PERAN GANDA: Advokat Yulian Musnandar memperagakan gerakan taekwondo di kantor LBH Mitra, Selasa (4/7).
Yulian Musnandar menjalani dua profesi yang berbeda sejak tahun lalu. Di sela-sela kesibukannya melatih klub taekwondo, dia juga menjadi seorang advokat. Dojang miliknya tumbuh. Jasa pendampingan hukumnya memberikan pendampingan tanpa biaya.
HASTI EDI SUDRAJAT, Surabaya
SETELAH menemui kliennya, Yulian Musnandar, advokat Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mitra, berganti peran. Dia bergegas mengeluarkan gulungan kain putih dan mengenakannya. Kain itu adalah dobok atau baju taekwondo lengkap dengan sabuk hitam.
Yulian memang menekuni taekwondo sejak lama. Jauh sebelum terjun ke dunia advokat. ”Mulai berlatih sejak awal kuliah. Di kampus, ada klub taekwondo,” kata alumnus Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 tersebut.
Beberapa kali bapak tiga anak itu memenangi kejuaraan sebagai atlet taekwondo. Dia juga sempat menjadi atlet puslatda (pemusatan latihan daerah) Jatim proyeksi Pra-PON (Pekan Olahraga Nasional) Kalimantan Timur.
Namun, cedera saat latihan memupus mimpinya untuk meraih prestasi di event olahraga tingkat nasional tersebut.
Dia butuh waktu tiga tahun untuk pulih. Sayangnya, setelah sembuh, Yulian tidak kembali menjadi atlet. Dia memilih berfokus mengabdikan diri sebagai asisten pelatih di klubnya semasa kuliah.
Pada 2016, pria 41 tahun itu akhirnya ”balas dendam”. Dia memutuskan untuk membuat dojang bersama koleganya. Itu istilah tempat latihan taekwondo. Dojang tersebut terus berkembang. Dari awalnya lima anak, kini jumlah anggotanya sudah mencapai 250 siswa. ”Yang paling kecil berusia empat tahun,” ujar Yulian.
Dojang itu kerap menghasilkan atlet berprestasi. Beberapa siswanya sering menjadi langganan juara, mulai tingkat daerah hingga turnamen nasional. ”Kejuaraan terakhir di Piala Wali Kota Solo tahun lalu,” jelas Yulian.
Menurut Yulian, kunci memunculkan atlet berprestasi adalah latihan yang tidak monoton. Di dojang, dia bersama koleganya tidak hanya mengajarkan ilmu taekwondo. Dia juga menyelipkan berbagai program. Misalnya, rekreasi bersama. ”Biar anak-anak rileks. Apalagi menjelang kejuaraan,” ujarnya.
Yulian belum puas dengan capaiannya sebagai pelatih taekwondo. Pada Mei 2022, dia mendirikan LBH Mitra bersama sejumlah teman. Dia merasa tertantang untuk mengaplikasikan ilmu hukum yang didapat ketika kuliah. ”Lebih untuk membantu masyarakat saja. Apalagi bisa menjadi sarana mengembangkan diri,” paparnya.
Menurut dia, banyak yang membutuhkan bantuan hukum, tetapi terkendala biaya. Karena itu, dia tidak mematok biaya dalam memberikan pendampingan hukum. ”Bisa membantu sesama mendatangkan kepuasan tersendiri,” ungkapnya.
Beberapa kasus sudah ditangani LBH Mitra. Salah satunya, kasus tetangga membuang tinja ke halaman rumah di Sukodono, Sidoarjo. Meski mulai disibukkan dengan profesi pengacara, dia tidak lantas melupakan rutinitasnya melatih taekwondo.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
