
DUA WAJAH: Eric Sanjaya saat tampil pada pernikahan di Chang Palace Lontar.
Bukan hanya kepribadian yang ganda, penampilan dan suara juga bisa ganda. Itulah daya tarik Eric Sanjaya di dunia hiburan. Dia memiliki karakter suara yang enggak ada ngebas-ngebasnya. Struktur wajahnya pun terbilang mungil sebagai lelaki.
ASA WISESA BETARI
SOSOK ’’perempuan’’ cantik bergaun putih panjang bertabur bunga berjalan dengan diiringi para penari. Sebagian rambutnya yang hitam disanggul ke atas. Tak lupa, tusuk konde dengan gantungan mutiara terpasang melintang. Sisa rambut yang lain dibiarkan tergerai lurus. Lagu-lagu Mandarin mengalun dalam suara lembut.
Para tamu dalam sebuah pernikahan di Pakuwon Imperial Ballroom malam itu pun terhanyut. Terlebih, memandang lenggak-lenggok tubuh plus senyum aduhai sang penyanyi.
Sambil bernyanyi, dia membaur bersama para penari, lalu bergerak seirama di beberapa bagian lagu. Dua lagu telah dia bawakan dengan baik. Tepuk tangan menyeruak kala penyanyi itu, Eric Sanjaya, menundukkan kepala tanda penghormatan. Para penari berkumpul dengan membuka kipas-kipas mereka. Sim salabim! Si perempuan cantik menghilang. Para penari masih melanjutkan tariannya.
Alunan musik berubah. Si penyanyi kembali muncul. Namun, dengan dandanan yang berbeda. Eric menjadi laki-laki dengan setelan tuksedo dan dasi kupu-kupu. Penampilan mulai ujung rambut hingga kaki berubah total. Suaranya pun berbeda. Para tamu masih tidak menyadari bahwa si penyanyi adalah orang yang sama. Dua lagu Mandarin dinyanyikan pada resepsi tersebut.
Tinggal menyisakan satu lagu lagi dan penampilan Eric selesai. Pada lagu terakhir, dia menyanyikan lagu andalan, yakni Xin Gui Fei Zui Jiu. Lagu itu dipopulerkan artis opera Tiongkok, Li Yugang. Kebetulan, lagu tersebut merupakan lagu Mandarin pertama yang dipelajari Eric.
Lagu itu berkisah tentang Gui Fei, permaisuri zaman Kerajaan Tang yang paling disanjung rakyatnya. Pada suatu hari, permaisuri menantikan sang raja yang hendak menemuinya. Namun, sekian lama menunggu, raja tak datang jua. Ternyata, raja sedang berkunjung kepada selirnya. Permaisuri pun murka dan sedih. Dia mabuk sambil bernyanyi karena raja mengingkari janji untuk datang menemuinya.
Penonton dibuat tercengang saat mendengar suara Eric yang mendadak menjadi perempuan. Suaranya sama dengan perempuan yang menyanyi dua lagu sebelumnya. ”Lho, ternyata cewek tadi cowok,” ucap salah seorang penonton yang terdengar sayup di telinga Eric.
Penonton yang kaget di antaranya langsung tertawa. Ada pula yang berbisik ke kanan dan kiri membicarakan si penyanyi bersuara ganda. Yang semula naksir penyanyi perempuan pun jadi geger. ”Aku denger gerombolan cowok yang bilang, ’Yah, makan tuh cowok!” kenang Eric menirukan ucapan penonton, lalu tertawa.
Dalam setiap penampilan Eric, reaksi penonton memang selalu ditunggu-tunggu. Bahkan, pria kelahiran Sidoarjo, 29 Maret 1982, itu memiliki tim dokumentasi yang bertugas merekam ekspresi para penonton ketika Eric mengubah suaranya. Sorot kamera selalu stand by pada wajah penonton saat lagu terakhir. Tim Eric tentu sudah memegang bocoran kapan Eric akan membuka identitas.
Eric tidak pernah mengeluarkan suara laki-laki ketika tampil dengan pakaian perempuan. Hal itu dimaksudkan untuk menghapus kesan banci show. ”Aku nggak mau dianggap banci. Lalu, disawer. Ih, horor,” katanya. Ya, Eric memiliki pengalaman disawer. Orang memang cenderung memandang bahwa banci adalah pribadi yang suka digoda dan menggoda. Tidak hanya itu, orang yang menganggap penampilan Eric adalah banci show kerap beraksi jahil.
”Dulu ada orang yang mau nyawer. Manggil-manggil ’sayang’. Aku sempat waswas. Duh, nanti kalau duitnya diselipkan di dada gimana. Aku tinggal pergi aja,” ucap Eric, lantas geli. Oleh karena itu, Eric selalu tampil dengan tampilan perempuan dahulu, kemudian laki-laki. Kejutannya berada di akhir penampilan. Sejauh ini, dengan cara itu, Eric tidak mendapat pelecehan.
Sulung di antara tiga bersaudara itu memang tidak pernah menyangka akan jadi penyanyi bersuara ganda. Namun, sejak lulus dari SMA Katolik Diponegoro Blitar, dia berfokus untuk menjalani karir di dunia entertainment. Saat SMA, dia tinggal bersama kakek di Blitar. Ketika kelas XII SMA, Eric mengikuti kursus tarik suara. ”Tapi, ya suaraku masih mentah banget. Vibra aja belum bisa,” katanya di rumahnya, Sutorejo Prima, Mulyosari.
Setelah lulus dari SMA, Eric bergabung dengan grup barongsai di Blitar. Melanglang buana bersama grupnya selama dua tahun, ada seseorang yang menasihatinya. ”Kamu kalau mau fokus di entertain, jangan di sini. Sana ke kota besar biar berkembang,” ujar Eric menirukan. Lalu, putra alm Tan Tjin Liong dan Lin Tjai Jun itu memutuskan kembali ke Surabaya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
