Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Maret 2017 | 00.05 WIB

Penghuni Paling Sepuh di Gedung Setan, Bahagia Menua Bersama Ibu

KASIH SAYANG: Oei Sing Kie (kiri) menyuapi ibunya, Lou Giok Bi, kemarin (22/3). - Image

KASIH SAYANG: Oei Sing Kie (kiri) menyuapi ibunya, Lou Giok Bi, kemarin (22/3).


Bak dua pribadi yang menyatu. Selalu bersama. Tak bisa dipisahkan. Itulah Oei Sing Kie dan ibunya, Lou Giok Bi. Sing Kie, sapaannya, memberikan seluruh waktunya, siang dan malam untuk merawat sang ibu.




ASA WISESA BETARI, Surabaya 


------------------------------


KALAU bukan anak sendiri, siapa lagi yang mau merawat,” ucap Sing Kie kala ditemui sore itu, Senin (20/3). Waktu menunjuk pukul 15.35. Saatnya jalan-jalan.



Sing Kie menggendong ibunya dan menaruhnya ke kursi roda untuk dibawa keluar dari rumah. Di situ, biasanya perempuan tua tersebut lantas duduk di halaman depan gedung sembari memandang orang-orang yang lewat silih


berganti.



Sing Kie mengenakan celana pendek dan kaus berkerah. Dia mengganti baju ibunya dengan daster bermotif bunga-bunga berwarna oranye. Badan sudah segar sehabis mandi. Wangi bedak dan sabun pun tercium.



”Saya habis nyuci pakaian ibu saya. Sekalian saja nunggu kering,”ucapnya sambil sesekali memindah posisi beberapa pakaian yang tergantung dengan hanger. Dia kemudian duduk di depan warung kelontong.



Sing Kie dan ibunya tampak kompak memakai topi berwarna senada. Biru donker. ”Nih biar keren. Saya juga suka gonta-ganti ini,” katanya sambil memasangkan serbet kotak-kotak berwarna merah yang biasanya digunakan untuk lap piring. Namun, serbet itu dialihfungsikan menjadi scarf.



Sing Kie punya beberapa serbet dengan motif sama. Hanya warnanya yang berbeda. Kalau si ibu memakai merah, dia pun memakai warna sama. Serbet dilipat segi tiga dan dikalungkan di leher. Lalu diikat menggunakan karet.



Si ibu, Lou Giok Bi, adalah perempuan berusia hampir satu abad. Umurnya 97 tahun. Di usianya kini, dia menduduki peringkat pertama sebagai manusia tertua yang hidup di Gedung Setan yang beralamat di Banyu Urip Wetan 1A Nomor 107 tersebut.



Anak semata wayangnya, Sing Kie, juga tak lagi muda. Tahun ini usia Sing Kie 77 tahun. Mereka berdua memang tak bisa dipisahkan. Sehari-hari Sing Kie melakukan segala sesuatu bersama dengan ibunya. ”Kalau saya tinggal, belum ada satu menit sudah teriak-teriak. Nyariin,” ucap Sing Kie.



Dalam usia senja, maklum saja jika perilaku Lou Giok Bi sudah banyak berubah. Sudah seperti anak kecil. Susah bicara dan mendengar. Selalu ingin ditemani dan banyak merengek. Sing Kie tak boleh hilang walau hanya sekedipan mata. Kalau pergi sebentar saja, si ibu bisa teriak-teriak. Marah. Juga menangis.



Kalau sedang ada urusan ke luar rumah, Sing Kie selalu tampak terburu-buru. Dia sangat paham suara tangisan ibunya. Bahkan, ketika pintu belum sepenuhnya tertutup karena ditinggal keluar, si ibu kembali memanggil.



Sebelum sang ibu bertambah parah, dia pun langsung menyahut. ”Ya sebentar. Baru pipis,” teriaknya sambil sedikit berlari kembali ke rumah. Sesampainya, dia langsung menggenggam tangan si ibu yang menangis atau berteriak. 

Editor: Thomas Kukuh
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore