pelesiran ke luar kota pun diselenggarakan sebagai acara perpisahan. Tidak ada yang menyangka bahwa perjalanan ke tempat wisata itu benar-benar menjadi penanda perpisahan Pudji untuk selama-lamanya.
-----------
RESVIA ALFRILENE, Sidoarjo
EMPAT karangan bunga dipajang di depan gang rumah Pudji Hariono. Salah satunya datang dari Bupati Sidoarjo Saiful Ilah dan Wakil Bupati Nur Ahmad Syaifuddin. Gang kecil tersebut dijejali banyak orang berseragam pegawai negeri sipil (PNS). Karena gang itu terletak di seberang Jalan Raya Kepadangan, Tulangan, keramaian sempat mengakibatkan lalu lintas agak tersendat.
Pudji Hariono adalah salah seorang korban meninggal dalam kecelakaan maut di jalur Magetan–Tawangmangu pada Minggu (26/2). Persisnya di Banaran, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar. Akibat kecelakaan tersebut, enam orang meninggal. Termasuk Pudji yang ketika itu berangkat dengan mengajak sang istri Farida Ismaniyah.
Tahun ini Pudji genap berusia 60 tahun. Surat pensiun Pudji baru saja rampung diurus. Dia bahkan sudah mengagendakan beberapa rencana berlibur bareng Farida. Namun, kini semua itu tinggal rencana belaka. Jurang maut sedalam 10 meter telah merenggut nyawa guru agama yang dikenal begitu sabar tersebut. Selama ini Pudji juga aktif sebagai pelatih Pramuka Kwarda Kabupaten Sidoarjo.
Kemarin (27/2) Farida duduk dengan tenang di antara para tamu. Ada ratusan tamu yang datang. Mayoritas adalah guru dan teman sejawat Pudji. Farida tidak banyak bicara. Dia hanya menunduk sembari ikut melantunkan doa.
Salah seorang kawan baik Pudji sejak muda, Yaumin Khasanah, datang bersama rombongannya dari TK Dharma Wanita Kepatihan. Dia menjabat tangan Farida, lalu memeluknya dengan erat. ’’Mas Pudji, Mbak. Mas Pudji,’’ ucap Farida lirih. Menurut Yaumin, Pudji adalah seorang yang ramah dan serbabisa. ’’Dia suka menyanyi. Main musik juga jago. MC apalagi,’’ jelas Yaumin.
Farida tiba di Sidoarjo kemarin pukul 02.30 bersama jenazah sang suami yang kemudian dimakamkan di makam Desa Kepadangan. Sambil terus berusaha menguatkan diri, Farida akhirnya menceritakan detik-detik mengerikan tersebut. Menurut dia, sejak jalan mulai berkelok, ditambah hujan yang mengguyur lebat, seluruh penumpang mulai histeris. Mereka berteriak ketakutan. ’’Allahu Akbar, Astagfirullah. Itu keluar semua kayak kami mau mati,’’ ungkap Farida. Pada sebuah belokan, Farida merasakan bus kehilangan kendali dan mulai goyang tidak keruan. Rasanya seperti didorong angin yang amat kencang hingga melayang. Ternyata bus itu terjun ke jurang sedalam 10 meter.
Farida dan Pudji duduk di bagian kiri bus. Tepatnya di kursi ketiga dari depan. Akibatnya, mereka langsung merasakan bus nomor polisi K 1677 PB itu menghantam dasar jurang. ’’Tapi, suami saya (Pudji, Red) nggak langsung mati,’’ kata Farida. Dia tampak emosional dalam sekejap. ’’Tangan saya itu digenggam erat begini,’’ lanjut Farida sambil menirukan cara sang suami menggenggam tangannya.
Menurut Farida, sat itu Pudji masih sadar dan bisa bersuara dengan normal. ’’Ayo sayang, berjuang. Pasti ada yang nolong. Kamu nyundul-nyundul ke jendela,’’ perintah Pudji saat itu kepada Farida. Sambil terus bermunajat, keduanya berusaha melambaikan tangan. Sampai di sini, cerita Farida sejenak terhenti. Dia menunduk. Air matanya berlinang.
’’Ya Allah, aku sudah nggak kuat. Ambillah nyawaku, tapi selamatkan isteriku ini,’’ tutur Farida menirukan kalimat terakhir yang diucapkan Pudji. Farida mulai histeris. Tidak lama berselang, genggaman tangan Pudji terlepas.
Dia berada di dasar jurang dalam kondisi terjepit. Penumpang di dekat kursinya sudah tidak bersuara. Yang bagian belakang makin meracau minta diselamatkan lebih dulu. ’’Suami saya meninggal karena pertolongannya terlalu lama. Dia punya jantung lemah dan dibiarkan pingsan berjam-jam,’’ jelas Farida sambil mengusap air mata dari pipinya.
Sesungguhnya Farida menolak ikut ajakan Pudji untuk pelesir ke Magetan dan Tawangmangu. Sebab, tangan kiri Farida baru saja patah akibat kecelakaan sebulan lalu dan belum dapat digerakkan secara normal. Namun, Pudji sempat menyatakan bahwa itulah pelesir terakhirnya dan memohon Farida turut serta. ’’Kalau saya nggak ikut, dia marah karena selalu apa-apa berdua dengan saya. Saya juga paling malah nyesel kalau nggak ikut,’’ ucap Farida. Tangisnya pun kembali pecah.
Hingga kemarin, wajah perempuan 50 tahun itu tampak pucat. Mata sebelah kanannya lebam akibat percikan material yang mengenainya saat proses evakuasi. Dia bahkan belum tidur sejak suaminya dinyatakan meninggal akibat kehabisan oksigen. Makan pun Farida tidak berselera.
’’Gimana saya melanjutkan hidup? Saya sendirian,’’ tuturnya. Meski demikian, Farida bertekad untuk tabah. ’’Kalau saya nangis terus, jalan Mas Pudji ke surga berat,’’ tambahnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
